بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 6
Terjadinya
“Yaumun 'Abuusun” (Hari-hari Penuh
Kesulitan) di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai akibat buruk yang akan dialami oleh manusia-manusia yang tidak bersyukur dijelaskan oleh ayat selanjutnya, firman-Nya: اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا
وَّ سَعِیۡرًا --
“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala” (QS.76:5), bahwa tiap-tiap perbuatan yang dilakukan manusia diikuti oleh perbuatan bersangkutan
yang dilakukan oleh Allah Swt..
Terlibatnya orang-orang kafir
di dalam urusan duniawi akan
mengambil wujud rantai-rantai di akhirat; sedangkan hasrat-hasrat duniawi akan mengambil bentuk belenggu leher dari besi,
dan ketamakan serta nafsu rendah akan mengambil bentuk api neraka yang berkobar-kobar, dan seterusnya, sesuai dengan gejolak hawa-nafsu mereka di dunia.
Berulang-ulang telah diterangkan di dalam
Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati di Akhirat bukan kehidupan baru,
melainkan hanya merupakan citra (gambaran)
dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan dunia sekarang telah
ditampilkan sebagai “siksaan jasmani”
di akhirat.
Mengenai ayat tersebut Al-Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan dalam buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah
Ajaran Islam) bahwa rantai yang akan
dikalungkan sekeliling leher menampilkan hasrat-hasrat
duniawi, dan hasrat-hasrat itulah
yang akan mengambil bentuk belenggu leher di akhirat. Demikian pula keterikatan
pada kehidupan dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak
seperti lidah api yang menjilat-jilat.
Batas umur manusia pada
umumnya dapat ditetapkan 70 tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan
masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan
ajakan hawa nafsunya.
Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat,
rantai nafsu yang selama 70 tahun ia bergelimang di dalamnya,
akan diwujudkan rantai sepanjang 70 hasta,
setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu, itulah makna firman-Nya berikut ini:
وَ اَمَّا
مَنۡ اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ
فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ لَمۡ اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ ﴿ۚ﴾ وَ لَمۡ
اَدۡرِ مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾ یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾ ہَلَکَ عَنِّیۡ
سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾ خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ فِیۡ
سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾ فَلَیۡسَ لَہُ
الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ وَّ لَا طَعَامٌ
اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَاۡکُلُہٗۤ اِلَّا
الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Tetapi barangsiapa
diberikan kitabnya di tangan kirinya, maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi kitabku,dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku itu. Aduhai kiranya
kematianku mengakhiri hidupku!
Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku, hilang lenyap dariku kekuasaanku.” Dia berfirman, خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ -- “Tangkaplah dia dan belenggulah
dia ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ -- kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ --
lalu ikatlah dia dengan rantai
yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya
ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan ia tidak menganjurkan untuk memberi makan
kepada orang miskin. Maka tidak
ada baginya pada hari ini di sana seorang
sahabat karib. Dan tidak ada makanan kecuali bekas cucian luka, tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang
berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
Seseorang diberikan rekaman amalnya di dalam tangan
kirinya adalah istilah yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan dalam ujian. Makna ayat یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- “Aduhai
kiranya kematianku mengakhiri hidupku!” orang-orang
kafir akan mengharapkan bahwa kematian
akan menyudahi segala sesuatu,
sehingga tidak bakal ada kehidupan
lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban
mem-pertanggung-jawabkan perbuatan mereka
di hadapan Allah Swt..
Berbagai Macam “Minuman Surgawi” & Ganjaran Para Penghuni Surga
Selanjutnya Allah Swt.
menjelaskan mengenai keadaan para penghuni surga yang mendapat ganjaran
atas pemanfaatan berbagai potensi akhlak
dan ruhani mereka di jalan Allah melalui penyesuaian kehendak mereka dengan Kehendak Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّ الۡاَبۡرَارَ یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ
مِزَاجُہَا کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾ عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ
یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berbuat birr (kebajikan), mereka minum
dari piala yang campurannya kapur. Dari mata air yang
darinya hamba-hamba Allah minum,
mereka memancarkannya dengan pancaran
yang deras. (Ad-Dahr [76]:6-7).
Kafūr berasal dari kafara,
yang berarti menutup atau menekan. Arti ayat ini ialah meneguk minuman
kapur akan membawa akibat jadi dinginnya atau meredanya
gejolak hawa nafsu kebinatangan. Hati
orang-orang beriman yang bertakwa
akan disucikan dari segala pikiran kotor, dan mereka akan didinginkan dengan kesejukan irfan (makrifat) Ilahi yang mendalam.
Orang-orang beriman yang bertakwa akan minum dari cawan
yang diisi dari sumber-sumber mata air
yang digali mereka sendiri dengan bekerja keras, karena itulah arti kata tafjīr.
Perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan mereka dalam kehidupan duniawi akan nampak di akhirat dalam bentuk sumber-sumber
mata air.
Itulah tingkat pertama dalam perkembangan
ruhani yang menghendaki kerja keras
dan tidak putus-putus pada pihak orang-orang
beriman, sebab selama manusia belum dapat mengendalikan
serta menekan hawa nafsu jahatnya,
selama itu ia tidak dapat membuat suatu kemajuan
ruhani.
“Mata air” yang tercantum dalam ayat ini adalah mata air kecintaan Allah Swt. dan makrifat Ilahi. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
یُوۡفُوۡنَ
بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾ وَ یُطۡعِمُوۡنَ
الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ
یَتِیۡمًا وَّ اَسِیۡرًا ﴿﴾
Mereka menyempurnakan nazar dan takut
pada suatu hari yang keburukannya
tersebar luas. Dan karena cinta kepada-Nya mereka memberi
makan orang miskin, anak yatim,
dan tawanan. (Ad-Dahr [76]:8-9).
“Menyempurnakan
nazar” berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban
manusia terhadap Allah Swt., yakni haququlLāh,
sedangkan kewajiban-kewajiban manusia terhadap sesama manusia (haququl ‘Ibād) disebut dalam ayat berikutnya, yakni وَ
یُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ
مِسۡکِیۡنًا وَّ یَتِیۡمًا وَّ
اَسِیۡرًا -- “Dan
karena cinta kepada-Nya mereka memberi
makan orang miskin, anak yatim,
dan tawanan.” Ayat ini i berarti:
(1) karena orang-orang yang
beriman dan mukhlis mencintai Allah
Swt., maka untuk memperoleh ridha-Nya
mereka memberi makan kepada orang-orang
miskin dan tawanan-tawanan;
(2) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin menjamin makan mereka, artinya mereka beramal
saleh dengan memberi makan kepada orang-orang
miskin demi ingin beramal saleh,
tidak untuk mencari pahala, penghargaan atau persetujuan atas apa yang dilakukan mereka.
(3) Mereka memberi makan kepada orang-orang
miskin, sedang mereka sendiri cinta
kepada uang yang dibelanjakan mereka
bagi orang-orang miskin itu.
(4) Mereka memberi makan makanan yang sehat dan baik
kepada orang-orang miskin, sebab kata tha’am berarti makanan sehat (Lexicon Lane).
“Hari-hari Penuh Kesulitan” di Akhir
Zaman & Tidak Dapat Menghujat Allah Swt.
Ayat selanjutnya menjelaskan alasan mereka
melakukan pengkhidmatan terhadap sesama hamba Allah Swt. tersebut,
firman-Nya:
اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ
جَزَآءً وَّ لَا
شُکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا
قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya kami memberi
makan kepada kamu karena mengharapkan
keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan
dari kamu balasan dan tidak pula ucapan
terima kasih, اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا -- sesungguhnya kami takut azab dari Rabb
(Tuhan) kami pada suatu hari muka menjadi masam dan penuh kesulitan. (Ad-Dahr [76]:10-11).
Yaumun ‘abūsun: hari penuh sengsara atau hari bencana, atau hari
yang menyebabkan orang bersedih hati,
dan yaumun qamtharīrun berarti hari
yang penuh kesedihan atau hari
bencana, atau hari yang
menyebabkan orang mengerutkan kening
atau mengernyitkan kulit di antara kedua belah matanya (Lexicon Lane).
Di Akhir Zaman ini
keadaan yaumun ‘abūsun tersebut
terus menerus dialami di berbagai wilayah dunia, termasuk di
wilayah NKRI. Namun sangat disayangkan terjadinya berbagai bentuk “cemati
azab Ilahi” tersebut tidak
juga membuat indera-indera
ruhani umat manusia berfungsi
dengan baik, padahal Allah Swt. telah berfirman:
لِاَیِّ یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾ لِیَوۡمِ
الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾ وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾ وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ
نُہۡلِکِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ
نُتۡبِعُہُمُ الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ
بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Hingga hari apakah
ditangguhkan? لِیَوۡمِ الۡفَصۡلِ -- hingga Hari Keputusan. وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ
-- dan apa yang engkau ketahui mengenai Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ --
Tidakkah Kami telah membinasakan kaum-kaum dahulu? ثُمَّ نُتۡبِعُہُمُ
الۡاٰخِرِیۡنَ -- kemudian
Kami mengikutkan mereka
orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -- demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa. وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah
pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan.(Al-Mursalāt [77]:13-20).
Oleh karena
itu jika dalam kenyataannya di Akhir
Zaman ini telah merebak berbagai bentuk azab
Ilahi maka tidak ada alasan bagi umat manusia -- terutama umat-umat beragama yang sedang menunggu-nunggu kedatangan rasul Allah yang mereka percayai akan datang lagi --
untuk mengajukan gugatan atau menyalahkan
Allah Swt. (QS.17:16-18), sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا
یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ
تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی
الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾ وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ
لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ
اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا
فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
نَّذِلَّ وَ نَخۡزٰی ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ
فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ
الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia (Rasul) tidak mendatangkan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" اَوَ لَمۡ تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی -- bukankah telah datang
kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran terdahulu?
وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ
بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ --
dan seandainya Kami membinasakan
mereka dengan azab sebelum ini لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ
لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ
نَخۡزٰی
-- niscaya mereka akan berkata: "Ya Rabb
(Tuhan) kami, mengapakah Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang
rasul supaya kami mengikuti
Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan
dan dihinakan?" قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ
فَتَرَبَّصُوۡا --
Katakanlah: "Setiap orang
sedang menunggu maka kamu pun tunggulah, فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ
اہۡتَدٰی -- lalu segera
kamu akan mengetahui siapakah yang
ada pada jalan yang lurus dan siapa
yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thā Hā [20]:134-136).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar