Jumat, 26 Desember 2014

Hakikat Berbagai "Mukjizat" Nabi Musa a.s. yang Dianggap "Sihir" oleh Fir'aun & Hakikat "Terbelahnya Laut"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 13

Hakikat   Berbagai  Mukjizat” Nabi Musa a.s. yang Dianggap Sihir  oleh Fir’aun & Hakikat “Terbelahnya Laut


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  makna sanah yang merupakan mufrad (bentuk  tunggal) dari kata sinīn, maknanya peredaran bumi di sekitar matahari. Kata itu sama artinya dengan ām (dan juga dengan haul), tetapi kalau tiap sanah itu  ām maka tidak tiap-tiap  ām itu sanah. Dikatakan juga bahwa sanah itu lebih panjang dari aam yang dikenakan kepada kedua belas bulan penanggalan Arab secara kolektif, tetapi sanah itu dikenakan juga kepada dua belas peredaran bulan, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَخَذۡنَاۤ  اٰلَ فِرۡعَوۡنَ بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ  قَالُوۡا  لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik  dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini  karena upaya kami.”  وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ   -- tetapi   jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab  kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ  -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka  ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, tetapi   kami sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).

Berbagai Macam Hukuman Allah Swt. kepada Fir’aun

       Menurut Imam Raghib, sanah digunakan sebagai menyatakan tahun yang dilanda musim sukar, kekeringan air, atau gersang atau paceklik; dan  ām menyatakan satu tahun yang mendatangkan banyaknya sumber-sumber kehidupan dengan berlimpah-limpahnya sayur-mayur, tumbuh-tumbuhan, dan sebangsanya. Sanah berarti juga kekeringan. Ayat itu menyebut tentang kerugian jiwa dan harta-benda.
       Jadi, menurut Allah Swt. berbagai peristiwa buruk yang menimpa Fir’aun dan  kaumnya di Mesir merupakan hukuman Allah Swt.,  untuk memperingatkan mereka,  tetapi Fir’aun – sebagaimana halnya para pemuka kaum-kaum purbakala  yang diazab Allah Swt. karena kejahilannya -- malah menisbahkan penyebab terjadinya berbagai keburukan  atau kesialan tersebut adalah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.:  وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ   -- tetapi   jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab  kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.”  Kata tha’ir  berarti: alamat, pertanda baik atau buruk, nasib malang atau kesialan (Lexicon Lane).
       Dari ayat selanjutnya  diketahui  bahwa hukuman Allah Swt. atau azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir bermacam-macam bentuknya, namun demikian tidak juga membuat mereka mengambil pelajaran dari   berbagai bentuk hukuman Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
 فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ  اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا  قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ  لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ  لَکَ  وَ لَنُرۡسِلَنَّ  مَعَکَ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ  فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu Kami   mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas, tetapi mereka berlaku sombong dan   mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ --  dan  tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai dengan apa yang Dia  janjikan kepada engkau.  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ  – jika engkau benar-benar  dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami, pasti kami akan beriman kepada engkau dan pasti kami akan mengirim-kan Bani Israil pergi bersama engkau.فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan itu dari mereka hingga suatu jangka waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).

Fir’aun Selalu Mengingkari Janji

       Bible menyebutkan 10 tanda (mukjizat) di samping tanda-tanda berupa  mukjizat tongkat dan tangan putih (Keluaran bab-bab 7-11). Bible agaknya telah menceritakan Tanda-tanda itu dengan cara berlebihan. Kata    ajal  dalam ayat  فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan itu dari mereka hingga suatu jangka waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji”,   berarti “jangka waktu” dan juga “akhir jangka waktu” (QS.2:232; QS.7:35-37).
      Azab Ilahi itu telah disingkirkan Allah Swt. untuk sesaat, guna memberikan kesempatan kepada Fir’aun untuk bertobat dan memenuhi permintaan (doa) Nabi Musa a.s.,  tetapi dalam kenyataannya Fir’aun selalu mengingkari janjinya kepada Nabi Musa a.s..  
     Memang demikianlah sikap buruk atau sikap ingkar janji  yang umumnya dilakukan oleh manusia, dan khususnya oleh para penentang para rasul Allah (QS.6:64-65; QS.10:23-24; QS.17:68-70; QS.29:66-67; QS.31:32-33), firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا صُمٌّ  وَّ بُکۡمٌ  فِی الظُّلُمٰتِ ؕ مَنۡ  یَّشَاِ اللّٰہُ  یُضۡلِلۡہُ ؕ وَ مَنۡ یَّشَاۡ  یَجۡعَلۡہُ  عَلٰی  صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾  قُلۡ  اَرَءَیۡتَکُمۡ   اِنۡ  اَتٰىکُمۡ عَذَابُ اللّٰہِ اَوۡ اَتَتۡکُمُ السَّاعَۃُ  اَغَیۡرَ اللّٰہِ تَدۡعُوۡنَ ۚ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  بَلۡ اِیَّاہُ  تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ  اِنۡ شَآءَ وَ تَنۡسَوۡنَ مَا تُشۡرِکُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami  mereka itu tuli dan bisu, mereka berada dalam berbagai kegelapan. Barangsiapa yang dikehendaki Allah Dia akan menyesatkannya, dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya Dia akan menjadikannya berada di atas  jalan  yang lurus.  قُلۡ  اَرَءَیۡتَکُمۡ   اِنۡ  اَتٰىکُمۡ عَذَابُ اللّٰہِ اَوۡ اَتَتۡکُمُ السَّاعَۃُ  اَغَیۡرَ اللّٰہِ تَدۡعُوۡنَ ۚ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  صٰدِقِیۡنَ  -- Katakanlah:  “Bagaimanakah pendapat kamu jika azab Allah datang kepada kamu atau jika Saat  itu datang kepada kamu, apakah kamu akan menyeru yang bukan-Allah, jika sungguh kamu orang-orang yang benar?” بَلۡ اِیَّاہُ  تَدۡعُوۡنَ فَیَکۡشِفُ مَا تَدۡعُوۡنَ اِلَیۡہِ  اِنۡ شَآءَ وَ تَنۡسَوۡنَ مَا تُشۡرِکُوۡنَ  --  Tidak,   bahkan hanya Dia-lah yang kamu akan seru, maka jika Dia menghendaki Dia akan  menghilangkan  apa yang kamu berseru kepada-Nya, dan kamu akan melupakan apa yang kamu sekutukan dengan-Nya. (An-An’ām [6]:40-42).
        Kata-kata: kamu akan melupakan apa yang kamu sekutukan, secara harfiah genap pada hari jatuhnya Mekkah. Pada hari itu orang-orang Mekkah kehilangan kepercayaan mereka sama sekali kepada tuhan-tuhan mereka seperti Abu Sufyan dan Hindun, istrinya, dan lain-lainnya telah mengakui terus terang di hadapan Nabi Besar Muhammad saw.. Akhirnya, kemusyrikan sama sekali lenyap dari tanah Arab.

Sunnatullah yang Berulang Terjadi &  Makna Pemotongan    Akar” Suatu Kaum

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai Sunnatullah yang selalu berulang tersebut:
 وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰۤی  اُمَمٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِالۡبَاۡسَآءِ وَ الضَّرَّآءِ لَعَلَّہُمۡ یَتَضَرَّعُوۡنَ ﴿﴾ فَلَوۡلَاۤ  اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ لٰکِنۡ  قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  مَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا نَسُوۡا مَا  ذُکِّرُوۡا بِہٖ  فَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ  اَبۡوَابَ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ  اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰہُمۡ بَغۡتَۃً  فَاِذَا ہُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ ﴿﴾ فَقُطِعَ   دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ؕ وَ الۡحَمۡدُ  لِلّٰہِ  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar  telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu  Kami menghukum mereka dengan kemiskinan dan kesusahan supaya mereka merendahkan diri. فَلَوۡلَاۤ  اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ لٰکِنۡ  قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  مَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ --  lalu   mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika datang kepadanya azab Kamibahkan  hati mereka semakin keras dan  syaitan menampakkan indah kepada mereka apa yang senantiasa mereka  kerjakan.  فَلَمَّا نَسُوۡا مَا  ذُکِّرُوۡا بِہٖ  فَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ  اَبۡوَابَ کُلِّ شَیۡءٍ --   aka tatkala  mereka melupakan  apa yang telah diperingatkan kepadanya, lalu Kami membukakan untuk mereka pintu-pintu segala sesuatu, حَتّٰۤی  اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ  اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰہُمۡ بَغۡتَۃً  فَاِذَا ہُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ  -- hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka,  Kami menghukum mereka dengan tiba-tiba, maka seketika itu juga mereka berputus-asa. فَقُطِعَ   دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ؕ وَ الۡحَمۡدُ  لِلّٰہِ  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   maka dipotonglah akar-akar  dari kaum yang zalim  itu, dan segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam. (An-An’ām [6]:43-46).
       Kata-kata lau lā dalam ayat فَلَوۡلَاۤ  اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ لٰکِنۡ  قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  مَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ --  “lalu   mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika datang kepadanya azab Kami,   bahkan  hati mereka semakin keras dan  syaitan menampakkan indah kepada mereka apa yang senantiasa mereka  kerjakan    tidak digunakan untuk menyatakan pertanyaan belaka, melainkan juga sebagai cetusan rasa kasihan. Dengan demikian ayat ini berarti, “Seharusnya mereka merendahkan diri di hadapan  Allah Swt.    tetapi sayang mereka tidak berbuat demikian.”
        Dābir dalam   ayat فَقُطِعَ   دَابِرُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ؕ وَ الۡحَمۡدُ  لِلّٰہِ  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   maka dipotonglah akar-akar  dari kaum yang zalim  itu, dan segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”  berarti: sisa-sisa terakhir satu kaum; akar, asal keturunan, turunan bangsa, atau sejenisnya.
     Jadi, kata-kata quthi’a dābirulqaum berarti (1) Kaum itu punah sama sekali. (2) Pemimpin-pemimpin kaum itu binasa seperti sebatang pohon ditebang sampai ke akar-akarnya. (3) Pengikut pemimpin-pemimpin itu cerai-berai yakni, pemimpin-pemimpin itu kehilangan kekuasaan politik mereka; sebab, pada kekuatan pengikut-pengikut merekalah bergantung kekuasaan politik pemimpin-pemimpin mereka,  firman-Nya:
 فَانۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  فِی الۡیَمِّ بِاَنَّہُمۡ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ کَانُوۡا عَنۡہَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ  الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ  مَشَارِقَ  الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ  بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا ؕ وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ  وَ مَا کَانُوۡا  یَعۡرِشُوۡنَ ﴿﴾
Maka  Kami  menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut, karena sesungguhnya mereka mendustakan Tanda-tanda Kami dan mereka senantiasa lalai terhadapnya. وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ  الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ  مَشَارِقَ  الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ  بٰرَکۡنَا فِیۡہَا --  Dan  Kami menjadikan kaum yang senantiasa dipandang lemah itu pewaris bumi sebelah timur dan sebelah baratnya yang di dalamnya Kami berkati.  وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا  -- dan sempurnalah firman yakni janji Rabb (Tuhan) engkau yang  baik terhadap Bani Israil karena mereka bersabar, وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ  وَ مَا کَانُوۡا  یَعۡرِشُوۡنَ  -- dan  Kami menghancurkan  apa pun yang telah dibuat oleh Fir’aun serta kaumnya dan apa pun yang telah  mereka bangun. (Al-‘Arāf [7]:137-138).

Hakikat “Terbelahnya Laut

     Kata-kata, bumi sebelah timur dan sebelah baratnya, dimaksudkan menurut muhawarah bahasa (idiom) Arab  adalah “seluruh negeri”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَدَعَا رَبَّہٗۤ  اَنَّ ہٰۤؤُلَآءِ  قَوۡمٌ مُّجۡرِمُوۡنَ ﴿ؓ﴾  فَاَسۡرِ بِعِبَادِیۡ لَیۡلًا اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾   وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ کَمۡ  تَرَکُوۡا مِنۡ جَنّٰتٍ  وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  زُرُوۡعٍ  وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  نَعۡمَۃٍ  کَانُوۡا فِیۡہَا  فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾  کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ﴿﴾  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾  وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ  مِنَ الۡعَذَابِ  الۡمُہِیۡنِ ﴿ۙ﴾  مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia, Musa, berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): "Sesungguhnya mereka ini kaum berdosa."   Allah berfirman: "Maka berjalanlah  dengan hamba-hamba-Ku pada waktu malam sesungguhnya kamu akan dikejar, وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ -- dan tinggalkanlah laut itu ketika tenang,  sesungguhnya mereka  lasykar yang akan ditenggelamkan." وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ  --  berapa banyaknya   kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air,  dan ladang-ladang serta tempat-tempat mulia,  dan nikmat-nikmat yang dahulu mereka di dalamnya bersenang-senang. کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ  --  Demikianlah,  dan Kami mewariskannya kepada kaum lain.  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak  menangisi mereka langit dan bumi, dan  mereka sekali-kali tidak pula   diberi tangguh. وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ  مِنَ الۡعَذَابِ  الۡمُہِیۡنِ --    Dan  sungguh Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani Israil dari azab yang menghinakan  مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ  --   dari Fir’aun, sesungguhnya ia adalah orang yang sombong dan termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Ad-Dukhān [44]:23-32).
  Rahw itu berasal dari raha. Orang berkata: raha baina rijlaihi, artinya “ia merenggangkan kedua belah kakinya dan membuat lubang di antara keduanya”; raha al-bahru berarti, “laut menjadi diam dan tenang”. Rahw berarti tenang; tidak bergerak; tempat lebih rendah; tempat air berkumpul; suatu bidang tanah yang tinggi dan rata (Lexicon Lane).
   Ketika Nabi Musa a.s. dan orang-orang Bani Israil tiba di ujung utara Laut Merah, pasang telah mulai surut. Karena air laut surut maka meninggalkan gundukan batu karang yang puncaknya lambat laun muncul serta  membiarkan kerendahan-kerendahan di antaranya digenangi air, pada saat itulah orang-orang Bani Israil menyeberang. Lihat pula QS.20:78.
 Jadi, tidak benar anggapan bahwa bagaikan perbuatan “tukang sulap” ketika Nabi Musa a.s. diperintahkan Allah Swt. memukulkan atau mengarahkan  tongkatnya  pada air laut lalu tiba-tiba air laut tersibak ke kiri dan kanan  lalu membentuk sebuah  jalan,  yang melaluinya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil menyebrangi laut merah.
  Kemudian ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa a.s.  melalui jalan yang sama, tiba-tiba laut kembali menyatu setelah Nabi Musa a.s. melakukan yang sama dengan tongkat beliau, sehingga mengakibatkan Fir’aun dan balatentaranya tenggelam.
    Jadi, sebagaimana halnya Fir’aun menganggap semua  mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. sebagai sesuatu yang bersifat alami   yang erat hubungannya dengan peritiwa alam atau hukum alam yang sering terjadi, itulah sebabnya Fir’aun selalu mengingkari janjinya kepada Nabi Musa.a.s., demikian pula pada hakikatnya peristiwa “terbelahnya laut” pun erat pula kaitannya dengan “hukum alam” berupa terjadinya  peristiwa pasang-surut  air laut.

Definisi “Mukjizat

    Ada pun kemudian peristiwa-peristiwa yang bersifat alami tersebut oleh Allah Swt. dikatakan sebagai mukjizat adalah  karena berhubungan dengan dengan adanya pendakwaan  atau pernyataan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat alami tersebut.
    Contohnya, jika ada seseorang yang mendakwakan bahwa dirinya adalah utusan (rasul) Allah, lalu mengatakan bahwa sebagai tanda kebenaran pendakwaannya tersebut ia mengatakan – misalnya --  Besok hari,     kalian tidak akan  melihat terbitnya  dan  terbenamnya matahari”,  lalu  hal tersebut  terjadi, disebabkan terjadinya peristiwa alam lainnya yang tidak biasa (yang khusus) pada hari yang sama, misalnya  pada malam harinya  terjadi letusan gunung berapi yang  debu vulkaniknya  memenuhi angkasa, sehingga menyebabkan terbit dan terbenamnya matahari tidak kelihatan,   maka  pendakwaannya atau  apa yang diucapannya tersebut termasuk  mukjizat.
    Dengan demikian, jelaslah bahwa sesuatu yang terjadi -- walau pun bukan sesuatu  peristiwa yang spektakuler (luar biasa) -- dapat disebut mukjizat, jika  sebelumnya terdapat pendakwaan  dari orang yang mengatakannya. Itulah sebabnya  sehubungan dengan berbagai peristiwa alam yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, Allah Swt. telah menyebutkan sebagai mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s.  karena ada dampak lain  yang terjadi yang berbeda dengan peristiwa-peristiwa alami yang sama, firman-Nya:
 فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ  اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا  قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ  لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ  لَکَ  وَ لَنُرۡسِلَنَّ  مَعَکَ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ  فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu Kami   mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas, tetapi mereka berlaku sombong dan   mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ --  dan tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai dengan apa yang Dia  janjikan kepada engkau.  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ  – jika engkau benar-benar  dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami, pasti kami akan beriman kepada engkau dan pasti kami akan mengirimkan Bani Israil pergi bersama engkau.فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan itu dari mereka hingga suatu jangka waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).
      Firman-Nya berikut ini menjelaskan makna dari kalimat “Lalu Kami   mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas”:
وَ لَقَدۡ اَخَذۡنَاۤ  اٰلَ فِرۡعَوۡنَ بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ  قَالُوۡا  لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik  dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini  karena upaya kami.”  وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ   -- tetapi   jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab  kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ  -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka  ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, tetapi   kami sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  25 Desember     2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar