بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 8
Al-Quran
Selain Sebagai Petunjuk Paling
Sempurna Mampu Menggelincirkan “Orang-orang
Berhati Bengkok dan Berpenyakit”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai dua
macam atau dua perangkat ayat Al-Quran,
beberapa di antaranya muhkam (kokoh dan pasti dalam artinya) dan
lain-lainnya mutasyābih (yang dapat diberi penafsiran berbeda-beda).
Cara yang tepat untuk mengartikan ayat mutasyābih adalah arti yang dapat
diterima hanyalah yang sesuai dengan ayat-ayat muhkam, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ
اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ
مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ -- di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok
Al-Kitab, وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ -- sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا
تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ -- Adapun orang-orang
yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt karena ingin
menimbulkan fitnah dan ingin
mencari-cari takwilnya yang salah, وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ -- padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali
Allah, وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ -- dan orang-orang yang memiliki pe-ngetahuan mendalam یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ
مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا -- berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ -- Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang
yang mempergunakan akal.” (Ali ‘Imran [3]:8).
Kesempurnaan Ayat-ayat Al-Quran
Dalam QS.39:24 Allah Swt. menyatakan bahwa seluruh Al-Quran disebut mutasyābih,
sedang dalam QS.11:2 semua ayat Al-Quran dikatakan muhkam.
Hal itu tak boleh dianggap bertentangan
dengan ayat yang sedang dibahas ini bahwa menurut ayat ini beberapa ayat
Al-Quran itu muhkam dan beberapa lainnya mutasyabih.
Maknanya
adalah bahwa sepanjang hal yang menyangkut maksud
hakiki ayat-ayat Al-Quran, seluruh Al-Quran itu muhkam dalam
pengertian bahwa ayat-ayatnya mengandung kebenaran-kebenaran
pasti dan kekal-abadi. Tetapi dalam pengertian lain seluruh Al-Quran itu mutasyābih,
sebab ayat-ayat Al-Quran itu disusun dengan kata-kata demikian rupa, sehingga
pada waktu itu juga ayat itu mempunyai berbagai
arti yang sama-sama benar dan baik.
Al-Quran itu mutasyābih pula
(menyerupai satu sama lain) dalam pengertian bahwa tidak ada pertentangan atau ketidakselarasan di dalamnya,
berbagai ayat-ayatnya bantu-membantu.
Tetapi ada bagian-bagiannya yang tentu muhkam, dan yang lain mutasyābih
untuk berbagai pembaca menurut ilmu
pengetahuan, keadaan mental, dan kemampuan alami mereka seperti dikemukakan
oleh ayat sekarang ini, firman-Nya:
اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا
فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا﴿﴾
Maka tidakkah
mereka ingin merenungkan Al-Quran? Dan seandainya Al-Quran ini berasal dari sisi yang bukan-Allah, niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya. (An-Nisā
[4]:83).
“Pertentangan”
dapat mengacu kepada pertentangan-pertentangan dalam teks Al-Quran dan ajaran-ajaran
yang terkandung di dalamnya; atau kepada ketidakadaan
persesuaian antara nubuatan-nubuatan
yang tersebut dalam Al-Quran dengan hasil atau penggenapan nubuatan-nubuatan itu.
Adapun nubuatan-nubuatan
yang dikemukakan dengan bahasa yang jelas dan langsung menyerap
satu arti saja harus dianggap sebagai muhkam, sedangkan nubuatan-nubuatan yang digambarkan
dengan bahasa majaz (kiasan) dan mampu menyerap tafsiran lebih dari satu harus dianggap mutasyābih. Karena
itu nubuatan-nubuatan yang digambarkan
dengan bahasa majaz (perumpamaan, kiasan) harus ditafsirkan sesuai
dengan nubuatan-nubuatan yang jelas
dan secara harfiah menjadi sempurna dan pula sesuai dengan asas-asas ajaran
Islam yang pokok.
Untuk nubuatan-nubuatan yang muhkam
para pembaca diingatkan kepada QS.58:22, sedang QS.28:86 berisikan nubuatan-nubuatan yang mutasyābih.
Istilah muhkam dapat pula dikenakan kepada ayat-ayat yang mengandung peraturan-peraturan yang penuh dan lengkap, sedang ayat-ayat mutasyābih
itu ayat-ayat yang memberikan bagian dari perintah
tertentu dan perlu dibacakan bersama-sama dengan ayat-ayat lain untuk
menjadikan suatu perintah yang
lengkap.
Muhkamat (ayat-ayat yang jelas dan pasti)
umumnya membahas hukum dan itikad-itikad agama, sedang mutasyābihāt
umumnya membahas pokok pembahasan yang menduduki tingkat kedua menurut
pentingnya atau menggambarkan peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan nabi-nabi atau
sejarah bangsa-bangsa, dan dalam
berbuat demikian kadang-kadang memakai tata-bahasa (idiom) serta peribahasa-peribahasa yang dapat
dianggap mempunyai berbagai arti.
Doa Memohon Terhindar dari “Kebengkokan
Hati”
Ayat-ayat yang seperti itu hendaknya jangan diartikan demikian rupa,
sehingga seolah-olah bertentangan dengan ajaran-ajaran
agama yang diterangkan dengan kata-kata
yang jelas. Baiklah dicatat di sini bahwa penggunaan kiasan-kiasan yang menjadi dasar pokok ayat-ayat mutasyābih
dalam Kitab-kitab Suci, perlu sekali
menjamin keluasan arti dengan
kata-kata sesingkat-singkatnya, untuk menambah keindahan dan keagungan gaya
bahasanya dan untuk memberikan kepada manusia suatu percobaan yang tanpa itu perkembangan dan penyempurnaan ruhaninya tidak akan mungkin tercapai.
Atas dasar itulah maka lanjutan dari ayat وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ -- dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ
مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا -- berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ -- Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang
yang mempergunakan akal.” (Ali ‘Imran [3]:8), selanjutnya berdoa kepada Allah Swt.:
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ
اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah
kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali ‘Imran [3]:9).
Doa yang diajarkan Allah Swt. tersebut
merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang mungkin timbul sehubungan dengan judul
Bab sebelumnya – bahwa Agama Islam
(Al-Quran) merupakan ”sumber mata air ruhani” umat manusia
yang paling sempurna -- tetapi dalam kenyataannya di kalangan umumnya umat
Islam pun marak terjadi berbagai tindak
kekerasan dan kezaliman dengan mengatasnamakan
Al-Quran?
Dari ayat sebelumnya mengenai dua macam ayat
Al-Quran – yakni yang muhkamat dan
yang mutasyabihat -- serta dari ayat selanjutnya berupa doa agar terhindar dari kebengkokan hati tersebut diketahui,
bahwa pada hakikatnya makrifat Al-Quran
hanya dianugerahkan kepada mereka yang berhati
suci (QS.56:80), firman-Nya: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ
فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ
تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ -- adapun orang-orang
yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt karena ingin
menimbulkan fitnah dan ingin
mencari-cari takwilnya yang salah, وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ -- padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali
Allah” (QS.3:8).
Kemampuan Al-Quran
“Menyesatkan” Orang-orang yang “Berhati Bengkok dan Berpenyakit”
Dalam Surah lain Allah Swt.
berfirman sehubungan celaan terhadap
banyaknya berbagai perumpamaan dalam
Al-Quran, misalnya perumpamaan
tentang surga, firman-Nya:
اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا
ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ
ۚ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا ۘ یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sesungguhnya
Allah tidak malu mengemukakan suatu perumpamaan sekecil nyamuk bahkan
yang lebih kecil dari itu,
فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَیَعۡلَمُوۡنَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّہِمۡ -- ada pun orang-orang yang beriman maka mereka
mengetahui bahwa sesungguhnya perumpamaan
itu kebenaran dari Rabb (Tuhan) mereka,
وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَیَقُوۡلُوۡنَ مَا ذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِہٰذَا مَثَلًا -- sedangkan orang-orang kafir maka mereka mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan
ini?” ۘ یُضِلُّ بِہٖ
کَثِیۡرًا ۙ وَّ یَہۡدِیۡ بِہٖ کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dengannya Dia menyesatkan banyak orang
dan dengannya pula Dia memberi petunjuk banyak orang, وَ مَا یُضِلُّ بِہٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan sekali-kali tidak ada yang Dia sesatkan dengannya kecuali
orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:27).
Jadi, kembali kepada doa agar Allah Swt. menghindarkan kita dari “kebengkokan hati” setelah
mendapat “petunjuk” yang
dikemukakan firman-Nya sebelum ini:
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ
اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah
kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali ‘Imran [3]:9).
Bahwa makrifat Al-Quran yang hakiki hanya dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka yang berhati suci (QS.56:80), firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ
اِنَّہٗ لَقَسَمٌ لَّوۡ
تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan, dan sesungguhnya itu benar-benar kesaksian agung,
seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ
کَرِیۡمٌ -- sesungguhnya itu benar-benar Al-Quran yang mulia, فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ
-- dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا یَمَسُّہٗۤ اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
-- yang tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan. ۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.” (Al-Wāqi’ah [56]:76-81).
Makna Sumpah Allah Swt. Dalam Al-Quran & Kitab Suci Abadi yang “Terpelihara”
Huruf lā
pada umumnya dipergunakan untuk memberikan tekanan arti pada suatu
sumpah, yang berarti, bahwa hal yang akan diterangkan lebih lanjut adalah
begitu jelas, sehingga tidak diperlukan memanggil sesuatu yang lain untuk
memberikan kesaksian atas kebenarannya. Bila yang dimaksudkan ialah sanggahan
terhadap suatu praduga (hipotesa)
tertentu, maka lā itu
dipergunakan untuk menyatakan, bahwa apa yang tersebut sebelumnya tidak benar
dan yang benar ialah yang berikutnya.
Ayat ini bersumpah
dengan dan berpegang kepada nujum yang berarti bagian-bagian Al-Quran (Lexicon Lane), sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa
Al-Quran luar-biasa cocoknya untuk
memenuhi tujuan besar di balik kejadian manusia, demikian pula untuk
membuktikan keberasalan Al-Quran
sendiri dari Allah Swt., Pencipta
seluruh alam.
Jika kata mawāqi’ diambil dalam arti tempat-tempat dan waktu
bintang-bintang berjatuhan, maka ayat ini bermakna bahwa telah merupakan hukum Ilahi yang tidak pernah salah
bahwa pada saat ketika seorang Mushlih
rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah muncul maka
terjadi gejala meteoric berupa bintang-bintang
berjatuhan dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah
terjadi juga di masa Nabi Besar Muhammad
saw..
Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara
dan terjaga baik, merupakan tantangan
terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantang-an itu tetap tidak
terjawab atau tidak mendapat sambutan. Tidak ada upaya yang telah disia-siakan
para pengecam yang tidak bersahabat
untuk mencela kemurnian teksnya.
Tetapi semua daya upaya ke
arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan –
walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab yang disodorkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada dunia empat belas abad yang lalu, telah
sampai kepada kita tanpa perubahan
barang satu huruf pun (Williams
Muir).
Makna ayat لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
-- “yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”, bahwa Al-Quran
adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan
dalam ayat berikutnya.
Ayat ini pun dapat berarti
bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu cita-cita dan asas-asas
itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam karena itu antara Al-Quran
dengan tatanan alam semesta tidak ada
yang bertentangan, bahlan saling
menguatkan, karena Al-Quran merupakan Kalam
(Firman) Allah Swt. sedangkan alam semesta merupakan perbuatan Allah Swt..
Seperti hukum alam, cita-cita dan asas-asas itu
juga kekal dan tidak berubah serta hukum-hukumnya
tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman, demikian juga halnya dengan Al-Quran. Atau, ayat ini dapat diartikan
bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat
yang telah dianugerahkan Allah Swt.kepada manusia (QS.30:31).
Fitrat
insani berlandaskan pada hakikat-hakikat
dasar dan telah dilimpahi kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara
jujur bertindak sesuai dengan naluri
atau fitratnya ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
Al-Quran “Minuman
Surgawi” yang “Disegel”
Hanya
orang yang bernasib baik
sajalah yang diberi pengertian mengenai dan dan
dapat mendalami kandungan arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara
menjalani kehidupan bertakwa lalu
meraih kebersihan hati dan dimasukkan
ke dalam alam rahasia ruhani makrifat
Ilahi, yang tertutup bagi
orang-orang yang hatinya tidak bersih.
Secara sambil lalu dikatakannya bahwa
kita hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik kita tidak bersih.
Jadi, Al-Quran itu bagaikan
“minuman surgawi” yang disegel dengan misik,
firman-Nya:
کَلَّاۤ اِنَّ
کِتٰبَ الۡاَبۡرَارِ لَفِیۡ عِلِّیِّیۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا عِلِّیُّوۡنَ ﴿ؕ﴾ کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ﴿ۙ﴾ یَّشۡہَدُہُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ﴿ۙ﴾ عَلَی الۡاَرَآئِکِ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ تَعۡرِفُ فِیۡ
وُجُوۡہِہِمۡ نَضۡرَۃَ النَّعِیۡمِ
﴿ۚ﴾ یُسۡقَوۡنَ مِنۡ
رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ ﴿ۙ﴾ خِتٰمُہٗ
مِسۡکٌ ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مِزَاجُہٗ
مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ عَیۡنًا یَّشۡرَبُ
بِہَا الۡمُقَرَّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali
tidak, sesungguhnya rekaman orang-orang
yang baik itu niscaya ada di dalam ‘illiyyīn,
dan tahukah engkau apa ‘Illiyyūn
itu Yaitu sebuah Kitab tertulis. یَّشۡہَدُہُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ
-- orang-orang didekatkan kepada Allah akan menyaksikannya.
اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ -- sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan benar-benar dalam kenikmatan,
mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang, engkau
dapat mengenal kesegaran nikmat itu pada wajah mereka. یُسۡقَوۡنَ
مِنۡ رَّحِیۡقٍ مَّخۡتُوۡمٍ -- mereka
akan diberi minum dari minuman yang bermeterai. خِتٰمُہٗ مِسۡکٌ
-- Meterainya
kesturi. ؕ
وَ فِیۡ ذٰلِکَ فَلۡیَتَنَافَسِ الۡمُتَنَافِسُوۡنَ -- dan yang
demikian itu mereka yang menginginkan
hendaknya menginginkannya. وَ مِزَاجُہٗ مِنۡ تَسۡنِیۡمٍ -- dan campurannya
adalah tasnīm, عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا الۡمُقَرَّبُوۡنَ -- mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan kepada
Allah. (Al-Muthafiffīn
[[83]:19-29).
‘Illiyyūn
yang dianggap oleh sebagian orang berasal dari ‘ala, yang
berarti sesuatu itu tinggi atau menjadi
tinggi, maksudnya martabat-martabat
paling mulia yang akan dinikmati oleh
orang-orang beriman yang bertakwa. Menurut Kamus Al-Mufradat ‘Illiyyūn
itu orang-orang bertakwa pilihan, yang akan menikmati kelebihan ruhani di atas orang-orang
beriman. Kata itu dapat juga menampilkan bagian-bagian
Al-Quran yang mengandung nubuatan-nubuatan
mengenai kemajuan dan kesejahteraan besar orang-orang beriman.
Menurut Ibn ‘Abbas kata itu berarti surga (Tafsir Ibnu Katsir), sedang Imam Raghib menganggap ‘illiyyūn itu
sebutan bagi para penghuninya.
Karena sijjīn itu mufrad (tunggal) dan ‘illiyyīn
jamak, maka nampak bahwa sementara hukuman
bagi orang-orang berdosa akan statis
yakni tetap pada satu tempat, sedangkan kemajuan
ruhani orang-orang bertakwa akan berkesinambungan tanpa rintangan dan
akan mengambil bentuk berbeda-beda. Mereka akan maju dari satu tingkat ruhani
kepada tingkat ruhani lebih tinggi
Itulah sebabnya dalam QS.66:9 digambarkan “cahaya” mereka
berlari-ari di sebelah depan mereka dan di sebelah kanan mereka.
Jika “minuman murni” dapat dimaksudkan Al-Quran, maka Tasnīm dapat
dianggap wahyu Ilahi yang
dianugerahkan kepada orang-orang pilihan
Tuhan para pengikut Nabi Besar
Muhammad saw. yang bertakwa,
yang disebut al-muqarrabun,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh
jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi
maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanan mereka, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
se-suatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
Tingkat -tingkat “Kehidupan
Surgawi” di Akhirat yang Tak terbatas
Jadi, menurut ayat tersebut
tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan
kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa
kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus
naik kian menanjak ke atas, dan memandang
tiap-tiap tingkat surgawi
atau ruhani sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan
oleh mereka, dan karena itu akan berdoa
kepada Allah Swt. supaya Dia berkenan menutupi
ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat yang lebih tinggi itu. Inilah
makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti
“mohon ampunan atas segala kealpaan.”
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 20 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar