Senin, 29 Desember 2014

Mereka yang Memusuhi Allah Swt., Rasul-Nya dan Memusuhi Malaikat Jibril a.s. & Pentingnya Kesinambungan "Wahyu Ilahi"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 16

Mereka yang  Memusuhi Allah Swt.,   Rasul-Nya dan Memusuhi  Malaikat Jibril a.s. & Pentingnya Kesinambungan Wahyu Ilahi


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai berbagai  tugas (wewenang) dan berbagai kemampuan yang dianugerahkan Allah Swt.  kepada para malaikat, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Segala puji milik Allah   Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ  --  Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat.  یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya   apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).

Makna  Jumlah “Ajnihah” (Sayap) Para Malaikat & Tugas Malaikat Jibril a.s.  

   Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu  melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt.   kepada rasul-rasul-Nya (QS.71:27-29).
  Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat Ilahi itu.  Karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), maka ayat  جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ  --  Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat” mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing, sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya: یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya   apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
    Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat  karena itu pekerjaan mahapenting  yakni  menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya
    Oleh karena itu orang-orang yang mengatakan bahwa  setelah  diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), maka seluruh  jenis wahyu Ilahi  telah berakhir pewahyuannya oleh Malaikat Jibril a.s. sama saja dengan memusuhi Malaikat Jibril a.s. (QS.2:98-99; QS.9:63; QS.58:6 & 21-22) serta telah  menuduh Allah Swt. telah kehilangan Sifat  Al-Mutakallim  (Yang Maha Berbicara – QS.42:52-54).
   Jika anggapan tersebut benar, lalu mengapa Allah Swt. dalam Al-Quran memerintahkan kepada manusia supaya  berdoa kepada-Nya dan Dia  menyatakan akan mengabulkan doa mereka itu  (QS.2:187; QS.6:64-66; QS.7:56; QS.27:63 & 206; QS.40:61)? Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,  karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ --    Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir. وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ --  Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik.  (Al-Baqarah [2]:98-100).

Dilarang  Membeda-bedakan Keimanan Kepada  Rasul Allah

     Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti  “orang-Tuhan yang gagah berani”, atau “abdi-Allah”. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti “khadim”; dan il berarti    “yang gagah-perkasa, kuat” (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
      Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir).   Jibril sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran.  Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril itu searti dengan Ruhulqudus  dan Ruhul-Amin (QS.16:103; QS.26:193-198).
     Menurut Bible pun tugas Jibril  adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Daniel 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada Jibril. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica pada Gabriel). Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad bin Hanbal).
       Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya “tiada sesuatu seperti Tuhan” (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu  Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
       Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian,  karena itu    barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya, ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.
        Seorang yang bersikap demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar --  yakni para Rasul Allah  --  dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.
        Itulah makna ayat: مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir   (Al-Baqarah [2]:99), dan itulah sebabnya Allah Swt.  dalam Al-Quran telah melarang orang-orang beriman untuk membenda-bedakan, firman-Nya: 
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman, کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ   -- semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,  mereka berkata:  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ   --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,  وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ --  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
       Amal-amal baik (amal shaleh) memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar. Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar.

Orang Kafir “ yang Hakiki

      Allah Swt. dengan tegas melarang bersikap kafir atau membeda-bedakan maupun mengambil jalan tengah dari kedua sikap  buruk tersebut, firman-Nya: 
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَکۡفُرُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یَقُوۡلُوۡنَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ نَکۡفُرُ بِبَعۡضٍ ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾ۙ   وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ اُجُوۡرَہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿﴾٪ 
Sesungguhnya  orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya,  وَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ  -- dan mereka ingin membeda-bedakan antara Allah dan Rasul-rasul-Nya, وَ یَقُوۡلُوۡنَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ نَکۡفُرُ بِبَعۡضٍ --  mereka mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian dan  kafir kepada sebagian lain,” وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا  -- dan mereka ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu, اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا --  mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir,  وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا -- dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan. وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ   --  dan  orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ اُجُوۡرَہُمۡ    -- dan tidak membedakan seorang pun di antara mereka, kepada mereka inilah Allah segera akan memberikan ganjaran mereka, dan Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisā[4]:1510153).
  Ayat  وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا  -- “dan mereka ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu”    berarti bahwa mereka menerima (beriman kepada) Tuhan (Allah Swt.) tetapi  menolak nabi-nabi-Nya; atau menerima beberapa nabi dan menolak yang lainnya; atau menerima beberapa  dakwa seorang seorang nabi dan menolak dakwa lainnya.
   Keimanan sejati nampak dari penyerahan diri seutuhnya dengan menerima Tuhan dan semua rasul-Nya beserta segala dakwa mereka. Tak diizinkan mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu, sebagaimana firman-Nya sebelum ini:  
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman, کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ   -- semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,  mereka berkata:  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ   --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,  وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ --  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
      Jadi, kembali kepada   firman Allah Swt. tentang  berbagai tugas para malaikat  sebelum ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --  Segala puji milik Allah   Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ  --  Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat.  یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya   apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).

Pentingnya Kesinambungan Turunnya Wahyu Ilahi

       Sesudah menyebutkan dalam ayat 2   bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan selengkap-lengkapnya, ayat  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا  --  Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya    mengandung arti,  bahwa Allah Swt.   sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu Al-Quran,  dan  untuk memahami serta untuk dapat memperoleh berbagai khazanah ruhani tak terbatas yang terkandung di dalamnya  (QS.18:110; QS.31:28)  maka  kesinambungan turunnya wahyu Ilahi tetap diperlukan (QS.3:180; QS.71:27-29).
      Mengapa demikan? Sebab mengatakan bahwa setelah pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan  Al-Quran kepada beliau saw. maka   semua jenis wahyu telah tertutup,  maka sikap seperti itu sama dengan memperlihatkan sikap permusuhan kepada Allah Swt. yang bersifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara – QS.42:52-54) dan kepada  rasul Allah, para malaikat  terutama memusuhi malaikat Jibril a.s.  yang tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu Ilahi,  firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,  karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ --    Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.  وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ --  Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik.  (Al-Baqarah [2]:98-100).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  29 Desember     2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar