بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 9
Kesempurnaan
Ruh (Jiwa) Manusia Sebagai Micro
Cosmos (Miniatur Alam Semesta) & Hubungannya dengan “Unta
Betina” Nabi Shalih a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
‘Illiyyūn yang dianggap oleh sebagian orang berasal dari ‘ala, yang
berarti sesuatu itu tinggi atau menjadi
tinggi, maksudnya martabat-martabat
paling mulia yang akan dinikmati oleh
orang-orang beriman yang bertakwa.
Menurut Kamus Al-Mufradat ‘Illiyyūn itu
orang-orang bertakwa pilihan, yang akan menikmati kelebihan ruhani di atas orang-orang
beriman. Kata itu dapat juga menampilkan bagian-bagian
Al-Quran yang mengandung nubuatan-nubuatan
mengenai kemajuan dan kesejahteraan besar orang-orang beriman.
Menurut Ibn ‘Abbas kata itu berarti surga (Tafsir Ibnu Katsir), sedang Imam Raghib menganggap ‘illiyyūn itu
sebutan bagi para penghuninya,
firman-Nya:
کَلَّاۤ اِنَّ
کِتٰبَ الۡاَبۡرَارِ لَفِیۡ عِلِّیِّیۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا عِلِّیُّوۡنَ ﴿ؕ﴾ کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ﴿ۙ﴾ یَّشۡہَدُہُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ﴿ۙ﴾ عَلَی الۡاَرَآئِکِ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ تَعۡرِفُ فِیۡ
وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ النَّعِیۡمِ
﴿ۚ﴾ یُسۡقَوۡنَ مِنۡ
رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ ﴿ۙ﴾ خِتٰمُہٗ
مِسۡکٌ ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مِزَاجُہٗ
مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali
tidak, sesungguhnya rekaman orang-orang
yang baik itu niscaya ada di dalam ‘illiyyīn,
dan tahukah engkau apa ‘Illiyyūn
itu Yaitu sebuah Kitab tertulis. یَّشۡہَدُہُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ
-- orang-orang didekatkan kepada Allah akan menyaksikannya.
اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ -- sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan benar-benar dalam kenikmatan,
mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang,
engkau
dapat mengenal kesegaran nikmat itu pada wajah mereka. یُسۡقَوۡنَ
مِنۡ رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ -- mereka
akan diberi minum dari minuman yang bermeterai. خِتٰمُہٗ مِسۡکٌ
-- Meterainya
kesturi. ؕ
وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ -- dan yang
demikian itu mereka yang menginginkan
hendaknya menginginkannya. وَ مِزَاجُہٗ مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ -- dan campurannya
adalah tasnīm, عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا الۡمُقَرَّبُوۡنَ -- mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada
Allah. (Al-Muthafiffīn [[83]:19-29).
Tingkatan Kehidupan Surgawi yang Tak Terbatas & Makna Istighfaar
Karena
sijjīn itu mufrad (tunggal) dan ‘illiyyīn jamak, maka nampak
bahwa sementara hukuman bagi
orang-orang berdosa akan statis yakni
tetap pada satu tempat, sedangkan kemajuan
ruhani orang-orang bertakwa akan berkesinambungan tanpa rintangan dan
akan mengambil bentuk berbeda-beda. Mereka akan maju dari satu tingkat ruhani
kepada tingkat ruhani lebih tinggi
Itulah sebabnya dalam QS.66:9 digambarkan “cahaya” mereka
berlari-ari di sebelah depan mereka dan di sebelah kanan mereka.
Jika “minuman
murni” dapat dimaksudkan Al-Quran,
maka Tasnīm dapat dianggap wahyu Ilahi
yang dianugerahkan kepada orang-orang
pilihan Tuhan para pengikut Nabi
Besar Muhammad saw. yang bertakwa,
yang disebut al-muqarrabun,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi
maupun orang-orang yang ber-iman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanan mereka, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrīm
[66]:9).
Jadi, menurut ayat یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” tersebut tampak, bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan
kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa
kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus
naik kian menanjak ke atas, dan
memandang tiap-tiap tingkat surgawi
atau ruhani sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan
oleh mereka, dan karena itu akan berdoa
kepada Allah Swt. supaya Dia berkenan menutupi
ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat yang lebih tinggi itu. Inilah
makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti
“mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Dengan demikian jelas, bahwa istighfar
tidak selalu berhubungan dengan permohan pengampunan atas suatu dosa yang telah dilakukan, seperti firman Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ
النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ
اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah berbon-dong-bondong,
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا
-- maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, sesungguhnya
Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr
[110]:1-4). Lihat pula QS.48:1-4.
Makna Sumpah Allah Swt. Dalam Al-Quran
Untuk meraih kehidupan surgawi yang tingkatan kesempurnaannya tidak
terbatas itulah maka Allah Swt. telah memberikan berbagai kemampuan atau potensi akhlak dan ruhani kepada ruh (jiwa) manusia,
dan dari seluruh umat manusia – bahkan seluruh rasul Allah – wujud
yang paling sempurna kuantitas mau pun kualitasnya adalah Nabi Besar
Muhammad saw., sehingga beliau saw. mendapat gelar Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾
وَ الشَّمۡسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡقَمَرِ اِذَا
تَلٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ النَّہَارِ اِذَا
جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الَّیۡلِ اِذَا یَغۡشٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ وَ
مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا
طَحٰہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ
اَفۡلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ
مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi
matahari dan sinarnya
di pagi hari. Dan demi bulan
apabila ia mengikutinya, dan demi
siang apabila ia menzahirkan kemegahannya, dan demi malam apabila ia
menutupinya, dan demi langit dan pembinaannya, dan
demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا -- dan
demi jiwa dan penyempurnaannya. فَاَلۡہَمَہَا
فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا -- maka Dia
mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya
dan ketakwaannya. قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا -- sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams [91]:1-11).
Huruf wau berarti: juga; maka; sedangkan; sementara itu; pada
waktu itu juga; bersama-sama; dengan; namun; tetapi. Huruf itu mempunyai arti
yang sama dengan kata rubba, yaitu seringkali; kadang-kadang;
barangkali. Huruf itu pun merupakan huruf persumpahan,
yang berarti “demi” atau “aku bersumpah” atau “aku kemukakan sebagai saksi” (Aqrab-al-Mawarid dan Lexicon
Lane). Wau telah dipakai dalam ayat ini dan dalam dua ayat
berikutnya dalam arti “demi,” atau “aku bersumpah,” atau “aku kemukakan sebagai saksi.”
Dalam Al-Quran Allah Ta’ala telah bersumpah atas nama wujud-wujud atau benda-benda
tertentu atau telah menyebut wujud-wujud
dan benda-benda itu sebagai saksi. Biasanya, bila seseorang
mengambil sumpah dan bersumpah dengan nama Allah maka tujuannya ialah mengisi kelemahan persaksian yang kurang cukup atau menambah bobot atau meyakinkan pernyataannya. Dengan berbuat demikian ia memanggil Allah Swt. sebagai saksi, bahwa ia mengucapkan hal yang benar bila tidak ada orang lain
dapat memberikan persaksian atas
kebenaran pernyataannya.
Tetapi tidaklah demikian halnya dengan sumpah-sumpah Al-Quran. Bilamana Al-Quran
mempergunakan bentuk demikian maka kebenaran
pernyataan yang dibuatnya itu tidak diusahakan dibuktikan dengan suatu
pernyataan belaka melainkan dengan dalil
kuat yang terkandung dalam sumpah
itu sendiri. Kadang-kadang sumpah-sumpah
itu menunjuk kepada hukum alam yang nyata
dan dengan sendirinya menarik perhatian
kepada apa yang dapat diambil arti, yaitu hukum-hukum
ruhani dari apa yang nyata. Tujuan sumpah
Al-Quran lainnya ialah menyatakan suatu nubuatan,
yang dengan menjadi sempurnanya membuktikan kebenaran
Al-Quran. Demikianlah halnya di sini.
Berbagai Khasiat Ciptaan
Allah Swt. dan Ruh (Jiwa) Manusia
Jadi, sumpah-sumpah
dalam Al-Quran mengandung makna yang
mendalam. Hukum Allah menampakkan dua
segi perbuatan-Nya, yaitu yang nyata dan yang tersirat.
Segi pertama dapat diketahui dengan mudah, tetapi dalam memahami yang terakhir (yang
tersirat) ada kemungkinan bisa keliru.
Dalam sumpah-sumpah-Nya, Allah Swt. menarik perhatian kita kepada apa
yang dapat disimpulkan dari benda yang nyata. Dalam sumpah-sumpah tersebut pada ayat-ayat
2-7, matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, termasuk “yang nyata”
– karena khasiat-khasiat benda-benda
tersebut pada ayat-ayat ini telah dimaklumi serta diakui secara umum.
Namun khasiat-khasiat serupa yang terdapat pada ruh (jiwa) manusia “tidak
nyata”. Untuk membawa kepada kesimpulan
mengenal adanya khasiat-khasiat dalam
ruh manusia maka Allah Swt. telah menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata
itu sebagai saksi.
“Matahari” dalam ayat وَ الشَّمۡسِ
وَ ضُحٰہَا -- “Demi matahari dan
sinarnya di pagi hari.” dapat menunjuk kepada matahari alam ruhani – Nabi Besar
Muhammad saw. – yang
merupakan sumber seluruh cahaya ruhani dan yang akan
terus-menerus menyinari dunia sampai Akhir Zaman (QS.33:46-48).
“Bulan” dalam ayat وَ الۡقَمَرِ اِذَا تَلٰىہَا -- “demi
bulan apabila ia
mengikutinya” dapat juga menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebab
beliau menerima cahaya dari Allah Swt.
dan menyiarkan cahaya itu pada malam
hari ke persada alam
ruhani yang gelap itu (QS.36:39-41).
Atau kata “bulan” itu dapat pula menunjuk kepada para Wali Allah dan para Imam
Zaman (Mujaddid) – khususnya kepada wakil
agung beliau saw.., Al-Masih Mau’ud a.s.. –
yang akan menerima cahaya kebenaran
dari Nabi Besar Muhammad saw. dan
menyiarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan
akhlak dan ruhani (QS.62:3-4).
“Siang” dalam ayat وَ
النَّہَارِ اِذَا جَلّٰىہَا -- “demi siang apabila ia
menzahirkan kemegahannya” dapat menunjuk kepada masa tatkala Amanat Islam serta kebenaran pendirinya ditegakkan serta dasar-dasar telah ditegakkan untuk penyebarluasannya di dunia. Isyarat yang
terkandung di dalam ayat ini mungkin tertuju kepada masa Khulafaur-Rasyidin, ketika cahaya
Islam memancar dengan segala kemegahan dan kejayaannya.
Malam” dalam ayat
وَ الَّیۡلِ اِذَا
یَغۡشٰىہَا ۪ۙ -- “demi malam apabila ia menutupinya” dapat menunjuk kepada masa kemunduran
dan kemerosotan orang-orang Islam
ketika cahaya Islam telah tersembunyi
dari mata dunia (QS.25:46-48; QS.32:6).
Keempat ayat ini (2-5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan
Islam yang penuh peristiwa itu, yaitu:
(1) Masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri,
ketika Matahari Ruhani (Nabi Besar
Muhammad saw.) sedang memancar dengan
sangat megahnya di cakrawala ruhani;
(2) Masa wakil agung beliau saw., yaitu, Al-Masih Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya) yang diperoleh dari Nabi
Besar Muhammad saw. dipantulkan ke suatu dunia yang gelap;
(3) Masa para khalifah Nabi Besar Muhammad saw. ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan
(4) Masa ketika kegelapan ruhani telah meluas ke seluruh
dunia yang terjadi sesudah lewat 3 abad
pertama kejayaan Islam (QS.32:6).
Huruf mā
dalam ayat وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ -- “demi langit dan pembinaannya,
dan dalam dua ayat berikutnya وَ الۡاَرۡضِ
وَ مَا طَحٰہَا -- dan demi bumi dan penghamparannya, وَ نَفۡسٍ
وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa
dan penyempurnaannya” adalah
masdariyah atau berarti alladzi, yakni “ia yang”. Dengan demikian dalam ayat-ayat
ini perhatian telah dipusatkan pada Sang
Perencana dan Sang Arsitek Agung
alam semesta ini (Allah Swt.) atau pada penyempurnaan
alam semesta serta kebebasannya yang penuh dari setiap macam cacat dan kekurangan.
Kesempurnaan Potensi Akhlak dan Ruhani
Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا -- “dan demi jiwa dan penyempurnaannya” berarti
bahwa semua khasiat yang
dipersembahkan benda-benda langit
seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka
melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk Allah Swt. dan yang mengenai kenyataan
itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian
bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat
lebih tinggi.
Pada
hakikatnya, manusia adalah micro
cosmos (alam semesta ukuran kecil)
atau miniatur alam semesta, dan dalam dirinya
ditampilkan dalam skala kecil segala
sesuatu yang terwujud di alam semesta. Bagaikan matahari ia memancarkan
cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu. Bagaikan bulan
ia memancarkan kembali cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang
dipinjamnya dari Surber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka
yang bermukim di dalam kegelapan.
Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan
kebenaran dan kebajikan. Bagaikan malam
ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban
mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih. Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang
bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member
kesegaran.
Laksana bumi
ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah
telapak kaki orang-orang , sebagai cobaan
(ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu tumbuhlah
dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon
ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
Demikianlah perumpamaan
keadaan orang-orang kudus dan para mushlih
rabbani (reformer), di antaranya
yang terbesar dan paling sempurna ialah Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw.. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا
وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ قَدۡ خَابَ
مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. Sungguh
beruntunglah orang yang
mensucikannya, dan sungguh binasalah
orang yang mengotorinya. (Asy-Syams
[91]:1-11).
Allah Swt. telah menanamkan dalam fitrat
manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah
mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat
memperoleh kesempurnaan ruhani
dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 21 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar