Senin, 22 Desember 2014

Kesempurnaan Ruh (Jiwa) Manusia Sebagai "Micro Cosmos" (Miniatur Alam Semesta) & Hubungannya dengan "Unta Betina" Nabi Shalih a.s.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 9

Kesempurnaan Ruh (Jiwa) Manusia  Sebagai Micro Cosmos (Miniatur Alam Semesta)   & Hubungannya dengan  Unta Betina” Nabi Shalih a.s.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai ‘Illiyyūn  yang dianggap oleh sebagian orang berasal dari ‘ala, yang berarti  sesuatu itu tinggi atau menjadi tinggi, maksudnya martabat-martabat paling mulia yang akan dinikmati oleh orang-orang beriman yang bertakwa.
         Menurut Kamus Al-Mufradat ‘Illiyyūn itu orang-orang bertakwa  pilihan, yang akan menikmati kelebihan ruhani di atas orang-orang beriman. Kata itu dapat juga menampilkan bagian-bagian Al-Quran yang mengandung nubuatan-nubuatan mengenai kemajuan dan kesejahteraan besar orang-orang beriman. Menurut Ibn ‘Abbas kata itu berarti surga (Tafsir Ibnu Katsir), sedang Imam Raghib menganggap ‘illiyyūn itu sebutan bagi para penghuninya, firman-Nya:
کَلَّاۤ  اِنَّ  کِتٰبَ الۡاَبۡرَارِ لَفِیۡ عِلِّیِّیۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا عِلِّیُّوۡنَ ﴿ؕ﴾  کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ﴿ۙ﴾  یَّشۡہَدُہُ  الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ﴿ۙ﴾  عَلَی الۡاَرَآئِکِ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  تَعۡرِفُ فِیۡ  وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ  النَّعِیۡمِ ﴿ۚ﴾  یُسۡقَوۡنَ مِنۡ  رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ ﴿ۙ﴾  خِتٰمُہٗ  مِسۡکٌ ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ مِزَاجُہٗ  مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali tidak, sesungguhnya rekaman orang-orang yang baik itu niscaya ada di dalam ‘illiyyīn, dan tahukah  engkau   apa ‘Illiyyūn itu  Yaitu sebuah Kitab tertulis. یَّشۡہَدُہُ  الۡمُقَرَّبُوۡنَ  --   orang-orang didekatkan kepada Allah  akan  menyaksikannya. اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ  -- sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan benar-benar dalam kenikmatan,  mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandangengkau dapat mengenal  kesegaran nikmat itu pada wajah mereka. یُسۡقَوۡنَ مِنۡ  رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ  --  mereka akan diberi minum dari minuman  yang bermeterai. خِتٰمُہٗ  مِسۡکٌ  --   Meterainya kesturi.  ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ -- dan  yang demikian itu mereka yang menginginkan  hendaknya menginginkannya.   وَ مِزَاجُہٗ  مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ    -- dan campurannya adalah tasnīm,  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا الۡمُقَرَّبُوۡنَ   -- mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.   (Al-Muthafiffīn [[83]:19-29). 

Tingkatan Kehidupan Surgawi yang Tak Terbatas & Makna Istighfaar 

     Karena sijjīn itu mufrad (tunggal) dan ‘illiyyīn jamak, maka nampak bahwa sementara hukuman bagi orang-orang berdosa akan statis yakni tetap pada satu tempat, sedangkan kemajuan ruhani orang-orang bertakwa akan berkesinambungan tanpa rintangan dan akan mengambil bentuk berbeda-beda. Mereka akan maju dari satu tingkat ruhani kepada tingkat ruhani lebih tinggi Itulah sebabnya dalam QS.66:9 digambarkan “cahaya”  mereka  berlari-ari di sebelah depan mereka dan di sebelah kanan mereka.
    Jika “minuman murni” dapat dimaksudkan Al-Quran, maka Tasnīm dapat dianggap wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada orang-orang pilihan Tuhan para pengikut Nabi Besar Muhammad saw. yang bertakwa, yang disebut al-muqarrabun, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu  akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang ber-iman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanan mereka, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ  --  mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
 Jadi, menurut ayat  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ  --  mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”   tersebut tampak, bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah  Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas,  dan memandang tiap-tiap tingkat surgawi  atau ruhani sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia berkenan menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat yang  lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Dengan demikian jelas, bahwa istighfar tidak selalu berhubungan dengan permohan pengampunan atas suatu dosa  yang telah dilakukan, seperti firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbon-dong-bondong,   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  maka bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).  Lihat pula QS.48:1-4.

Makna Sumpah Allah Swt. Dalam Al-Quran

      Untuk meraih kehidupan surgawi  yang tingkatan kesempurnaannya  tidak terbatas itulah maka Allah Swt. telah memberikan berbagai kemampuan atau potensi akhlak dan ruhani kepada ruh (jiwa) manusia,  dan dari seluruh umat manusia – bahkan seluruh rasul Allah – wujud  yang paling sempurna  kuantitas mau pun kualitasnya adalah Nabi Besar Muhammad saw., sehingga beliau saw. mendapat gelar Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾   وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾  
 Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Dan demi bulan apabila ia mengikutinya,  dan demi siang  apabila ia menzahirkan kemegahannya,  dan demi malam  apabila ia menutupinya,  dan demi langit dan pembinaannya,  dan demi bumi dan penghamparannya,  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya. فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا --   maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا --   sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا    -- dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.  (Asy-Syams [91]:1-11).
   Huruf wau berarti:  juga; maka; sedangkan; sementara itu; pada waktu itu juga; bersama-sama; dengan; namun; tetapi. Huruf itu mempunyai arti yang sama dengan kata rubba, yaitu seringkali; kadang-kadang; barangkali. Huruf itu pun merupakan huruf persumpahan, yang berarti “demi” atau “aku bersumpah” atau “aku kemukakan sebagai saksi” (Aqrab-al-Mawarid dan Lexicon Lane). Wau telah dipakai dalam ayat ini dan dalam dua ayat berikutnya dalam arti “demi,” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”
  Dalam Al-Quran Allah Ta’ala telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda tertentu atau telah menyebut wujud-wujud dan benda-benda itu sebagai saksi. Biasanya, bila seseorang mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allah maka tujuannya ialah mengisi kelemahan persaksian yang kurang cukup atau menambah bobot atau meyakinkan pernyataannya.  Dengan berbuat demikian ia memanggil Allah Swt.  sebagai saksi,  bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tidak ada orang lain dapat memberikan persaksian atas kebenaran pernyataannya.
  Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al-Quran. Bilamana Al-Quran mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan dibuktikan dengan suatu pernyataan belaka melainkan dengan dalil kuat yang terkandung dalam sumpah itu sendiri. Kadang-kadang sumpah-sumpah itu menunjuk kepada hukum alam yang nyata dan dengan sendirinya menarik perhatian kepada apa yang dapat diambil arti, yaitu hukum-hukum ruhani dari apa yang nyata. Tujuan sumpah Al-Quran lainnya ialah menyatakan suatu nubuatan, yang dengan menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran Al-Quran. Demikianlah halnya di sini.

Berbagai Khasiat    Ciptaan Allah Swt. dan Ruh (Jiwa) Manusia

  Jadi, sumpah-sumpah dalam Al-Quran mengandung makna yang mendalam. Hukum Allah menampakkan dua segi perbuatan-Nya,  yaitu yang nyata dan yang tersirat. Segi pertama dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami yang terakhir (yang tersirat) ada kemungkinan bisa keliru.
  Dalam sumpah-sumpah-Nya, Allah Swt. menarik perhatian kita kepada apa yang dapat disimpulkan dari benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah tersebut pada ayat-ayat 2-7, matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, termasuk “yang nyata” – karena khasiat-khasiat benda-benda tersebut pada ayat-ayat ini telah dimaklumi serta diakui secara umum.
   Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat pada ruh (jiwa) manusia “tidak nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan mengenal adanya khasiat-khasiat dalam ruh manusia maka Allah Swt.  telah menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata itu sebagai saksi.  
 “Matahari” dalam ayat  وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا  -- “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari.” dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar Muhammad saw.  – yang merupakan sumber seluruh cahaya ruhani dan yang akan terus-menerus menyinari dunia sampai Akhir Zaman (QS.33:46-48).   
“Bulan” dalam ayat وَ الۡقَمَرِ  اِذَا  تَلٰىہَا  -- “demi bulan apabila ia mengikutinya” dapat juga menunjuk kepada  Nabi Besar Muhammad saw.    sebab beliau menerima cahaya dari Allah Swt. dan menyiarkan cahaya itu pada malam hari    ke persada alam ruhani yang gelap itu (QS.36:39-41).
    Atau kata “bulan” itu dapat pula menunjuk kepada para Wali Allah dan para Imam Zaman (Mujaddid) – khususnya kepada wakil agung beliau saw..,  Al-Masih Mau’ud a.s.. – yang akan menerima cahaya kebenaran dari  Nabi Besar Muhammad saw.   dan menyiarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan ruhani (QS.62:3-4).
  “Siang”  dalam ayat  وَ النَّہَارِ  اِذَا  جَلّٰىہَا -- “demi siang  apabila ia menzahirkan kemegahannya dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran pendirinya ditegakkan serta dasar-dasar telah ditegakkan untuk  penyebarluasannya di dunia. Isyarat yang terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin, ketika cahaya Islam memancar dengan segala kemegahan dan kejayaannya.
 Malam”  dalam ayat  وَ الَّیۡلِ  اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ -- “demi malam  apabila ia menutupinyadapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosotan orang-orang Islam ketika cahaya Islam telah tersembunyi dari mata dunia (QS.25:46-48; QS.32:6).
Keempat ayat ini (2-5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu, yaitu:
  (1) Masa  Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar Muhammad saw.) sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala ruhani;
 (2) Masa wakil agung beliau saw., yaitu,  Al-Masih Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya) yang diperoleh dari   Nabi Besar Muhammad saw.  dipantulkan ke suatu dunia yang gelap;
  (3) Masa para khalifah  Nabi Besar Muhammad saw.  ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan
  (4) Masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah lewat 3  abad pertama kejayaan Islam (QS.32:6).
  Huruf   dalam ayat  وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ  -- “demi langit dan pembinaannya, dan dalam dua ayat berikutnya وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا طَحٰہَا -- dan demi bumi dan penghamparannya,    وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya” adalah masdariyah atau berarti alladzi, yakni  “ia yang”. Dengan demikian dalam ayat-ayat ini perhatian telah dipusatkan pada Sang Perencana dan Sang Arsitek Agung alam semesta ini (Allah Swt.) atau pada penyempurnaan alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan.

Kesempurnaan Potensi Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

  Ayat  وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا --   dan demi jiwa dan penyempurnaannya”    berarti  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk Allah Swt. dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
    Pada hakikatnya, manusia adalah micro cosmos (alam semesta ukuran    kecil) atau miniatur  alam semesta, dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil segala sesuatu yang terwujud di alam semesta. Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan   bulan ia memancarkan kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
    Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih. Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
   Laksana  bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang , sebagai cobaan  (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
    Demikianlah   perumpamaan keadaan  orang-orang kudus dan para mushlih rabbani (reformer),  di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad  Rasulullah saw..  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.  Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya, dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.  (Asy-Syams [91]:1-11).
 Allah Swt. telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
     
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  21 Desember     2014







Tidak ada komentar:

Posting Komentar