Jumat, 19 Desember 2014

Terjadinya "Yawmun 'Abuusun" (Hari-hari Penuh Kesulitan) di Akhir Zaman



 

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 6

Terjadinya “Yaumun 'Abuusun” (Hari-hari Penuh Kesulitan) di Akhir Zaman


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai akibat buruk yang akan dialami oleh manusia-manusia yang tidak bersyukur   dijelaskan oleh ayat selanjutnya, firman-Nya:   اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا -- “Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala” (QS.76:5), bahwa tiap-tiap perbuatan yang dilakukan manusia diikuti oleh perbuatan bersangkutan yang dilakukan oleh Allah Swt..
  Terlibatnya orang-orang kafir di dalam urusan duniawi akan mengambil wujud rantai-rantai di akhirat; sedangkan hasrat-hasrat duniawi akan mengambil bentuk belenggu leher dari besi, dan ketamakan serta nafsu rendah akan mengambil bentuk api neraka yang berkobar-kobar,  dan seterusnya,  sesuai dengan gejolak hawa-nafsu mereka di dunia.
    Berulang-ulang telah diterangkan di dalam Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati di Akhirat bukan kehidupan baru, melainkan hanya merupakan citra (gambaran) dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan dunia sekarang telah ditampilkan sebagai “siksaan jasmani” di akhirat.
     Mengenai ayat tersebut Al-Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) bahwa rantai yang akan dikalungkan sekeliling leher menampilkan hasrat-hasrat duniawi, dan hasrat-hasrat itulah yang akan mengambil bentuk belenggu leher di akhirat. Demikian pula keterikatan pada kehidupan  dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak seperti lidah api yang menjilat-jilat.
  Batas umur manusia pada umumnya  dapat ditetapkan 70  tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan ajakan hawa nafsunya.
 Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat, rantai nafsu yang selama 70 tahun ia bergelimang di dalamnya, akan diwujudkan rantai sepanjang 70 hasta, setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu, itulah makna firman-Nya berikut ini:
وَ اَمَّا مَنۡ  اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ  لَمۡ  اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ  ﴿ۚ﴾ وَ  لَمۡ  اَدۡرِ  مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾  یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾  ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾  خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾  اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾  فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Tetapi barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kirinya,  maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi kitabku,dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku itu. Aduhai  kiranya kematianku mengakhiri hidupku!  Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku, hilang lenyap dariku kekuasaanku.” Dia berfirman, خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ  --  Tangkaplah dia dan belenggulah dia ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ --  kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ  -- lalu  ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan   ia tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.    Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana seorang sahabat karib.   Dan tidak ada makanan kecuali bekas  cucian luka,    tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
   Seseorang diberikan rekaman amalnya  di dalam tangan kirinya adalah istilah yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan dalam ujian.  Makna ayat    یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ  -- “Aduhai  kiranya kematianku mengakhiri hidupku!” orang-orang kafir akan mengharapkan bahwa kematian akan menyudahi segala sesuatu, sehingga tidak bakal ada kehidupan lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban mem-pertanggung-jawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah Swt..

Berbagai Macam “Minuman Surgawi  & Ganjaran Para Penghuni Surga

  Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan  mengenai keadaan para penghuni surga yang mendapat   ganjaran atas pemanfaatan berbagai potensi akhlak dan ruhani mereka di jalan Allah melalui penyesuaian kehendak mereka dengan Kehendak Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ  یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا  کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang  yang berbuat birr (kebajikan), mereka  minum dari piala yang campurannya  kapur.  Dari mata air  yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras. (Ad-Dahr [76]:6-7).
   Kafūr berasal dari kafara, yang berarti menutup atau menekan. Arti ayat ini ialah  meneguk minuman kapur  akan membawa akibat jadi dinginnya  atau meredanya gejolak hawa nafsu kebinatangan. Hati orang-orang beriman yang bertakwa akan disucikan dari segala pikiran kotor, dan mereka akan didinginkan dengan kesejukan irfan (makrifat) Ilahi yang mendalam.
  Orang-orang beriman yang bertakwa akan minum dari cawan yang diisi dari sumber-sumber mata air yang digali mereka sendiri dengan bekerja keras, karena itulah arti kata tafjīr. Perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan mereka dalam kehidupan duniawi akan nampak di akhirat dalam bentuk sumber-sumber mata air.
   Itulah tingkat pertama dalam perkembangan ruhani yang menghendaki kerja keras dan tidak putus-putus pada pihak orang-orang beriman, sebab selama manusia belum dapat mengendalikan serta menekan hawa nafsu jahatnya, selama itu ia tidak dapat membuat suatu kemajuan ruhani.
 “Mata air” yang tercantum dalam ayat ini adalah mata air kecintaan Allah Swt. dan makrifat Ilahi. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُوۡفُوۡنَ بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ  مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾ وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا ﴿﴾
 Mereka menyempurnakan nazar  dan takut pada suatu hari yang keburukannya tersebar luas.  Dan karena cinta kepada-Nya  mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan.  (Ad-Dahr [76]:8-9). 
  “Menyempurnakan nazar” berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Allah Swt., yakni haququlLāh, sedangkan  kewajiban-kewajiban manusia terhadap sesama manusia (haququl ‘Ibād)  disebut dalam ayat berikutnya, yakni   وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا  -- “Dan karena cinta kepada-Nya  mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Ayat ini i berarti:
   (1) karena orang-orang yang beriman dan mukhlis mencintai Allah Swt., maka untuk memperoleh ridha-Nya mereka memberi makan kepada orang-orang miskin dan tawanan-tawanan;
   (2) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin menjamin makan mereka, artinya  mereka beramal saleh dengan memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin beramal saleh, tidak untuk mencari pahala, penghargaan atau persetujuan atas apa yang dilakukan mereka.
 (3) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin, sedang mereka sendiri cinta kepada uang yang dibelanjakan mereka bagi orang-orang miskin itu.
 (4) Mereka memberi makan makanan yang sehat dan baik kepada orang-orang miskin, sebab kata tha’am berarti makanan sehat (Lexicon Lane).

Hari-hari Penuh Kesulitan” di Akhir Zaman & Tidak Dapat Menghujat Allah Swt.

     Ayat selanjutnya menjelaskan alasan mereka melakukan pengkhidmatan terhadap sesama hamba Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً   وَّ  لَا  شُکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima kasih, اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا  --   sesungguhnya kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari  muka menjadi masam dan penuh kesulitan. (Ad-Dahr [76]:10-11).
        Yaumun ‘abūsun: hari penuh sengsara atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang bersedih hati, dan yaumun qamtharīrun berarti hari yang penuh kesedihan atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang mengerutkan kening atau mengernyitkan kulit di antara kedua belah matanya (Lexicon Lane).   
       Di Akhir Zaman   ini  keadaan yaumun ‘abūsun  tersebut  terus menerus dialami di berbagai wilayah dunia,   termasuk di  wilayah NKRI. Namun sangat disayangkan terjadinya berbagai bentuk “cemati azab Ilahi   tersebut tidak juga  membuat indera-indera ruhani umat manusia berfungsi dengan baik, padahal Allah Swt. telah berfirman:
لِاَیِّ  یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾  لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾  وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾  اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Hingga hari apakah ditangguhkan? لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ --  hingga Hari Keputusan. وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ --  dan apa yang engkau ketahui mengenai Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ  --  celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.    اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --   Tidakkah Kami telah  membinasakan kaum-kaum dahulu?  ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ  -- kemudian  Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian.  کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa.  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ --  Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.(Al-Mursalāt [77]:13-20).
       Oleh karena itu jika dalam kenyataannya di Akhir Zaman ini telah merebak berbagai bentuk azab Ilahi  maka tidak ada alasan bagi umat manusia  -- terutama umat-umat beragama yang sedang menunggu-nunggu kedatangan rasul Allah  yang mereka percayai akan datang lagi  -- untuk mengajukan gugatan  atau menyalahkan Allah Swt. (QS.17:16-18), sebagaimana dalam  firman-Nya berikut ini:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾  وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia (Rasul) tidak mendatang­kan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?"  اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی -- bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran terdahulu?  وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ   --   dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum ini لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی    --  niscaya mereka akan berkata:  "Ya Rabb (Tuhan) kami, me­ngapakah   Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?"  قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا  --  Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun  tunggulah, فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی --  lalu segera kamu akan mengetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thā Hā [20]:134-136).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  19 Desember     2014






Tidak ada komentar:

Posting Komentar