بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 15
Hubungan
Para Malaikat dengan Berbagai
Peristiwa di Alam Semesta, Termasuk Bencana Alam dan Azab Ilahi
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
hakikat “sujudnya” para Malaikat kepada ”Adam” (Khalifah Allah), sehubungan dengan terjadinya berbagai mukjizat
para Rasul Allah berupa
berbagai peristiwa alam -- banjir,
taufan, gempa
bumi, tsunami, kekeringan
dan lain-lain – bahwa semuanya itu sangat erat kaitannya dengan “sujudnya” para malaikat kepada Adam,
ketika Allah Swt. memerintahkan
mereka untuk “sujud” kepada Khalifah Allah
tersebut, kecuali Iblis, ia menolak perintah Allah Swt. tersebut,
berikut firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ
ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا
اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ مَا مَنَعَکَ
اَلَّا تَسۡجُدَ اِذۡ
اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا
خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ
نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ
مِنۡ طِیۡنٍ ﴿ ﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ
مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu, ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ
-- kemudian Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا
لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- lalu Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu
kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis, -- لَمۡ
یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. قَالَ مَا
مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ -- Dia berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau
sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi
perintah kepada engkau?” قَالَ اَنَا
خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ
نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ
مِنۡ طِیۡنٍ
-- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih
baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ
اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ
-- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau
darinya, karena sekali-kali tidak
patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang
hina.” (Al-A’rāf [7]:12-14).
Makna Kata Malaikat
& Berbagai Azab Ilahi yang Membinasakan Kaum-kaum Purbakala
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah
jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia
mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah (Rasul Allah) dan pembaharu-pembaharu samawi.
Jadi,
karena para malaikat telah diperintahkan Allah Swt. “sujud” kepada “Khalifah Allah” (Rasul Allah), itulah sebabnya sudah merupakan Sunnatullah, jika umat manusia mendustakan
dan melakukan penentangan secara
zalim terhadap Rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan kepada
mereka (QS.7:35-37) maka pasti akan mengundang turunnya berbagai bentuk azab Ilahi, antara lain berupa bencana alam yang hebat. (QS.6:132; QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209;
QS.28:60).
Berikut ini adalah firman Allah Swt. mengenai berbagai bentuk azab Ilahi yang membinasakan kaum-kaum
purbakala akibat kedurhakaan
mereka kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan (diutus)
di kalangan mereka:
وَ
قَارُوۡنَ وَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ ۟ وَ لَقَدۡ جَآءَہُمۡ مُّوۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ وَ مَا کَانُوۡا سٰبِقِیۡنَ ﴿ۚۖ﴾ فَکُلًّا
اَخَذۡنَا بِذَنۡۢبِہٖ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِ حَاصِبًا ۚ
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ اَخَذَتۡہُ الصَّیۡحَۃُ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ خَسَفۡنَا
بِہِ الۡاَرۡضَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
اَغۡرَقۡنَا ۚ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami membinasakan Qarun,
Fir’aun dan Haman. Dan sungguh Musa
benar-benar telah datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata tetapi
mereka berlaku sombong di bumi dan
mereka sekali-kali tidak dapat
melepaskan diri dari azab Kami. Maka setiap orang dari mereka Kami tangkap karena dosanya, di antara mereka ada yang Kami kirim kepadanya badai pasir, di
antara mereka ada yang disambar oleh
petir, di antara mereka ada yang Kami be-namkan di bumi,
di antara mereka ada yang Kami
tenggelamkan, وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ -- dan
Allah sekali-kali tidak berbuat zalim
terhadap mereka, tetapi mereka menzalimi
diri mereka sendiri. (Al-Ankabūt [29]:40-41).
Al-Quran telah mempergunakan berbagai kata dan ungkapan untuk hukuman yang ditimpakan kepada para penentang berbagai nabi Allah pada zamannya
masing-masing, azab Ilahi yang melanda kaum
‘Ād digambarkan sebagai badai pasir
(QS.41:17; QS.54:20; dan QS.69:7); yang menimpa kaum Tsamud sebagai gempa bumi (QS.7:79); ledakan (QS.11:68; QS.54:32), halilintar (QS.41:18), dan ledakan dahsyat (QS.69:6); azab yang menghancurkan umat Nabi Luth
a.s. sebagai batu-batu tanah (QS.11:83; QS.15:75); badai batu (QS.54:35); dan azab yang menimpa Midian, kaum Nabi
Syu’aib a.s. sebagai gempa bumi (QS.7:92; QS.29:38); ledakan (QS.11:95); dan azab pada hari
siksaan yang mendatang (QS.26:190).
Terakhir dari semua azab Ilahi itu ialah azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan
lasykarnya serta pembesar-pembesarnya yang gagah-perkasa, Haman dan Qarun
(Qorah), dan membinasakan mereka sampai hancur-luluh, telah digambarkan dengan
ungkapan, “Kami ........ tenggelamkan pengikut-pengikut Fir’aun” (QS.2:51;
QS.7:137; dan QS.17:104), dan “Kami menyebabkan bumi menelannya” (QS.28:82).
Membanggakan Kekuasaan
dan Kekayaan Duniawi
Kaum-kaum purbakala
yang dibinasakan Allah Swt. tersebut dari segi jumlah orang mau pun dari segi kekuasaan
dan kekuatan duniawi, mereka itu jauh melebihi jumlah dan kekuatan
duniawi kaum kafir Quraisy pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawannya yang mendustakan
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.6:6-7; QS.46:27; QS.47:13-14), mereka sangat bangga dengan
kekuasaan dan kekuatan duniawi mereka
(QS.28:77-79; QS.30:10-11; QS.35:43-45; QS.540:22-23 & 83-86), berikut
firman-Nya mengenai ketakaburan kaum ‘Ad:
فَاِنۡ اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ اِذۡ جَآءَتۡہُمُ الرُّسُلُ مِنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ
خَلۡفِہِمۡ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ ؕ قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ فَاَمَّا عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ
الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا
قُوَّۃً ؕ اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ
الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً ؕ وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا
یَجۡحَدُوۡنَ ﴿﴾ فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ
لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی
وَ ہُمۡ لَا یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی
فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا
یَتَّقُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu jika mereka itu berpaling, فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ -- maka katakanlah: ”Aku memperingatkan kamu dengan petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” اِذۡ جَآءَتۡہُمُ الرُّسُلُ مِنۡۢ
بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ
اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا
اللّٰہَ -- ketika datang
kepada mereka rasul-rasul dari depan mereka dan dari belakang mereka -- seraya berkata: اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ -- ”Janganlah kamu menyembah selain Allah.” قَالُوۡا لَوۡ
شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ
مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ -- Mereka
berkata: ”Seandainya Rabb (Tuhan) kami menghendaki niscaya Dia
menurunkan malaikat-malaikat, maka sesungguhnya kami mengingkari
apa yang dengannya kamu diutus.”
فَاَمَّا عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا
فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ -- adapun
mengenai kaum 'Ād maka mereka berlaku sombong di bumi tanpa kebenaran وَ قَالُوۡا
مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً -- dan
mereka berkata: ”Siapakah lebih hebat
dari kami dalam kekuatan?” اَوَ لَمۡ یَرَوۡا
اَنَّ اللّٰہَ الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ
ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً -- Apakah mereka tidak melihat bahwa Allah Yang menciptakan mereka Dia lebih
hebat daripada mereka dalam kekuatan? وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا یَجۡحَدُوۡنَ -- Tetapi mereka menolak Tanda-tanda Kami. فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ
لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
-- Maka Kami mengirimkan kepada mereka angin sangat kencang dalam beberapa hari yang naas itu, supaya Kami membuat mereka merasakan azab
kehinaan dalam kehidupan di dunia, وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی
وَ ہُمۡ لَا یُنۡصَرُوۡنَ -- dan niscaya
azab alam akhi-rat itu lebih hina dan mereka
tidak akan ditolong. وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ
فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی -- Dan
adapun mengenai kaum Tsamud maka Kami telah
memberi mereka petunjuk, فَاَخَذَتۡہُمۡ
صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- tetapi mereka
lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk,
lalu azab yang menghinakan menimpa mereka disebabkan apa yang selalu mereka usahakan. وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan
Kami menyelamatkan orang-orang yang
beriman serta ber-takwa. (Al-Fushshilat [41]:14-19).
Hubungan Para Malaikat dengan Terjadinya Bencana
Alam
Pendek kata, mulai dari zaman Nabi Nuh a.s. sampai dengan Zaman Nabi
Musa a.s. berbagai azab Ilahi yang membinasakan para penentang
Rasul-rasul Allah tersebut adalah kekuatan-kekuatan alam yakni berbagai bentuk bencana alam sebagaimana dikemukakan sebelumnya (Al-Ankabūt
[29]:40-41), dimana yang diberi wewenang oleh Allah Swt. untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan alam tersebut adalah para Malaikat.
Sebelumnya telah dijelaskan
bahwa kata malā’ikah (malaikat-malaikat) adalah jamak dari malak diserap dari malaka,
yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka,
artinya ia mengirimkan. Para malaikat
disebut demikian sebab mereka mengendalikan
kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan
Allah (Rasul Allah) dan pembaharu-pembaharu
samawi.
Jadi, karena para malaikat telah diperintahkan
Allah Swt. “sujud” kepada “Khalifah Allah” (Rasul Allah), itulah
sebabnya sudah merupakan Sunnatullah,
jika umat manusia mendustakan dan melakukan penentangan
secara zalim terhadap Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37)
maka pasti akan mengundang turunnya berbagai bentuk azab Ilahi, antara lain berupa bencana
alam yang hebat. (QS.6:132;
QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا قُوۡۤا
اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ
مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَا
تَعۡتَذِرُوا الۡیَوۡمَ ؕ اِنَّمَا
تُجۡزَوۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ٪﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, قُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ
وَ اَہۡلِیۡکُمۡ نَارًا وَّ
قُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ -- peliharalah
diri kamu dan keluargamu dari Api, yang bahan bakarnya manusia dan batu,
عَلَیۡہَا مَلٰٓئِکَۃٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا یَعۡصُوۡنَ اللّٰہَ
مَاۤ اَمَرَہُمۡ وَ یَفۡعَلُوۡنَ مَا یُؤۡمَرُوۡنَ
-- penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah
atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperin-tahkan. یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَا تَعۡتَذِرُوا الۡیَوۡمَ -- Hai orang-orang
kafir, لَا تَعۡتَذِرُوا الۡیَوۡمَ ؕ اِنَّمَا
تُجۡزَوۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
-- kamu pada hari ini jangan mengemukakan dalih, sesungguhnya kamu dibalas menurut apa yang kamu kerjakan.
(At-Tahrīm
[66]:7-8).
Berbagai Tugas
dan Kemampuan Para Malaikat
Dalam
firman-Nya berikut ini Allah Swt. secara kiasan
menjelaskan berbagai tugas (wewenang)
dan berbagai kemampuan yang
dianugerahkan-Nya kepada para malaikat:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ
وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit
dan bumi, جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- Dia menambahkan
pada ciptaan-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ
اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan apa
pun yang ditahan-Nya maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah
itu, dan Dia Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).
Kepada malaikat-malaikat
dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan
yang berlaku di alam jasmani
(QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada
mereka. Tugas mereka yang lain dan
yang lebih berat yaitu melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt. kepada
rasul-rasul-Nya (QS.71:27-29).
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat
lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat Ilahi itu. Karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), maka ayat جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat” mengandung arti
bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya
sesuai dengan kepentingan pekerjaan
yang dipercayakan kepada mereka
masing-masing, sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya: یَزِیۡدُ فِی
الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- Dia menambahkan
pada ciptaan-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Tugas Malaikat Jibril a.s. & Pentingnya Kesinambungan Wahyu Ilahi
Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan
dan sifat-sifat yang lebih besar
daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s.
adalah penghulu semua malaikat
karena itu pekerjaan mahapenting yakni
menyampaikan wahyu Ilahi
kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya
serta dilaksanakan di bawah asuhan
dan pengawasannya.
Oleh karena
itu orang-orang yang mengatakan bahwa setelah
diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4), maka seluruh jenis wahyu Ilahi telah berakhir
pewahyuannya oleh Malaikat Jibril a.s. sama saja dengan memusuhi Malaikat Jibril a.s. (QS.2:98-99;
QS.9:63; QS.58:6 & 21-22) serta telah menuduh
Allah Swt. telah kehilangan Sifat Al-Mutakallim
(Yang Maha Berbicara – QS.42:52-54).
Jika anggapan tersebut benar, lalu mengapa Allah Swt. dalam Al-Quran memerintahkan kepada manusia supaya berdoa
kepada-Nya dan Dia menyatakan akan mengabulkan doa mereka itu (QS.2:187; QS.6:64-66; QS.7:56; QS.27:63 &
206; QS.40:61.)
Sesudah menyebutkan dalam ayat
sebelumnya bahwa Allah
Swt. telah menciptakan seluruh
langit dan bumi, dan telah
menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan
ruhani manusia dengan
selengkap-lengkapnya, ayat مَا یَفۡتَحِ
اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- “Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya” mengandung arti bahwa Allah Swt. sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya
atas umat manusia dalam bentuk wahyu
Al-Quran, yang untuk memahami serta
untuk dapat memperoleh berbagai khazanah
ruhani tak terbatas yang terkandung di dalamnya (QS.18:110; QS.31:28) maka kesinambungan turunnya wahyu Ilahi tetap diperlukan (QS.3:180; QS.71:27-29).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 28 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar