Selasa, 23 Desember 2014

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang Tidak Tertarik dengan "Surga Duniawi"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 10

Nabi Besar Muhammad Saw. adalah Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang Tidak Tertarik dengan "Surga Duniawi"   


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
  
D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu yang dikemukakan dalam Surah Asy-Syams ayat 2-5, yaitu:
  (1) Masa  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar Muhammad saw.) sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
 (2) Masa wakil agung beliau saw., yaitu,  Al-Masih Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya) yang diperoleh dari   Nabi Besar Muhammad saw.  dipantulkan ke suatu dunia yang gelap;
  (3) Masa para khalifah  Nabi Besar Muhammad saw.  ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan
  (4) Masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah lewat 3  abad pertama kejayaan Islam (QS.32:6), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Dan demi bulan apabila ia mengikutinya,  dan demi siang  apabila ia menzahirkan kemegahannya,  dan demi malam  apabila ia menutupinya,     (Asy-Syams [91]:1-5).
   Huruf   dalam ayat  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ  -- “demi langit dan pembinaannya”, dan dalam dua ayat berikutnya وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا -- dan demi bumi dan penghamparannya,    وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya” (QS.91:6-8) adalah masdariyah atau berarti alladzi, yakni  “ia yang”.
   Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang Arsitek Agung alam semesta ini (Allah Swt.) atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan.

Kesempurnaan Potensi Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

   Ayat  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya”    berarti  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk Allah Swt. dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
    Pada hakikatnya, manusia adalah micro cosmos (alam semesta ukuran    kecil) atau miniatur  alam semesta, dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil segala sesuatu yang terwujud di alam semesta. Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan   bulan ia memancarkan kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
 Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih. Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
Laksana  bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang , sebagai cobaan  (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
    Demikianlah   perumpamaan keadaan  orang-orang kudus dan para mushlih rabbani (reformer),  di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad  Rasulullah saw..  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya, dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.  (Asy-Syams [91]:1-11).

Insan Kamil (Manusia Sempurna)

    Allah Swt. telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
    Jadi,  sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ad-Dahr  bahwa sekali pun asal kejadian insan  (manusia)  dalam rahim ibu berupa “nuthfah campuran” yang belum layak disebut apa pun,  tetapi dengan memanfaatkan indera pendengaran dan penglihatan  sesuai petunjuk Allah Swt.,  maka  nuthfah campuran” tersebut mampu menjadi Insan kamil (manusia sempurna), sebagaimana yang diperagakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿۴﴾  اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ  یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا  کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾  یُوۡفُوۡنَ بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ  مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾  وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا ﴿﴾  اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً   وَّ  لَا  شُکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Bukankah telah datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum nenjadi sesuatu yang layak disebut?   Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran  supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur.    Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala.  Sesungguhnya orang-orang  yang berbuat kebajikan, mereka  minum dari piala yang campurannya  kapur,  dari mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras.  Mereka menyempurnakan nazar  dan takut pada suatu hari yang keburukannya tersebar luas. Dan karena cinta kepada-Nya  mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, seraya berkata: “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima kasih. Sesungguhnya kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari  muka menjadi masam dan penuh kesulitan.  (Ad-Dahr [76]:1-11).     
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai nikmat-nikmat surgawi yang dinikmati oleh para  insan  penghuni surga tersebut:
فَوَقٰہُمُ  اللّٰہُ  شَرَّ ذٰلِکَ  الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً   وَّ  سُرُوۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ جَزٰىہُمۡ  بِمَا صَبَرُوۡا جَنَّۃً  وَّ حَرِیۡرًا﴿ۙ﴾ مُّتَّکِـِٕیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۚ لَا یَرَوۡنَ فِیۡہَا شَمۡسًا وَّ  لَا  زَمۡہَرِیۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ دَانِیَۃً  عَلَیۡہِمۡ  ظِلٰلُہَا وَ ذُلِّلَتۡ قُطُوۡفُہَا تَذۡلِیۡلًا ﴿﴾
Maka Allah memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan.   Dan Dia membalas mereka karena kesabaran mereka dengan kebun dan pakaian sutera, duduk bersandar di dalam-nya atas dipan-dipan, mereka tidak  melihat di dalamnya  terik matahari dan tidak pula  dingin yang sangat.  Dan keteduhannya didekatkan atas mereka dan tandan-tandan buah-nya direndahkan serendah-rendahnya. (Ad-Dahr [76]:12-15).

Dua “Kebun Surgawi” di Dunia & Makna “Gelang-gelang Emas

      Dalam Surah berikut ini masalah “kebun” dan “sutra” lebih dijelaskan lagi secara terinci, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah akan  memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya   mereka akan dihiasi  dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan di dalamnya  pakaian mereka dari sutera. (Al-Hajj  [22]:24).
       Nabi Besar Muhammad saw.   menurut riwayat pernah bersabda “Nil dan Efrat itu dua buah sungai surgawi” (Muslim bab al-Jannah). Beliau saw. dan para sahabat mengetahui, bahwa kepada mereka telah dijanjikan “kebun-kebun,” bukan saja pada kehidupan di akhirat tetapi di dunia juga; dan mereka mengetahui bahwa dengan “kebun-kebun” di dunia dimaksudkan daerah-daerah kaya dan subur yang pernah diperintah oleh para Kisra dari Persia dan Kaisar dari kerajaan Romawi Timur.
        Di masa Khilafat Umar bin Khaththab r.a.  tentara Islam bertempur di dua medan pertempuran, yaitu di Mesopotamia dan Siria. Ketika beberapa pemimpin Arab menghadap beliau dan menawarkan jasa,  Khilafat Umar bin Khaththab r.a. menanyakan kepada mereka, mau pergi ke negeri yang manakah dari antara “dua daerah yang dijanjikan” itu (Mesopotamia atau Siria).
      Nubuatan ini telah dipenuhi secara harfiah ketika  Khalifah Umar bin Khaththab r.a.   menyuruh Suraqah bin Malik r.a.  memakai gelang-gelang mas yang raja-raja Iran  biasa memakainya pada upacara-upacara kenegaraan yang istimewa, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا  لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ عَمَلًا ﴿ۚ﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ الثَّوَابُ ؕ وَ حَسُنَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sesungguhnya  Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal yang  baik.   Mereka itulah orang-orang yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi yang di bawahnya mengalir sungai­-sungai. Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka akan mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal, mereka di dalamnya  duduk bersandar pada dipan-dipan yang indah. Itulah ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. (Al-Kahf [18]:31-32).
   Oleh karena "gelang-gelang emas"  merupakan lambang kerajaan, maka ayat ini dapat berarti  bahwa orang-orang Islam akan menjadi penguasa kerajaan-kerajaan yang luas dan kuat, serta akan menikmati kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan besar; dan bahwa perempuan-perempuan mereka akan mengenakan pakaian terbuat dari sutera halus dan kain sutera tebal terjalin dengan tenunan benang emas.

Tuntutan yang Bersifat Duniawi  Para Pemimpin Kafir Quraisy Kepada Nabi Besar Muhammad saw.

  Nubuatan ini menjadi sempurna ketika khazanah-­khazanah dari Parsi dan Roma telah diletakkan pada kaki orang-orang Arab ummi (buta huruf) yang biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit kasar dan dari bulu-bulu binatang.
Penganugerahan “dua kebun surgawi” tersebut sebagai jawaban Allah Swt. atas tuntutan para pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah yang bersifat duniawi kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ  لَنَا مِنَ  الۡاَرۡضِ  یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ  مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ  الۡاَنۡہٰرَ  خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ  یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿٪﴾
Dan mereka berkata: “Kami tidak akan pernah beriman kepada engkau sebelum engkau memancarkan dari bumi sebuah mata air untuk kami,   atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai-sungai yang deras alirannya  di tengah-tengahnya, atau engkau menjatuhkan kepingan-kepingan langit  atas kami sebagaimana telah engkau dakwakan, atau engkau mendatangkan Allah dan para malaikat berhadap-hadapan, atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit, tetapi kami tidak akan pernah mempercayai kenaikan engkau ke langit hingga engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami dapat membacanya.”  قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا  -- Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia  sebagai seorang rasul.” (Bani Israil [17]:91-94). 
   Bahwa “gelang-gelang emas” merupakan lambang kekuasaan duniawi, hal tersebut dikemukakan pula oleh Fir’aun  sebagai cemoohan  terhadap Nabi Musa a.s. ketika beliau berdakwah kepadanya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا مُوۡسٰی بِاٰیٰتِنَاۤ  اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَا۠ئِہٖ فَقَالَ  اِنِّیۡ رَسُوۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِاٰیٰتِنَاۤ  اِذَا ہُمۡ مِّنۡہَا یَضۡحَکُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا نُرِیۡہِمۡ  مِّنۡ اٰیَۃٍ  اِلَّا ہِیَ اَکۡبَرُ مِنۡ اُخۡتِہَا ۫ وَ اَخَذۡنٰہُمۡ  بِالۡعَذَابِ لَعَلَّہُمۡ  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ  ادۡعُ  لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا  لَمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ  الۡعَذَابَ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah mengirimkan Musa dengan Tanda-tanda Kami kepada Fir-’aun dan para pembesarnya, lalu  ia berkata: "Sesungguhnya aku seorang rasul Rabb (Tuhan) seluruh alam."    فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِاٰیٰتِنَاۤ  اِذَا ہُمۡ مِّنۡہَا یَضۡحَکُوۡنَ  -- Lalu tatkala ia datang kepada mereka dengan Tanda-tanda Kami tiba-tiba mereka menertawakannya.  وَ مَا نُرِیۡہِمۡ  مِّنۡ اٰیَۃٍ  اِلَّا ہِیَ اَکۡبَرُ مِنۡ اُخۡتِہَا  --  Dan Kami sekali-kali tidak memperlihatkan kepada mereka sesuatu Tanda melainkan itu lebih besar dari Tanda sejenisnya, وَ اَخَذۡنٰہُمۡ  بِالۡعَذَابِ لَعَلَّہُمۡ  یَرۡجِعُوۡنَ  -- dan Kami menyergap mereka dengan azab supaya mereka kembali dari amal buruk. وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ  ادۡعُ  لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا  لَمُہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka berkata: "Hai ahli sihir,  berdoalah bagi kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya kepada engkau sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ  الۡعَذَابَ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ  --  Tetapi  tatkala Kami menjauhkan azab dari mereka   tiba-tiba mereka melanggar janji mereka. (Az-Zukhruf [43]:47-51).

Mukjizat Pamungkas Nabi Musa a.s. Memaksa  Fir’aun Menyatakan “Beriman kepada Tuhan  Bani Israil

        Allah Swt. telah menyatakan bahwa kesembilan   Tanda  yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya adalah mukjizat (QS.7:118; QS.17:102-105; QS.26:33  QS.27:9-15; QS.28:32), yakni 1657. Sembilan Tanda ini yang telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran ialah (a) tongkat (QS.7:108); (b) tangan putih (QS.7:109); (c) musim kering dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (d) badai; (e) belalang; (f) kutu; (g) katak; dan (h) azab darah (QS.7:134), akan tetapi mereka menyebutnya sihir: وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ  ادۡعُ  لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا  لَمُہۡتَدُوۡنَ -- Dan mereka berkata: "Hai ahli sihir,  berdoalah bagi kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya kepada engkau sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." (Az-Zukhruf [43]:49-51).
        Namun   ketika pemintaan Fir’aun kepada Nabi Musa a.s. tersebut dikabulkan Allah Swt. mereka mengingkari janji: فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ  الۡعَذَابَ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ  --  tetapi  tatkala Kami menjauhkan azab dari mereka   tiba-tiba mereka melanggar janji mereka.” Oleh karena itu ketika mukjizat Nabi Musa a.s. yang kesembilan terjadi maka Fir’aun dan para pembesarnya tidak dapat lagi mengingkari janji:
وَ قَالَ مُوۡسٰی رَبَّنَاۤ اِنَّکَ اٰتَیۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَاَہٗ  زِیۡنَۃً  وَّ اَمۡوَالًا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۙ رَبَّنَا لِیُضِلُّوۡا عَنۡ سَبِیۡلِکَ ۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی  یَرَوُا  الۡعَذَابَ  الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾  قَالَ قَدۡ اُجِیۡبَتۡ دَّعۡوَتُکُمَا فَاسۡتَقِیۡمَا وَ لَا تَتَّبِعٰٓنِّ سَبِیۡلَ  الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ﴿٪﴾
Dan Musa berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan para pembesarnya perhiasan dan kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Rabb (Tuhan) kami, dengan akibat bahwa mereka menyesatkan orang dari jalan Engkau. رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی  یَرَوُا  الۡعَذَابَ  الۡاَلِیۡمَ  --  Ya Rabb (Tuhan) kami, musnahkanlah kekayaan mereka dan keraskanlah  hati mereka maka  mereka tidak akan beriman  hingga mereka melihat azab yang pedih.”   Dia berfirman: “Sungguh doa kamu berdua telah dikabulkan, maka bersikap teguhlah kamu berdua dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا  --   Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ  --    ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda  bagi orang-orang  sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:89-93).

Mayat Fir’aun Diabadikan Sebagai Peringatan Bagi Generasi Berikutnya

       Kata-kata Fir’aun  ketika akan mati tenggelam  melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya:  حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” 
      Sangat menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah Swt.  itu telah terbukti kebenarannya.
      Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo. Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan campur kebodohan.
       Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia, jilid 9 hlm. 500 & Encyclopardia Biblica, pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  22 Desember     2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar