Senin, 15 Desember 2014

Berbagai Potensi Indera-indera Jasmani dan Ruhani Manusia dan Hubungannya dengan Makrifat Ilahi & Tidak Ada Manusia yang Atheis (Tidak Bertuhan)





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 3

Berbagai Potensi yang Dimiliki Indera-indera Jasmani dan Ruhani Manusia dan Hubungannya dengan Makrifat Ilahi   & Tidak Ada Manusia yang Atheis (Tidak Bertuhan)


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai penjelasan Al-Masih Mau’ud a.s. dalam buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) bahwa: “Antara  ruh dan tubuh manusia terdapat suatu pertalian (hubungan) sedemikian rupa dan  di luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan rahasianya.
       Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian (hubungan) itu  ialah apabila kita renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk  ruh  justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan perempuan hamil, melainkan ruh adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio).
     Kalam Suci Allah Ta'ala (Al-Quran) menjelaskan kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nutfah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman   dalam  Quran Syarif:
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, “kemudian Kami jadikan tubuh yang berwujud dalam rahim ibu dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Maha Beberkat-lah Tuhan dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya” (Al-Mu’minūn, 15). Di dalam firman-Nya bahwa: "Kami menzahirkan  lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga", di situ terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian (hubungan) yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
        Isyarat itu mengajarkan  kepada kita  bahwa perbuatan-perbuatan jasmani manusia, ucapan-ucapan, dan segala perbuatan thabi'i (alami) manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di  jalan-Nya  maka hal itu berkaitan dengan falsafah  Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal perbuatan yang ikhlas pun  sejak semula sudah tersembunyi suatu ruh, sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nuthfah.
       Semakin berkembang amal-amal tersebut maka ruh pun semakin cemerlang. Dan tatkala amal-amal tersebut sudah sempurna maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakannya yang sempurna serta  memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan  yang jelas.
     Manakala struktur amal-amal itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat ia  mulai  menampakkan sinarnya yang nyata.  Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam Quran Syarif:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, “tatkala Aku telah siap membuat struktur  dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya” (Al-Hijr, 30).
       Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur  amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta'ala sebagai datang dari Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur  tersebut baru siap  sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan maka cahaya Ilahi yang tadinya redup serta-merta menyala berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya, maka segala sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke  arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.”
      Salah seorang manusia  di masa lampau yang mengalami “kelahiran ruhani  atau “peniupan ruh” dari Allah Swt.    – yakni menerima wahyu Ilahi -- seperti itu sehingga ditetapkan sebagai “khalifah” Allah adalah   Adam a.s.  (QS.2:31-35; QS.7:12; QS.15:30-31;  QS.17:62; QS.38:51; QS.20:117; QS.38:73-75).

Kesaksian Setiap Ruh (Jiwa) Manusia Mengenai “Tauhid Ilahi

       Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. mengenai kesaksian setiap ruh (jiwa) manusia berkenaan dengan Tauhid Ilahi, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   Atau kamu mengatakan: اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”   وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ   -- dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175).
    Ayat 173   menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt.; dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-37).
 Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi:  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi,”  sebab pada masa itu manusia telah melupakan Tauhid ilahi  atau telah mengotori Tauhil Ilahi  yang tertanam dalam  ruhnya (jiwa) dengan kemusyrikan, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا عَبَدۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ نَّحۡنُ وَ لَاۤ اٰبَآؤُنَا وَ لَا حَرَّمۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ  کَذٰلِکَ  فَعَلَ  الَّذِیۡنَ  مِنۡ  قَبۡلِہِمۡ ۚ فَہَلۡ عَلَی الرُّسُلِ  اِلَّا الۡبَلٰغُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ  رَّسُوۡلًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡہِ  الضَّلٰلَۃُ ؕ فَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang musyrik berkata: “Seandainya Allah menghendaki,  kami sama sekali tidak akan menyembah apa pun selain-Nya, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula akan kami mengharamkan sesuatu tanpa perintah dari-Nya.” Demikianlah yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang memusuhi kebenaran sebelum mereka, maka  tidak ada kewajiban atas rasul-rasul itu  kecuali menyampaikan dengan jelas?    Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membangkitkan dalam setiap umat seorang rasul dengan seruan: اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ -- “Sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt.”  Maka sebagian dari mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan sebagian dari mereka ada yang telah pasti kesesatan atasnya.  Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu lihatlah betapa buruk akibat  orang-orang yang telah mendustakan rasul-rasul. (An-Nahl [16]:36-37).

Surah Ad-Dahr (Al-Insān) & Tidak Ada Manusia yang Atheis (Tidak Bertuhan)

 Pertanyaan  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” itu berarti pula bahwa jika Allah Swt. telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian maka betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya yang telah ditanamkan-Nya dalam setiap   ruh (jiwa) manusia.
   Dengan demikian berdasarkan ayat  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi,”    terbukti  bahwa tidak ada  seorang manusia pun yang atheis (tidak bertuhan), sebagaimana  yang dipercayai oleh para penganut faham Atheisme.
   Sesungguhnya karena menolak nabi mereka  maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan yang dikemukakan rasul Allah kepada mereka (QS.10:48; QS.13:8; QS.16:36-37; QS.35:25.
      Kemunculan (pengutusan) seorang nabi  Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela, firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ     -- hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  “sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   Atau kamu mengatakan: اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   -- ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”   وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ   -- dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175).  
     Mengisyaratkan  kelengkapan sempurna berbagai kemampuan  serta sarana fisik dan ruhani yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada  manusia itulah yang dikemukakan  Allah Swt. dalam Surah Ad-Dahr atau Al-Insān berikut ini,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum nenjadi sesuatu yang layak disebut?   Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur,  sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr [76]:1-5).

Menjawab Ketidak Percayaan Manusia  Mengenai Kehidupan  Akhirat

       Pertanyaan atau pernyataan Allah Swt dalam  ayat  ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا  --  Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum menjadi  sesuatu yang layak disebut?” Merupakan jawaban  Allah Swt. terhadap keraguan atau bantahan  yang dikemukakan oleh orang-orang kafir mengenai adanya kehidupan di alam akhirat yang  dikemukakan rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka, bahwa jika dalam kenyataannya Allah Swt. berkuasa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (nirwujud – QS.19:8-10) atau pengulangan penciptaan (QS.17:50-53; QS.36:79-84), terlebih  lagi jika sekedar penciptaan lanjutan dari yang sudah “ada”,  contohnya adalah kehidupan akhirat, firman-Nya:
وَ خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ  نَفۡسٍۭ بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ  لَا  یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ  مِنۡۢ  بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾  وَ اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ حُجَّتَہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ  قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit dan bumi dengan benar, supaya  setiap jiwa dibalas sesuai apa yang dia usahakan dan mereka tidak akan dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً   -- Pernahkan engkau  merenung-kan  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah menyesatkan  menurut ilmu-Nya  dan Dia memeterai telinganya serta  hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya? Maka siapakah yang  dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?  وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ --  Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan lain  selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu." وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ  --  Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu,  tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga.    Dan apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, tidak ada  bantahan  mereka selain berkata: ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- "Datangkanlah bapak-bapak kami jika kamu orang benar."  قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾   -- Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia  mematikan kamu, kemudian Dia menghimpunkan kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah [45]:23-27).
    Dahr  dalam ayat  َ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ --  Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan lain  selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu" berarti: (a) Waktu semenjak permulaan dunia hingga akhirnya; sesuatu jangka waktu atau sesuatu bagian kurun zaman; (b) nasib; (c) peristiwa penting; (d) pergantian zaman; malapetaka; (e) kebiasaan dan sebagainya (Lexicon Lane).
    Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa ketika orang-orang kafir diberitahu bahwa mereka kelak harus   mempertanggungjawaban   amal perbuatan mereka di  hadirat Ilahi di akhirat, mereka menolak mempercayai bahwa ada atau tidak ada sesuatu kehidupan semacam itu.
     Kebalikannya, malahan mereka menyangka bahwa suatu kaum mati dan kaum lain menggantikannya, dan peristiwa itu terus berlaku hingga dengan berlalunya masa segala zat menjadi lebur (hancur) dan dengan demikian sama sekali menjadi binasa. Inilah merurut mereka yang menjadi maksud dan tujuan akhir kejadian manusia dan tidak ada kehidupan di hari kemudian (akhirat),  firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ  لَسَوۡفَ اُخۡرَجُ  حَیًّا ﴿﴾  اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ  وَ لَمۡ  یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾  فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ  لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ  شِیۡعَۃٍ  اَیُّہُمۡ  اَشَدُّ عَلَی الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾  وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾ 
Dan insan  (manusia) berkata: ”Apakah jika aku mati  aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?"   Ataukah  manusia tidak ingat   bahwa Kami telah menciptakan dia dahulu, padahal  dia tadinya bukanlah sesuatu.  Maka demi Rabb (Tuhan) engkau, niscaya Kami akan menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut.   Kemudian niscaya Kami  akan memisahkan dari tiap-tiap golongan siapa-siapa di antara mereka yang lebih keras dalam kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah.   Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya.   Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau.   Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di da-lamnya. (Maryam [19]:67-73).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  16 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar