بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 10
Nabi
Besar Muhammad Saw. adalah Insan Kamil
(Manusia Sempurna) yang Tidak Tertarik dengan "Surga Duniawi"
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu yang dikemukakan dalam
Surah Asy-Syams ayat 2-5, yaitu:
(1) Masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri,
ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar
Muhammad saw.) sedang memancar dengan
sangat megahnya di cakrawala ruhani;
(2) Masa wakil agung beliau saw., yaitu, Al-Masih
Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya)
yang diperoleh dari Nabi Besar Muhammad saw. dipantulkan
ke suatu dunia yang gelap;
(3) Masa para khalifah Nabi Besar Muhammad saw. ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan
(4) Masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh
dunia yang terjadi sesudah lewat 3 abad
pertama kejayaan Islam (QS.32:6),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡقَمَرِ
اِذَا تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ النَّہَارِ
اِذَا جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ
مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا
طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ
اَفۡلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ
مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi
matahari dan sinarnya
di pagi hari. Dan demi bulan
apabila ia mengikutinya, dan demi
siang apabila ia menzahirkan kemegahannya, dan demi malam apabila ia
menutupinya, (Asy-Syams [91]:1-5).
Huruf mā
dalam ayat وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ -- “demi langit dan pembinaannya”,
dan dalam dua ayat berikutnya وَ الۡاَرۡضِ
وَ مَا طَحٰہَا -- dan demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ
وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa
dan penyempurnaannya” (QS.91:6-8) adalah
masdariyah atau berarti alladzi, yakni “ia yang”.
Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian
telah dipusatkan pada Sang Perencana
dan Sang Arsitek Agung alam semesta
ini (Allah Swt.) atau pada penyempurnaan
alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan.
Kesempurnaan Potensi Akhlak dan Ruhani
Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa dan penyempurnaannya” berarti
bahwa semua khasiat yang
dipersembahkan benda-benda langit
seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka
melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk Allah Swt. dan yang mengenai kenyataan
itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian
bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat
lebih tinggi.
Pada hakikatnya, manusia adalah micro cosmos (alam semesta ukuran kecil) atau miniatur alam semesta, dan
dalam dirinya ditampilkan dalam skala
kecil segala sesuatu yang terwujud di alam semesta. Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan
kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan bulan ia memancarkan kembali cahaya
kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan
kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam
ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban
mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih. Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang
bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member
kesegaran.
Laksana bumi
ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah
telapak kaki orang-orang , sebagai cobaan
(ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu tumbuhlah
dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan
rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
Demikianlah perumpamaan
keadaan orang-orang kudus dan para mushlih
rabbani (reformer), di antaranya
yang terbesar dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw.. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَلۡہَمَہَا
فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ
مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. Sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, dan sungguh binasalah
orang yang mengotorinya. (Asy-Syams
[91]:1-11).
Insan Kamil (Manusia
Sempurna)
Allah
Swt. telah menanamkan dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian
mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan
menerima apa yang benar dan baik.
Jadi, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ad-Dahr bahwa sekali pun asal kejadian insan
(manusia) dalam rahim ibu berupa “nuthfah campuran” yang belum layak disebut apa pun, tetapi
dengan memanfaatkan indera pendengaran
dan penglihatan sesuai petunjuk
Allah Swt., maka “nuthfah campuran” tersebut mampu menjadi Insan kamil (manusia sempurna), sebagaimana yang diperagakan oleh Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ
الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ
نَّبۡتَلِیۡہِ فَجَعَلۡنٰہُ
سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ السَّبِیۡلَ
اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ
سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ سَعِیۡرًا ﴿۴﴾ اِنَّ
الۡاَبۡرَارَ یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ
کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾ عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ
یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾ یُوۡفُوۡنَ
بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾ وَ یُطۡعِمُوۡنَ
الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ
یَتِیۡمًا وَّ اَسِیۡرًا ﴿﴾ اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ
مِنۡکُمۡ جَزَآءً وَّ لَا
شُکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا نَخَافُ مِنۡ
رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Bukankah telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum nenjadi sesuatu
yang layak disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari nutfah campuran supaya Kami
dapat mengujinya, maka Kami telah
membuat dia mendengar serta melihat.
Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya
jalan, apakah ia bersyukur atau
pun tidak bersyukur. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang
kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat
kebajikan, mereka minum dari piala yang campurannya kapur,
dari mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras. Mereka menyempurnakan
nazar dan takut pada suatu hari yang keburukannya
tersebar luas. Dan karena cinta kepada-Nya mereka
memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, seraya berkata:
“Sesungguhnya kami memberi makan kepada
kamu karena mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima
kasih. Sesungguhnya kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari muka menjadi
masam dan penuh kesulitan. (Ad-Dahr [76]:1-11).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai nikmat-nikmat
surgawi yang dinikmati oleh para insan
penghuni surga tersebut:
فَوَقٰہُمُ اللّٰہُ
شَرَّ ذٰلِکَ الۡیَوۡمِ وَ
لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً وَّ
سُرُوۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ جَزٰىہُمۡ
بِمَا صَبَرُوۡا جَنَّۃً وَّ
حَرِیۡرًا﴿ۙ﴾ مُّتَّکِـِٕیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۚ لَا یَرَوۡنَ فِیۡہَا
شَمۡسًا وَّ لَا زَمۡہَرِیۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ دَانِیَۃً عَلَیۡہِمۡ
ظِلٰلُہَا وَ ذُلِّلَتۡ قُطُوۡفُہَا تَذۡلِیۡلًا ﴿﴾
Maka Allah memelihara mereka
dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan
kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan. Dan Dia membalas mereka karena kesabaran
mereka dengan kebun dan pakaian sutera, duduk
bersandar di dalam-nya atas dipan-dipan, mereka tidak melihat di dalamnya terik matahari dan tidak pula
dingin yang sangat. Dan keteduhannya didekatkan atas mereka dan
tandan-tandan buah-nya direndahkan
serendah-rendahnya. (Ad-Dahr [76]:12-15).
Dua “Kebun Surgawi” di
Dunia & Makna “Gelang-gelang Emas”
Dalam Surah berikut
ini masalah “kebun” dan “sutra” lebih dijelaskan lagi secara
terinci, firman-Nya:
اِنَّ
اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ
فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya mereka
akan dihiasi dengan gelang-gelang emas
dan mutiara, dan di dalamnya pakaian
mereka dari sutera. (Al-Hajj [22]:24).
Nabi Besar Muhammad saw. menurut
riwayat pernah bersabda “Nil dan Efrat
itu dua buah sungai surgawi” (Muslim
bab al-Jannah). Beliau saw. dan para sahabat mengetahui, bahwa kepada mereka
telah dijanjikan “kebun-kebun,” bukan
saja pada kehidupan di akhirat tetapi
di dunia juga; dan mereka mengetahui
bahwa dengan “kebun-kebun” di dunia
dimaksudkan daerah-daerah kaya dan subur yang pernah diperintah oleh para Kisra dari Persia dan Kaisar dari
kerajaan Romawi Timur.
Di masa Khilafat Umar bin Khaththab r.a. tentara
Islam bertempur di dua medan pertempuran, yaitu di Mesopotamia dan Siria.
Ketika beberapa pemimpin Arab menghadap beliau dan menawarkan jasa, Khilafat Umar bin Khaththab r.a. menanyakan kepada mereka, mau pergi ke
negeri yang manakah dari antara “dua
daerah yang dijanjikan” itu (Mesopotamia atau Siria).
Nubuatan
ini telah dipenuhi secara harfiah ketika
Khalifah Umar bin Khaththab r.a.
menyuruh Suraqah bin Malik r.a. memakai gelang-gelang mas yang raja-raja
Iran biasa memakainya pada upacara-upacara
kenegaraan yang istimewa, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ مَنۡ اَحۡسَنَ
عَمَلًا ﴿ۚ﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہِمُ الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ
فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ یَلۡبَسُوۡنَ ثِیَابًا
خُضۡرًا مِّنۡ سُنۡدُسٍ وَّ اِسۡتَبۡرَقٍ
مُّتَّکِئِیۡنَ فِیۡہَا عَلَی
الۡاَرَآئِکِ ؕ نِعۡمَ
الثَّوَابُ ؕ وَ
حَسُنَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sesungguhnya Kami
tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang mengerjakan amal yang baik.
Mereka itulah orang-orang
yang bagi mereka ada kebun-kebun abadi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Mereka di dalamnya akan dihiasi dengan
gelang-gelang emas dan mereka akan
mengenakan pakaian dari sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal, mereka di dalamnya duduk
bersandar pada dipan-dipan yang indah. Itulah ganjaran yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. (Al-Kahf [18]:31-32).
Oleh
karena "gelang-gelang emas"
merupakan lambang kerajaan,
maka ayat ini dapat berarti bahwa orang-orang Islam akan menjadi penguasa kerajaan-kerajaan yang luas dan
kuat, serta akan menikmati kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan
besar; dan bahwa perempuan-perempuan
mereka akan mengenakan pakaian
terbuat dari sutera halus dan kain
sutera tebal terjalin dengan tenunan benang
emas.
Tuntutan yang Bersifat Duniawi Para Pemimpin Kafir Quraisy Kepada Nabi Besar
Muhammad saw.
Nubuatan ini menjadi sempurna ketika khazanah-khazanah
dari Parsi dan Roma telah diletakkan pada kaki orang-orang Arab ummi (buta huruf) yang biasanya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit kasar dan dari bulu-bulu binatang.
Penganugerahan “dua
kebun surgawi” tersebut sebagai jawaban
Allah Swt. atas tuntutan para pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah yang bersifat duniawi kepada Nabi Besar
Muhammad saw. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ قَالُوۡا
لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ لَنَا
مِنَ الۡاَرۡضِ یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الۡاَنۡہٰرَ خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا
کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ یَکُوۡنَ
لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ
لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ
رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿٪﴾
Dan mereka
berkata: “Kami tidak akan pernah beriman
kepada engkau sebelum engkau
memancarkan dari bumi sebuah mata air untuk kami, atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur
lalu engkau mengalirkan sungai-sungai
yang deras alirannya di
tengah-tengahnya, atau engkau
menjatuhkan kepingan-kepingan langit
atas kami sebagaimana telah engkau dakwakan, atau engkau mendatangkan Allah dan para malaikat
berhadap-hadapan, atau engkau
mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau
naik ke langit, tetapi kami tidak
akan pernah mempercayai kenaikan engkau ke langit hingga engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab
yang kami dapat membacanya.” قُلۡ سُبۡحَانَ
رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia sebagai seorang rasul.” (Bani Israil [17]:91-94).
Bahwa “gelang-gelang emas” merupakan lambang kekuasaan duniawi, hal tersebut
dikemukakan pula oleh Fir’aun sebagai cemoohan
terhadap Nabi Musa a.s. ketika beliau berdakwah kepadanya, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا مُوۡسٰی
بِاٰیٰتِنَاۤ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ
مَلَا۠ئِہٖ فَقَالَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ
بِاٰیٰتِنَاۤ اِذَا ہُمۡ مِّنۡہَا
یَضۡحَکُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا نُرِیۡہِمۡ
مِّنۡ اٰیَۃٍ اِلَّا ہِیَ اَکۡبَرُ
مِنۡ اُخۡتِہَا ۫ وَ اَخَذۡنٰہُمۡ
بِالۡعَذَابِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ ادۡعُ
لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا لَمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الۡعَذَابَ
اِذَا ہُمۡ یَنۡکُثُوۡنَ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
mengirimkan Musa dengan Tanda-tanda Kami kepada Fir-’aun dan para pembesarnya, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku seorang rasul Rabb (Tuhan) seluruh alam."
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ
بِاٰیٰتِنَاۤ اِذَا ہُمۡ مِّنۡہَا
یَضۡحَکُوۡنَ -- Lalu tatkala ia datang
kepada mereka dengan Tanda-tanda Kami
tiba-tiba mereka menertawakannya. وَ مَا نُرِیۡہِمۡ مِّنۡ اٰیَۃٍ
اِلَّا ہِیَ اَکۡبَرُ مِنۡ اُخۡتِہَا -- Dan
Kami sekali-kali tidak memperlihatkan kepada mereka sesuatu Tanda melainkan itu lebih besar dari Tanda sejenisnya, وَ اَخَذۡنٰہُمۡ بِالۡعَذَابِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- dan Kami
menyergap mereka dengan azab supaya mereka kembali dari amal buruk. وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ ادۡعُ
لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا لَمُہۡتَدُوۡنَ -- dan
mereka berkata: "Hai ahli sihir,
berdoalah bagi kami kepada Rabb
(Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya
kepada engkau sesungguhnya kami
benar-benar akan menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." فَلَمَّا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمُ الۡعَذَابَ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ -- Tetapi tatkala
Kami menjauhkan azab dari mereka tiba-tiba mereka
melanggar janji mereka. (Az-Zukhruf [43]:47-51).
Mukjizat
Pamungkas Nabi Musa a.s. Memaksa Fir’aun Menyatakan “Beriman kepada Tuhan” Bani
Israil
Allah Swt. telah menyatakan bahwa
kesembilan Tanda yang diperlihatkan
Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya adalah mukjizat (QS.7:118; QS.17:102-105; QS.26:33 QS.27:9-15; QS.28:32), yakni 1657. Sembilan
Tanda ini yang telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran ialah (a)
tongkat (QS.7:108); (b) tangan putih (QS.7:109); (c) musim kering
dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (d) badai; (e) belalang; (f)
kutu; (g) katak; dan (h) azab darah (QS.7:134), akan tetapi
mereka menyebutnya sihir: وَ قَالُوۡا
یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ
اِنَّنَا لَمُہۡتَدُوۡنَ -- Dan mereka berkata: "Hai ahli sihir, berdoalah bagi kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya kepada engkau
sesungguhnya kami benar-benar akan
menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." (Az-Zukhruf [43]:49-51).
Namun ketika pemintaan Fir’aun kepada Nabi Musa a.s.
tersebut dikabulkan Allah Swt. mereka
mengingkari janji: فَلَمَّا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمُ الۡعَذَابَ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ -- tetapi tatkala
Kami menjauhkan azab dari mereka tiba-tiba mereka
melanggar janji mereka.” Oleh karena itu ketika mukjizat Nabi Musa a.s. yang kesembilan
terjadi maka Fir’aun dan para pembesarnya tidak dapat lagi mengingkari janji:
وَ قَالَ
مُوۡسٰی رَبَّنَاۤ اِنَّکَ اٰتَیۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَاَہٗ زِیۡنَۃً
وَّ اَمۡوَالًا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۙ رَبَّنَا لِیُضِلُّوۡا عَنۡ
سَبِیۡلِکَ ۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی
قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی
یَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ قَالَ قَدۡ اُجِیۡبَتۡ دَّعۡوَتُکُمَا فَاسۡتَقِیۡمَا
وَ لَا تَتَّبِعٰٓنِّ سَبِیۡلَ الَّذِیۡنَ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ جٰوَزۡنَا
بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ
عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ﴿٪﴾
Dan Musa
berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami,
sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada
Fir’aun dan para pembesarnya
perhiasan dan kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Rabb (Tuhan) kami, dengan akibat
bahwa mereka menyesatkan orang
dari jalan Engkau. رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا
یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی یَرَوُا الۡعَذَابَ
الۡاَلِیۡمَ -- Ya Rabb (Tuhan)
kami, musnahkanlah kekayaan mereka dan keraskanlah hati mereka maka mereka
tidak akan beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.” Dia
berfirman: “Sungguh doa kamu berdua
telah dikabulkan, maka bersikap
teguhlah kamu berdua dan janganlah
kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” وَ جٰوَزۡنَا
بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا -- Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga
apabila ia menjelang tenggelam ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri
kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ
کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau telah membangkang sebelum
ini, dan engkau termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan. Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan
engkau, supaya engkau menjadi suatu
Tanda bagi orang-orang sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus
[10]:89-93).
Mayat Fir’aun Diabadikan Sebagai Peringatan Bagi Generasi Berikutnya
Kata-kata Fir’aun ketika akan mati tenggelam melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si
congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya: حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga
apabila ia menjelang tenggelam ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri
kepada-Nya.”
Sangat
menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan
dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat
ini. Bible tak menyebutkannya dan
tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya
firman Allah Swt. itu telah
terbukti kebenarannya.
Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat
Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan
terpelihara di museum di Kairo. Nampak dari mayat
itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus
dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan
campur kebodohan.
Nabi Musa a.s. dilahirkan di
zaman Ramses II dan dibesarkan
olehnya (Keluaran 2:2-10),
tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah
(Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia, jilid 9 hlm. 500 & Encyclopardia Biblica,
pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 22 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar