بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 16
Mereka
yang Memusuhi
Allah Swt., Rasul-Nya dan Memusuhi Malaikat
Jibril a.s. & Pentingnya Kesinambungan Wahyu Ilahi
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya
telah dikemukakan mengenai berbagai tugas (wewenang) dan berbagai kemampuan yang dianugerahkan Allah Swt. kepada para malaikat, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ
وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit
dan bumi, جَاعِلِ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan
apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).
Makna Jumlah “Ajnihah” (Sayap) Para Malaikat & Tugas
Malaikat Jibril a.s.
Kepada malaikat-malaikat
dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan
yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6).
Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu melaksanakan
perintah dan kehendak Allah Swt.
kepada rasul-rasul-Nya (QS.71:27-29).
Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat Sifat Ilahi, dan ada pula malaikat
lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari Sifat-sifat Ilahi itu. Karena ajnihah merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), maka ayat جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat” mengandung arti
bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya
sesuai dengan kepentingan pekerjaan
yang dipercayakan kepada mereka
masing-masing, sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya: یَزِیۡدُ فِی
الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- Dia menambahkan
pada ciptaan-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan
dan sifat-sifat yang lebih besar
daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s.
adalah penghulu semua malaikat
karena itu pekerjaan mahapenting yakni menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul
Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.
Oleh karena itu orang-orang yang mengatakan
bahwa setelah diwahyukan-Nya
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai Kitab suci terakhir
dan tersempurna (QS.5:4), maka
seluruh jenis wahyu Ilahi telah berakhir pewahyuannya oleh Malaikat
Jibril a.s. sama saja dengan memusuhi
Malaikat Jibril a.s. (QS.2:98-99; QS.9:63; QS.58:6 & 21-22) serta
telah menuduh Allah Swt. telah kehilangan
Sifat Al-Mutakallim (Yang Maha
Berbicara – QS.42:52-54).
Jika
anggapan tersebut benar, lalu mengapa Allah Swt. dalam Al-Quran memerintahkan kepada manusia supaya berdoa
kepada-Nya dan Dia menyatakan akan mengabulkan doa mereka itu
(QS.2:187; QS.6:64-66; QS.7:56; QS.27:63 & 206; QS.40:61)? Allah
Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ
بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ
اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan izin
Allah menggenapi Kalam
yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk
dan kabar gembira bagi orang-orang yang
beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh
bagi orang-orang kafir.” وَ لَقَدۡ
اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau, dan sekali-kali tidak ada yang kafir kepadanya
kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
Dilarang Membeda-bedakan
Keimanan Kepada Rasul
Allah
Jibril itu kata majemuk
dari jabr dan il, dan berarti “orang-Tuhan yang gagah berani”, atau “abdi-Allah”.
Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti “khadim”; dan il
berarti “yang
gagah-perkasa, kuat” (Hebrew
English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari
Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir). Jibril
sebagai penghulu di antara para
malaikat (Durr Mantsur)
itu adalah pembawa wahyu Al-Quran. Menurut para ahli tafsir Al-Quran Jibril
itu searti dengan Ruhulqudus dan Ruhul-Amin
(QS.16:103; QS.26:193-198).
Menurut Bible pun tugas Jibril
adalah menyampaikan Amanat Tuhan
kepada hamba-hamba-Nya (Daniel
8:16; 9:21 dan Lukas 1:19). Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini,
menetapkan tugas yang sama kepada Jibril.
Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica pada
Gabriel). Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang
Yahudi menganggap Jibril sebagai
musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir
Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad bin Hanbal).
Mikal
(Mikail) pun salah satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang
sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya “tiada sesuatu seperti Tuhan” (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi
memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan
sebagai malaikat keamanan serta
kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir)
dan dianggap mempunyai pertalian, terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian, karena itu barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya, ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu.
Seorang yang bersikap demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar --
yakni para Rasul Allah -- dan
menjadikan dirinya layak menerima siksaan
yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.
Itulah makna ayat: مَنۡ کَانَ
عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ
رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh
bagi orang-orang kafir” (Al-Baqarah [2]:99), dan itulah
sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran telah
melarang orang-orang beriman untuk membenda-bedakan, firman-Nya:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ
بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا
وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan begitu pula orang-orang beriman, کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ -- semuanya beriman
kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,
dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami
taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada
Engkau-lah kami kembali.” (Al-Baqarah
[2]:286).
Amal-amal baik (amal shaleh) memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik
itu bersumber pada kesucian hati yang
dapat dicapai hanya dengan berpegang
pada itikad-itikad yang benar. Dari
itu, ayat ini merinci dasar-dasar
kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu beriman
kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya
menurut urutan atau tertib yang wajar.
“Orang Kafir “ yang
Hakiki
Allah Swt. dengan tegas melarang bersikap kafir
atau membeda-bedakan maupun mengambil jalan tengah dari kedua sikap buruk tersebut, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یَکۡفُرُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّفَرِّقُوۡا
بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یَقُوۡلُوۡنَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ نَکۡفُرُ
بِبَعۡضٍ ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ
اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾ۙ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ
لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ
اُجُوۡرَہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿﴾٪
Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, وَ یُرِیۡدُوۡنَ
اَنۡ یُّفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- dan mereka
ingin membeda-bedakan antara Allah
dan Rasul-rasul-Nya, وَ یَقُوۡلُوۡنَ
نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ نَکۡفُرُ بِبَعۡضٍ -- mereka mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian dan
kafir kepada sebagian lain,”
وَّ
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ
سَبِیۡلًا --
dan mereka ingin mengambil jalan tengah
di antara hal demikian itu, اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا -- mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir, وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا
مُّہِیۡنًا -- dan Kami
telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan. وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ -- dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya وَ لَمۡ
یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ
اُجُوۡرَہُمۡ --
dan tidak membedakan seorang pun di
antara mereka, kepada mereka inilah Allah
segera akan memberikan ganjaran mereka, dan Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisā[4]:1510153).
Ayat وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا
بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا -- “dan mereka
ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu” berarti bahwa mereka menerima (beriman kepada) Tuhan
(Allah Swt.) tetapi menolak nabi-nabi-Nya; atau menerima
beberapa nabi dan menolak yang
lainnya; atau menerima beberapa dakwa
seorang seorang nabi dan menolak dakwa
lainnya.
Keimanan
sejati nampak dari penyerahan diri
seutuhnya dengan menerima Tuhan dan
semua rasul-Nya beserta segala dakwa mereka. Tak diizinkan mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu,
sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ
بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا
وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan begitu pula orang-orang beriman, کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ -- semuanya beriman
kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,
dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami
taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada
Engkau-lah kami kembali.” (Al-Baqarah
[2]:286).
Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. tentang berbagai tugas
para malaikat sebelum ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ
وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit
dan bumi, جَاعِلِ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ -- Dia
menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan
apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).
Pentingnya Kesinambungan Turunnya Wahyu
Ilahi
Sesudah menyebutkan dalam ayat 2 bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan
selengkap-lengkapnya, ayat مَا یَفۡتَحِ
اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- “Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya”
mengandung arti, bahwa Allah Swt.
sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu
Al-Quran, dan untuk memahami
serta untuk dapat memperoleh berbagai khazanah
ruhani tak terbatas yang terkandung di dalamnya (QS.18:110; QS.31:28) maka kesinambungan turunnya wahyu Ilahi tetap diperlukan (QS.3:180;
QS.71:27-29).
Mengapa demikan? Sebab mengatakan bahwa setelah pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan
Al-Quran kepada beliau saw. maka
semua jenis wahyu telah tertutup, maka sikap seperti itu sama dengan
memperlihatkan sikap permusuhan
kepada Allah Swt. yang bersifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara – QS.42:52-54)
dan kepada rasul Allah, para malaikat terutama memusuhi malaikat Jibril a.s. yang tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu Ilahi, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ
بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ
اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan izin
Allah menggenapi Kalam
yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk
dan kabar gembira bagi orang-orang yang
beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh
bagi orang-orang kafir.” وَ لَقَدۡ
اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau, dan sekali-kali tidak ada yang kafir kepadanya
kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 29 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar