بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 3
Berbagai Potensi yang Dimiliki Indera-indera Jasmani dan Ruhani Manusia dan Hubungannya dengan Makrifat Ilahi & Tidak
Ada Manusia yang Atheis (Tidak Bertuhan)
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. dalam buku Islami Ushul Ki Filasafi
(Falsafah Ajaran Islam) bahwa: “Antara ruh dan tubuh
manusia terdapat suatu pertalian (hubungan) sedemikian rupa dan di luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan
rahasianya.
Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian
(hubungan) itu ialah apabila kita
renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk ruh
justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari
atas dan masuk ke dalam kandungan
perempuan hamil, melainkan ruh adalah suatu nur (cahaya) yang
justru terkandung dalam nutfah (sperma/mani) secara tersembunyi dan
semakin bercahaya seiring
perkembangan tubuh (embrio).
Kalam Suci Allah Ta'ala (Al-Quran) menjelaskan
kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur
yang memang sudah terbentuk dari nutfah
di dalam rahim. Sebagaimana Dia
berfirman dalam Quran Syarif:
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا
ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, “kemudian
Kami jadikan tubuh yang berwujud dalam rahim ibu dalam bentuk lain
serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan
Maha Beberkat-lah Tuhan dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya” (Al-Mu’minūn,
15). Di dalam firman-Nya bahwa: "Kami menzahirkan lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu
juga", di situ terkandung rahasia yang sangat dalam tentang
hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian (hubungan)
yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
Isyarat
itu mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan-perbuatan jasmani
manusia, ucapan-ucapan, dan segala perbuatan thabi'i (alami)
manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di jalan-Nya
maka hal itu berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal
perbuatan yang ikhlas pun sejak
semula sudah tersembunyi suatu ruh,
sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nuthfah.
Semakin berkembang amal-amal tersebut
maka ruh pun semakin cemerlang. Dan tatkala amal-amal tersebut
sudah sempurna maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakannya
yang sempurna serta memperlihatkan wujudnya
sendiri dari sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan yang jelas.
Manakala struktur amal-amal
itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat
ia mulai
menampakkan sinarnya yang nyata.
Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam
Quran Syarif:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ
رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, “tatkala
Aku telah siap membuat struktur
dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah
meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya
bersujud kepadanya” (Al-Hijr, 30).
Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung
isyarat bahwa apabila struktur
amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut
bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta'ala sebagai datang dari
Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur tersebut baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami
kemusnahan maka cahaya Ilahi yang tadinya redup serta-merta menyala
berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud
dan tertarik kepadanya, maka segala sesuatu bersujud ketika
melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke arah itu, kecuali iblis yang
bersahabat dengan kegelapan.”
Salah seorang manusia di masa lampau yang mengalami “kelahiran ruhani” atau “peniupan
ruh” dari Allah Swt. – yakni
menerima wahyu Ilahi -- seperti itu
sehingga ditetapkan sebagai “khalifah”
Allah adalah Adam a.s. (QS.2:31-35;
QS.7:12; QS.15:30-31; QS.17:62;
QS.38:51; QS.20:117; QS.38:73-75).
Kesaksian Setiap Ruh
(Jiwa) Manusia Mengenai “Tauhid Ilahi”
Mengisyaratkan
kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. mengenai kesaksian setiap ruh
(jiwa) manusia berkenaan dengan Tauhid
Ilahi, firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا
عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا
اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil
berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” Hal
itu supaya kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا
عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- “Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.” Atau kamu mengatakan: اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh
orang-orang yang berbuat batil itu?”
وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang
haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Ayat
173 menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan
seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31).
Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan
menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi
bani Adam” maksudnya umat
dari setiap zaman yang kepada mereka rasul
Allah diutus (QS.7:35-37).
Pada hakikatnya
keadaan tiap-tiap rasul baru itulah
yang mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi,” sebab
pada masa itu manusia telah melupakan
Tauhid ilahi atau telah mengotori
Tauhil Ilahi yang tertanam dalam ruhnya
(jiwa) dengan kemusyrikan,
firman-Nya:
وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا عَبَدۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ
شَیۡءٍ نَّحۡنُ وَ لَاۤ اٰبَآؤُنَا وَ لَا حَرَّمۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ
ؕ کَذٰلِکَ فَعَلَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ فَہَلۡ عَلَی الرُّسُلِ اِلَّا الۡبَلٰغُ الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ رَّسُوۡلًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ
مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡہِ الضَّلٰلَۃُ ؕ فَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ
فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang musyrik berkata:
“Seandainya Allah menghendaki, kami
sama sekali tidak akan menyembah apa pun selain-Nya, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak
pula akan kami mengharamkan sesuatu tanpa perintah dari-Nya.”
Demikianlah yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang memusuhi kebenaran
sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas rasul-rasul
itu kecuali menyampaikan dengan jelas? Dan sungguh
Kami benar-benar telah membangkitkan dalam setiap umat seorang rasul dengan
seruan: اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ -- “Sembahlah Allah
dan jauhilah thāghūt.” Maka sebagian dari mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan sebagian dari mereka ada yang telah pasti
kesesatan atasnya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi, lalu lihatlah betapa buruk akibat orang-orang yang telah mendustakan rasul-rasul.
(An-Nahl [16]:36-37).
Surah Ad-Dahr (Al-Insān) & Tidak Ada Manusia yang Atheis (Tidak Bertuhan)
Pertanyaan اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” itu berarti pula bahwa jika Allah Swt. telah
menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian
maka betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya
yang telah ditanamkan-Nya dalam
setiap ruh (jiwa) manusia.
Dengan
demikian berdasarkan ayat اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi,” terbukti
bahwa tidak ada seorang manusia pun yang atheis (tidak bertuhan), sebagaimana yang dipercayai oleh para penganut faham Atheisme.
Sesungguhnya
karena menolak nabi mereka maka manusia
menjadi saksi terhadap diri
mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di
balik dalih bahwa mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya
atau Hari Pembalasan yang dikemukakan
rasul Allah kepada mereka (QS.10:48;
QS.13:8; QS.16:36-37; QS.35:25.
Kemunculan (pengutusan) seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari
mengemukakan dalih seperti dalam ayat
173 di atas, sebab pada saat itulah haq
(kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan
dengan terang benderang dicela, firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ -- hal itu supaya kamu
tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- “sesungguhnya
kami benar-benar lengah dari hal ini.” Atau kamu mengatakan: اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ -- ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh
orang-orang yang berbuat batil itu?”
وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang
haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Mengisyaratkan kelengkapan
sempurna berbagai kemampuan serta sarana
fisik dan ruhani yang telah
dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia itulah yang dikemukakan Allah Swt. dalam Surah Ad-Dahr atau Al-Insān
berikut ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ
الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ
نَّبۡتَلِیۡہِ فَجَعَلۡنٰہُ
سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا
ہَدَیۡنٰہُ السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ
سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Bukankah telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum nenjadi sesuatu
yang layak disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari nutfah campuran supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur, sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang
kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr
[76]:1-5).
Menjawab Ketidak Percayaan Manusia Mengenai Kehidupan Akhirat
Pertanyaan
atau pernyataan Allah Swt dalam ayat ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ
الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا -- “Bukankah
telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum menjadi sesuatu
yang layak disebut?” Merupakan jawaban Allah Swt. terhadap keraguan atau bantahan yang dikemukakan oleh orang-orang kafir mengenai adanya kehidupan di alam akhirat
yang dikemukakan rasul Allah yang dibangkitkan
dari kalangan mereka, bahwa jika dalam kenyataannya Allah Swt. berkuasa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (nirwujud – QS.19:8-10) atau pengulangan penciptaan (QS.17:50-53; QS.36:79-84), terlebih lagi jika sekedar penciptaan lanjutan dari yang sudah “ada”, contohnya adalah kehidupan akhirat, firman-Nya:
وَ خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ نَفۡسٍۭ
بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی
عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ
وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ
غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ
مِنۡۢ بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ
اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ
اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا
یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾ وَ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ
حُجَّتَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ
قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلِ اللّٰہُ یُحۡیِیۡکُمۡ
ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ
اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا
رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit dan
bumi dengan benar, supaya setiap
jiwa dibalas sesuai apa yang dia usahakan dan mereka tidak akan dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی
عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ
وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ
غِشٰوَۃً -- Pernahkan engkau merenung-kan
orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Allah menyesatkan menurut ilmu-Nya dan Dia memeterai telinganya serta
hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya?
Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا
حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ -- Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan
lain selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali
tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu." وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَظُنُّوۡنَ -- Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu, tidaklah
mereka kecuali hanya menduga-duga.
Dan apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain berkata: ائۡتُوۡا
بِاٰبَآئِنَاۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- "Datangkanlah
bapak-bapak kami jika kamu orang
benar." قُلِ اللّٰہُ یُحۡیِیۡکُمۡ
ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ
اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا
رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾ -- Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan
kamu, kemudian Dia menghimpunkan
kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada
keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah [45]:23-27).
Dahr
dalam ayat
َ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا حَیَاتُنَا
الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ -- Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan
lain selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali
tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu" berarti: (a) Waktu
semenjak permulaan dunia hingga akhirnya; sesuatu jangka waktu atau sesuatu bagian
kurun zaman; (b) nasib; (c) peristiwa penting; (d) pergantian
zaman; malapetaka; (e) kebiasaan dan sebagainya (Lexicon Lane).
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa ketika orang-orang kafir diberitahu bahwa
mereka kelak harus mempertanggungjawaban
amal perbuatan mereka di hadirat
Ilahi di akhirat, mereka menolak
mempercayai bahwa ada atau tidak ada sesuatu kehidupan semacam itu.
Kebalikannya,
malahan mereka menyangka bahwa suatu kaum mati dan kaum lain menggantikannya, dan peristiwa
itu terus berlaku hingga dengan berlalunya
masa segala zat menjadi lebur (hancur)
dan dengan demikian sama sekali menjadi binasa.
Inilah merurut mereka yang menjadi maksud
dan tujuan akhir kejadian manusia dan
tidak ada kehidupan di hari kemudian (akhirat), firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ
الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ
اُخۡرَجُ حَیًّا ﴿﴾ اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ
مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾ فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ جَہَنَّمَ
جِثِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ شِیۡعَۃٍ
اَیُّہُمۡ اَشَدُّ عَلَی
الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَحۡنُ
اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾ وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ
اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ
الظّٰلِمِیۡنَ فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾
Dan
insan (manusia) berkata: ”Apakah jika aku mati aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?" Ataukah
manusia tidak ingat bahwa Kami
telah menciptakan dia dahulu, padahal
dia tadinya bukanlah sesuatu. Maka demi Rabb
(Tuhan) engkau, niscaya Kami akan
menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut. Kemudian niscaya Kami akan memisahkan
dari tiap-tiap golongan siapa-siapa
di antara mereka yang lebih keras dalam
kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah. Lalu
sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya. Dan tidak
ada seorang pun dari antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan
Rabb (Tuhan) engkau. Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang
zalim itu berlutut di da-lamnya. (Maryam
[19]:67-73).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 16 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar