بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 13
Hakikat Berbagai
“Mukjizat” Nabi Musa a.s. yang
Dianggap Sihir oleh Fir’aun & Hakikat “Terbelahnya Laut”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai makna sanah yang merupakan mufrad (bentuk tunggal) dari kata sinīn, maknanya
peredaran bumi di sekitar matahari. Kata itu sama artinya dengan ām (dan
juga dengan haul), tetapi kalau tiap sanah itu ām maka tidak tiap-tiap ām itu sanah. Dikatakan juga bahwa sanah
itu lebih panjang dari aam yang dikenakan kepada kedua belas bulan
penanggalan Arab secara kolektif, tetapi sanah itu dikenakan juga kepada
dua belas peredaran bulan, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اَخَذۡنَاۤ اٰلَ فِرۡعَوۡنَ
بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ قَالُوۡا
لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ
اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ
لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik dan
kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu
apabila datang kepada mereka kemakmuran,
mereka berkata: “Ini karena upaya kami.” وَ اِنۡ
تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ -- tetapi jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang
besertanya. اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ
لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ
فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau
bawa kepada kami untuk menyihir kami
dengannya, tetapi kami
sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).
Berbagai Macam Hukuman Allah Swt. kepada Fir’aun
Menurut
Imam Raghib, sanah digunakan sebagai menyatakan tahun yang dilanda musim sukar, kekeringan air, atau gersang atau
paceklik; dan ām menyatakan satu
tahun yang mendatangkan banyaknya sumber-sumber
kehidupan dengan berlimpah-limpahnya sayur-mayur, tumbuh-tumbuhan, dan
sebangsanya. Sanah berarti juga kekeringan.
Ayat itu menyebut tentang kerugian jiwa
dan harta-benda.
Jadi, menurut Allah Swt. berbagai peristiwa buruk yang menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir
merupakan hukuman Allah Swt., untuk memperingatkan
mereka, tetapi Fir’aun – sebagaimana halnya
para pemuka kaum-kaum purbakala yang diazab
Allah Swt. karena kejahilannya -- malah
menisbahkan penyebab terjadinya
berbagai keburukan atau kesialan
tersebut adalah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.: وَ اِنۡ
تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ
یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ --
tetapi jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang yang besertanya.” Kata tha’ir berarti: alamat, pertanda baik atau buruk,
nasib malang atau kesialan (Lexicon
Lane).
Dari
ayat selanjutnya diketahui bahwa hukuman
Allah Swt. atau azab Ilahi yang
menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir
bermacam-macam bentuknya, namun demikian tidak juga membuat mereka mengambil pelajaran dari berbagai bentuk hukuman Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ
وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ
اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ
قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ
لَنُؤۡمِنَنَّ لَکَ وَ لَنُرۡسِلَنَّ مَعَکَ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ
ہُمۡ بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu
Kami mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas,
tetapi mereka berlaku sombong
dan mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا
وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا
عَہِدَ عِنۡدَکَ -- dan
tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata:
“Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai dengan apa yang Dia janjikan kepada engkau. وَ لَمَّا
وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا
عَہِدَ عِنۡدَکَ –
jika engkau benar-benar dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami,
pasti kami akan beriman kepada engkau
dan pasti kami akan mengirim-kan Bani
Israil pergi bersama engkau.” فَلَمَّا
کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ
بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan
itu dari mereka hingga suatu jangka
waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).
Fir’aun Selalu Mengingkari Janji
Bible menyebutkan 10 tanda (mukjizat) di samping tanda-tanda berupa mukjizat
tongkat dan tangan putih (Keluaran
bab-bab 7-11). Bible agaknya telah menceritakan Tanda-tanda itu dengan cara berlebihan. Kata ajal
dalam ayat فَلَمَّا
کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ
بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan
itu dari mereka hingga suatu jangka
waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji”, berarti “jangka
waktu” dan juga “akhir jangka waktu”
(QS.2:232; QS.7:35-37).
Azab Ilahi itu telah disingkirkan Allah Swt. untuk sesaat, guna memberikan kesempatan kepada Fir’aun untuk bertobat dan memenuhi permintaan (doa) Nabi Musa a.s., tetapi dalam kenyataannya Fir’aun selalu mengingkari janjinya kepada Nabi Musa
a.s..
Memang demikianlah sikap buruk atau sikap ingkar
janji yang umumnya dilakukan oleh manusia, dan khususnya oleh para penentang para rasul Allah (QS.6:64-65; QS.10:23-24; QS.17:68-70; QS.29:66-67; QS.31:32-33),
firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا صُمٌّ
وَّ بُکۡمٌ فِی الظُّلُمٰتِ ؕ
مَنۡ یَّشَاِ اللّٰہُ یُضۡلِلۡہُ ؕ وَ مَنۡ یَّشَاۡ یَجۡعَلۡہُ
عَلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾ قُلۡ
اَرَءَیۡتَکُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ عَذَابُ اللّٰہِ اَوۡ اَتَتۡکُمُ
السَّاعَۃُ اَغَیۡرَ اللّٰہِ تَدۡعُوۡنَ ۚ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ بَلۡ اِیَّاہُ
تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ اِنۡ شَآءَ وَ تَنۡسَوۡنَ مَا تُشۡرِکُوۡنَ
﴿٪﴾
Dan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda
Kami mereka itu tuli dan bisu, mereka berada
dalam berbagai kegelapan. Barangsiapa yang dikehendaki Allah Dia akan
menyesatkannya, dan barangsiapa yang
dikehendaki-Nya Dia akan menjadikannya
berada di atas jalan yang lurus. قُلۡ اَرَءَیۡتَکُمۡ اِنۡ
اَتٰىکُمۡ عَذَابُ اللّٰہِ اَوۡ اَتَتۡکُمُ السَّاعَۃُ اَغَیۡرَ اللّٰہِ تَدۡعُوۡنَ ۚ اِنۡ کُنۡتُمۡ
صٰدِقِیۡنَ -- Katakanlah: “Bagaimanakah pendapat kamu jika azab Allah datang kepada kamu atau
jika Saat itu datang kepada kamu, apakah kamu akan menyeru yang bukan-Allah,
jika sungguh kamu orang-orang yang benar?”
بَلۡ
اِیَّاہُ تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا
تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ اِنۡ شَآءَ وَ
تَنۡسَوۡنَ مَا تُشۡرِکُوۡنَ -- Tidak,
bahkan hanya Dia-lah yang kamu akan seru, maka jika Dia menghendaki Dia akan menghilangkan apa yang kamu berseru kepada-Nya, dan kamu akan melupakan apa yang kamu sekutukan
dengan-Nya. (An-An’ām [6]:40-42).
Kata-kata: kamu akan melupakan apa yang
kamu sekutukan, secara harfiah genap pada hari jatuhnya Mekkah. Pada hari
itu orang-orang Mekkah kehilangan
kepercayaan mereka sama sekali kepada tuhan-tuhan
mereka seperti Abu Sufyan dan Hindun, istrinya, dan lain-lainnya telah
mengakui terus terang di hadapan Nabi Besar Muhammad saw.. Akhirnya, kemusyrikan sama sekali lenyap dari tanah Arab.
Sunnatullah yang Berulang Terjadi &
Makna Pemotongan “Akar” Suatu Kaum
Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
Sunnatullah yang selalu berulang
tersebut:
وَ لَقَدۡ
اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰۤی اُمَمٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَاَخَذۡنٰہُمۡ
بِالۡبَاۡسَآءِ وَ الضَّرَّآءِ لَعَلَّہُمۡ یَتَضَرَّعُوۡنَ ﴿﴾ فَلَوۡلَاۤ اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ
لٰکِنۡ قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ
لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا نَسُوۡا مَا
ذُکِّرُوۡا بِہٖ فَتَحۡنَا
عَلَیۡہِمۡ اَبۡوَابَ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰہُمۡ بَغۡتَۃً فَاِذَا ہُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ ﴿﴾ فَقُطِعَ دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ؕ وَ
الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami
menghukum mereka dengan kemiskinan
dan kesusahan supaya mereka merendahkan diri. فَلَوۡلَاۤ اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ
لٰکِنۡ قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ
لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ -- lalu
mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika datang kepadanya azab Kami, bahkan hati
mereka semakin keras dan syaitan
menampakkan indah kepada mereka apa yang senantiasa mereka kerjakan.
فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُکِّرُوۡا
بِہٖ فَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ اَبۡوَابَ کُلِّ شَیۡءٍ -- aka tatkala mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepadanya,
lalu Kami membukakan untuk mereka
pintu-pintu segala sesuatu, حَتّٰۤی
اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ اُوۡتُوۡۤا
اَخَذۡنٰہُمۡ بَغۡتَۃً فَاِذَا ہُمۡ
مُّبۡلِسُوۡنَ -- hingga
apabila mereka bergembira dengan apa
yang diberikan kepada mereka, Kami menghukum mereka dengan tiba-tiba,
maka seketika itu juga mereka
berputus-asa. فَقُطِعَ دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ
ظَلَمُوۡا ؕ وَ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- maka dipotonglah akar-akar dari kaum yang zalim itu, dan segala
puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh
alam. (An-An’ām [6]:43-46).
Kata-kata lau lā dalam ayat فَلَوۡلَاۤ اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ
لٰکِنۡ قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ
لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ مَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ -- “lalu
mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika datang kepadanya azab Kami, bahkan hati
mereka semakin keras dan syaitan
menampakkan indah kepada mereka apa yang senantiasa mereka kerjakan”
tidak digunakan untuk menyatakan pertanyaan belaka, melainkan juga
sebagai cetusan rasa kasihan. Dengan
demikian ayat ini berarti, “Seharusnya
mereka merendahkan diri di hadapan Allah Swt. tetapi sayang
mereka tidak berbuat demikian.”
Dābir dalam ayat فَقُطِعَ دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ؕ وَ
الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- maka dipotonglah akar-akar dari kaum yang zalim itu, dan segala
puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh
alam” berarti: sisa-sisa terakhir
satu kaum; akar, asal keturunan, turunan bangsa, atau sejenisnya.
Jadi, kata-kata quthi’a
dābirulqaum berarti (1) Kaum itu punah
sama sekali. (2) Pemimpin-pemimpin
kaum itu binasa seperti sebatang pohon ditebang
sampai ke akar-akarnya. (3) Pengikut pemimpin-pemimpin
itu cerai-berai yakni, pemimpin-pemimpin
itu kehilangan kekuasaan politik
mereka; sebab, pada kekuatan pengikut-pengikut merekalah bergantung kekuasaan politik pemimpin-pemimpin
mereka, firman-Nya:
فَانۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ فِی الۡیَمِّ بِاَنَّہُمۡ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ کَانُوۡا عَنۡہَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ مَشَارِقَ
الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا ؕ وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ
وَ قَوۡمُہٗ وَ مَا کَانُوۡا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿﴾
Maka Kami menuntut balas dari mereka dan
Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut,
karena sesungguhnya mereka mendustakan
Tanda-tanda Kami dan mereka
senantiasa lalai terhadapnya. وَ
اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ الَّذِیۡنَ
کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ مَشَارِقَ الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا -- Dan Kami
menjadikan kaum yang senantiasa dipandang lemah itu pewaris bumi sebelah timur
dan sebelah baratnya yang
di dalamnya Kami berkati. وَ تَمَّتۡ
کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا -- dan sempurnalah firman yakni janji Rabb (Tuhan) engkau yang baik
terhadap Bani Israil karena mereka bersabar, وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ وَ مَا کَانُوۡا یَعۡرِشُوۡنَ -- dan
Kami menghancurkan apa pun yang telah dibuat oleh Fir’aun
serta kaumnya dan apa pun yang telah mereka bangun. (Al-‘Arāf [7]:137-138).
Hakikat “Terbelahnya Laut”
Kata-kata, bumi sebelah timur dan sebelah
baratnya, dimaksudkan menurut muhawarah bahasa (idiom) Arab adalah “seluruh
negeri”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَدَعَا
رَبَّہٗۤ اَنَّ ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمٌ مُّجۡرِمُوۡنَ ﴿ؓ﴾ فَاَسۡرِ بِعِبَادِیۡ لَیۡلًا اِنَّکُمۡ
مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ
مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ کَمۡ تَرَکُوۡا مِنۡ
جَنّٰتٍ وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
زُرُوۡعٍ وَّ مَقَامٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ وَّ نَعۡمَۃٍ
کَانُوۡا فِیۡہَا فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾ کَذٰلِکَ ۟ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا
اٰخَرِیۡنَ﴿﴾ فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ
نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنَ الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ۙ﴾ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ
الۡمُسۡرِفِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia,
Musa, berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): "Sesungguhnya mereka
ini kaum berdosa." Allah berfirman: "Maka berjalanlah
dengan hamba-hamba-Ku pada waktu malam sesungguhnya kamu akan dikejar, وَ اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ
اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ -- dan tinggalkanlah laut itu ketika tenang,
sesungguhnya mereka lasykar yang akan
ditenggelamkan." وَ
اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ
جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ -- berapa banyaknya kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air, dan ladang-ladang serta tempat-tempat
mulia, dan nikmat-nikmat yang
dahulu mereka di dalamnya
bersenang-senang. کَذٰلِکَ ۟
وَ اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا اٰخَرِیۡنَ -- Demikianlah, dan Kami mewariskannya
kepada kaum lain. فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak menangisi mereka langit dan bumi, dan mereka
sekali-kali tidak pula diberi tangguh.
وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنَ الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- Dan sungguh Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani
Israil dari azab yang menghinakan مِنۡ
فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ -- dari Fir’aun, sesungguhnya ia
adalah orang yang sombong dan termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Ad-Dukhān [44]:23-32).
Rahw
itu berasal dari raha. Orang berkata: raha baina rijlaihi, artinya
“ia merenggangkan kedua belah kakinya dan membuat lubang di antara keduanya”; raha
al-bahru berarti, “laut menjadi diam dan tenang”. Rahw berarti
tenang; tidak bergerak; tempat lebih rendah; tempat air berkumpul; suatu bidang
tanah yang tinggi dan rata (Lexicon Lane).
Ketika
Nabi Musa a.s. dan orang-orang Bani
Israil tiba di ujung utara Laut Merah, pasang
telah mulai surut. Karena air laut surut
maka meninggalkan gundukan batu karang
yang puncaknya lambat laun muncul serta
membiarkan kerendahan-kerendahan di antaranya digenangi air, pada saat itulah orang-orang Bani Israil menyeberang. Lihat pula QS.20:78.
Jadi, tidak benar anggapan bahwa bagaikan perbuatan “tukang sulap” ketika Nabi Musa a.s. diperintahkan Allah Swt.
memukulkan atau mengarahkan tongkatnya pada air
laut lalu tiba-tiba air laut tersibak
ke kiri dan kanan lalu membentuk
sebuah jalan, yang melaluinya Nabi
Musa a.s. dan Bani Israil menyebrangi laut merah.
Kemudian ketika Fir’aun dan pasukannya
mengejar Nabi Musa a.s. melalui jalan yang sama, tiba-tiba laut kembali menyatu setelah Nabi Musa a.s. melakukan yang sama dengan tongkat beliau, sehingga mengakibatkan Fir’aun dan balatentaranya tenggelam.
Jadi, sebagaimana halnya Fir’aun menganggap semua mukjizat-mukjizat
Nabi Musa a.s. sebagai sesuatu yang bersifat
alami yang erat hubungannya dengan peritiwa alam atau hukum alam yang sering terjadi, itulah sebabnya Fir’aun selalu mengingkari
janjinya kepada Nabi Musa.a.s., demikian pula pada hakikatnya peristiwa “terbelahnya laut” pun erat pula
kaitannya dengan “hukum alam” berupa
terjadinya peristiwa pasang-surut air laut.
Definisi “Mukjizat”
Ada pun kemudian peristiwa-peristiwa yang bersifat
alami tersebut oleh Allah Swt. dikatakan sebagai mukjizat adalah karena berhubungan dengan dengan adanya pendakwaan atau pernyataan
berkenaan dengan peristiwa-peristiwa
yang bersifat alami tersebut.
Contohnya, jika ada seseorang yang mendakwakan bahwa dirinya adalah utusan (rasul) Allah, lalu mengatakan bahwa sebagai tanda kebenaran pendakwaannya
tersebut ia mengatakan – misalnya -- “Besok hari,
kalian tidak akan melihat terbitnya dan
terbenamnya matahari”, lalu hal tersebut terjadi, disebabkan terjadinya peristiwa alam lainnya yang tidak
biasa (yang khusus) pada hari yang sama, misalnya pada malam harinya terjadi letusan gunung berapi yang debu
vulkaniknya memenuhi angkasa, sehingga menyebabkan terbit
dan terbenamnya matahari tidak
kelihatan, maka pendakwaannya atau apa yang diucapannya
tersebut termasuk mukjizat.
Dengan demikian, jelaslah bahwa sesuatu yang terjadi -- walau pun bukan
sesuatu peristiwa yang spektakuler (luar biasa) -- dapat
disebut mukjizat, jika sebelumnya terdapat pendakwaan dari orang yang
mengatakannya. Itulah sebabnya
sehubungan dengan berbagai peristiwa
alam yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, Allah Swt. telah menyebutkan
sebagai mukjizat-mukjizat Nabi Musa
a.s. karena ada dampak
lain yang terjadi yang berbeda dengan peristiwa-peristiwa alami yang sama, firman-Nya:
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ
وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ
اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ
قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَکَ
وَ لَنُرۡسِلَنَّ مَعَکَ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ
ہُمۡ بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu Kami
mengirimkan
kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas, tetapi mereka berlaku
sombong dan mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ
الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی
ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ -- dan tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami
kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai
dengan apa yang Dia janjikan kepada
engkau. وَ لَمَّا
وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا
عَہِدَ عِنۡدَکَ –
jika engkau benar-benar dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami,
pasti kami akan beriman kepada engkau
dan pasti kami akan mengirimkan Bani
Israil pergi bersama engkau.” فَلَمَّا
کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ
بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan
itu dari mereka hingga suatu jangka
waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).
Firman-Nya berikut ini menjelaskan makna
dari kalimat “Lalu Kami mengirimkan
kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas”:
وَ لَقَدۡ
اَخَذۡنَاۤ اٰلَ فِرۡعَوۡنَ
بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ قَالُوۡا
لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ
اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ
لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik dan
kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu
apabila datang kepada mereka kemakmuran,
mereka berkata: “Ini karena upaya kami.” وَ اِنۡ
تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّطَّیَّرُوۡا
بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ -- tetapi
jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang yang besertanya. اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ
لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ
فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau
bawa kepada kami untuk menyihir kami
dengannya, tetapi kami
sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar