بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 17
Berbeda
dengan Para Malaikat yang Senantiasa “Bertasbih” Kepada Allah Swt., Manusia
Diberi Kebebasan Bersikap Terhadap Amanat (Syariat) Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai berbagai tugas dan kemampuan para malaikat yang berlainan dalam firman-Nya
berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ
وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
|
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit
dan bumi, جَاعِلِ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ -- Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan
yang bersayap dua, tiga
dan empat. یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ -- Dia
menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya, وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan
apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Fathīr [35]:1-3).
Pentingnya Kesinambungan Turunnya Wahyu
Ilahi
Sesudah menyebutkan dalam ayat 2 bahwa Allah Swt. telah menciptakan seluruh langit dan bumi, dan telah menyediakan keperluan-keperluan jasmani dan ruhani manusia dengan
selengkap-lengkapnya, ayat مَا یَفۡتَحِ
اللّٰہُ لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ
فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا -- “Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia
maka tidak ada yang dapat menahannya”
mengandung arti, bahwa Allah Swt.
sekarang sudah menakdirkan melimpahkan rahmat-Nya atas umat manusia dalam bentuk wahyu
Al-Quran, dan untuk memahami
serta untuk dapat memperoleh berbagai khazanah
ruhani tak terbatas yang terkandung di dalamnya (QS.18:110; QS.31:28) maka kesinambungan turunnya wahyu Ilahi tetap diperlukan (QS.3:180;
QS.71:27-29).
Mengapa demikan? Sebab mengatakan bahwa setelah pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan
Al-Quran kepada beliau saw. maka
semua jenis wahyu telah tertutup, maka sikap seperti itu sama dengan
memperlihatkan sikap permusuhan
kepada Allah Swt. yang bersifat Al-Mutakallim (Maha Berbicara) dan
kepada rasul Allah, para malaikat termasuk malaikat
Jibril a.s. dan malaikat Mikail a.s.,
firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ
کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ
اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ
بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ
اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,
karena sesungguhnya dialah yang menurunkannya ke dalam hati engkau dengan izin
Allah menggenapi Kalam
yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk
dan kabar gembira bagi orang-orang yang
beriman. مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّلّٰہِ وَ
مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَدُوٌّ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- ”Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh
bagi orang-orang kafir.” وَ لَقَدۡ
اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau, dan sekali-kali tidak ada yang kafir kepadanya
kecuali orang-orang fasik. (Al-Baqarah [2]:98-100).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya kesinambungan “wahyu-Nya” kepada lebah madu:
وَ اَوۡحٰی
رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ
الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ کُلِیۡ
مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ
بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah: اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ
بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ -- “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon
dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا -- kemudian
makanlah dari setiap buah-buahan,
dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ
بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl [16]: 69-70).
Wahyu Ilahi kepada Tatanan Langit
Wahyu Ilahi berkenaan dengan lebah madu ini berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah
Swt. telah menganugerahi
semua makhluk. Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh tatanan alam semesta dengan lancar dan berhasil
bergantung pada wahyu Ilahi, baik yang
nyata ataupun tersembunyi, firman-Nya:
ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾ فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ
سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ
ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾
Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
lalu Dia berfirman kepadanya dan
kepada bumi: ائۡتِیَا
طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ
-- ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa.
Keduanya menjawab: ”Kami berdua
datang dengan rela.” Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- dan Dia
mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya. وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ
ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ -- Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta memeliharanya. Demikian
itu adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha
Mengetahui. (Al-Fushshilat [41]:12-13).
Makna
kurhan atau karhan dalam kedua bentuknya adalah katabenda (ism) masdar dari kata kariha
(ia tidak menyukai); yang pertama (kurhan) berarti “apa yang kamu sendiri tidak menyukai”,
dan yang kedua (kurhan) berarti “apa yang kamu terpaksa mengerjakannya,
bertentangan dengan kemauanmu sendiri atas kehendak orang lain.” Fa'alahu
karhan berarti ia melakukannya
karena terpaksa (Lexicon Lane).
Segala Sesuatu di Alam
Semesta “Bertasbih” kepada Allah Swt.
Jadi,
menurut ayat ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ
قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ --
”Datanglah kamu berdua dengan
rela atau pun terpaksa. Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela,” berarti bahwa segala sesuatu di dalam alam
semesta ini tunduk kepada dan bekerja sesuai dengan hukum-hukum tertentu yang ditetapkan
Allah Swt. kepada semua komponen tatanan alam semesta tersebut -- dibawah pengendalian para malaikat --
yang dalam Al-Quran disebut mereka itu bertasbih
kepada Allah Swt. (QS.2:31; QS.17:45;
QS.24:42; QS.57:2; QS.61:2; QS.62:2;
QS.64:2).
Segala sesuatu di alam semesta ini tidak mempunyai
kebebasan berbuat. Hanya manusialah yang dianugerahi kehendak atau pikiran untuk mentaati ataupun menentang hukum Ilahi, dan bukan tidak jarang ia mempergunakan
pikirannya yang membawa kerugian
kepada dirinya sendiri.
Itu pulalah arti dan maksud ayat QS.33:73-74
mengenai makna sikap zhalum dan jahul manusia sehubungan dengan amanat (syariat) yang ditawarkan Allah Swt. kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung,
firman-Nya:
اِنَّا
عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ
اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ
کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ
اللّٰہُ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ
وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat kepada
seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ
اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا -- tetapi
semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ
کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا -- akan sedangkan insan (manusia) memikulnya,
sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan abai terhadap dirinya. لِّیُعَذِّبَ
اللّٰہُ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ
وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ -- Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik
lelaki dan orang-orang munafik
perempuan, dan orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang
musyrik perempuan, وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا -- dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki
dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (Al-Ahzāb
[33]:73-74).
Berbagai Makna Kata Zhalum
(Zhalim)
Hamala al-amānata berarti: ia
membebankan atas dirinya atau menerima amanat;
ia mengkhianati amanat itu. Zhalum
adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama,
yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu
berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul
adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
(1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya Sifat-sifat
Ilahi untuk menayang citra
(bayangan) Khāliq-nya (QS.2:31).
Sungguh inilah amanat agung yang
hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata sanggup melaksanakannya; sedangkan makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat,
seluruh langit (planit-planit), bumi, dan gunung-gunung -- sama sekali
tidak dapat menandinginya.
Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat
itu, tetapi manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah
yang dapat melaksanakannya. Ia mampu
menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul
(mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap dirinya sendiri dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan
menjalani pengorbanan apa pun demi Khāliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti
bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya
yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan
kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan
hidup. Dalam makna inilah manusia
disebut Khalifah Allah di muka bumi.
(2) Jika kata al-amānat
diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran
dan kata al-insan sebagai manusia
sempurna, yakni, Nabi Besar Muhammad
saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi,
hanyalah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat
yang paling sempurna dan terakhir,
yakni agama Islam (Al-Quran –
QS.5:4), sebab kecuali beliau saw. tidak ada orang atau wujud lain -- termasuk
Nabi Musa a.s. (QS.7:143-148) -- yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak
diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab
besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya (QS.3:32; QS.33:22;
QS,68:1-5).
(3) Kalau kata hamala
diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat,
maka ayat ini akan berarti bahwa amanat
syariat Ilahi telah dibebankan
atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka
itu semua — kecuali manusia — menolak
mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia
menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
Seluruh tatanan alam semesta setia kepada hukum-hukumnya yang telah ditetapkan
atau diwahyukan Allah Swt. kepada mereka (QS.41:13) dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.2:31;
QS.13:16; QS.22:19; QS.16:49-51; QS.55:7-10), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkemauan
mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt. (QS.18:30), sebab ia aniaya dan mengabaikan
serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya.
Manusia Diberi Kebebasan
Bersikap Oleh Allah Swt.
Arti demikian mengenai ayat ini
didukung oleh QS.41:12, berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اتۡلُ
مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنۡ کِتَابِ رَبِّکَ ۚؕ لَا مُبَدِّلَ لِکَلِمٰتِہٖ ۚ۟ وَ لَنۡ
تَجِدَ مِنۡ دُوۡنِہٖ مُلۡتَحَدًا ﴿﴾ وَ اصۡبِرۡ نَفۡسَکَ مَعَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَدٰوۃِ وَ الۡعَشِیِّ یُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَہٗ وَ لَا
تَعۡدُ عَیۡنٰکَ عَنۡہُمۡ ۚ تُرِیۡدُ زِیۡنَۃَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ لَا تُطِعۡ
مَنۡ اَغۡفَلۡنَا قَلۡبَہٗ عَنۡ ذِکۡرِنَا وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ وَ کَانَ
اَمۡرُہٗ فُرُطًا ﴿﴾ وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ
سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی
الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ
الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿﴾
Dan
bacakanlah apa yang telah diwahyukan
kepada engkau dari Kitab Rabb (Tuhan) engkau, لَا مُبَدِّلَ
لِکَلِمٰتِہٖ -- tidak
ada yang dapat mengubah perkataan-Nya, وَ لَنۡ تَجِدَ مِنۡ دُوۡنِہٖ مُلۡتَحَدًا -- dan engkau tidak akan pernah mendapatkan selain dari
Dia tempat berlindung. Dan bersabarlah diri engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb (Tuhan)
mereka pagi dan petang hari untuk mencari
keridhaan-Nya, dan janganlah pandangan mata engkau berpaling dari mereka
karena engkau menghendaki perhiasan
kehidupan dunia, dan janganlah
engkau mengikuti orang yang Kami telah melalaikan hatinya dari mengingat Kami serta mengikuti
hawa nafsunya dan urusannya telah
melampaui batas. وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ -- Dan katakanlah: ”Inilah haq
dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- karena itu
barangsiapa menghendaki maka berimanlah,
dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”,
اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا -- sesungguhnya
Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya mengepung
mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ -- dan jika mereka berteriak meminta tolong,
mereka akan ditolong dengan air seperti
leburan timah, yang akan menghanguskan
wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minuman itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! (Al-Kahf
[18]:28-30).
Jadi, sehubungan dengan ayat
mengenai “kebebasan memilih dan
bersikap” yang diberikan Allah Swt. kepada manusia: وَ قُلِ الۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکُمۡ -- Dan
katakanlah: ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan)
kamu, فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- karena itu
barangsiapa menghendaki maka berimanlah,
dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah,”
Allah Swt. dalam Surah lain berfirman:
لَاۤ
اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ
یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ
بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ
لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ
اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ﴿﴾٪
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh
jalan benar itu nyata bedanya
dari kesesatan, فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ
الۡوُثۡقٰی -- karena
itu barangsiapa kafir kepada thāghūt
dan beriman kepada Allah,
maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- tidak akan putus, dan Allah Maha
Mendengar, Maha Mengetahui. اَللّٰہُ وَلِیُّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ -- Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya,
وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی
الظُّلُمٰتِ -- dan orang-orang
kafir pelindung mereka adalah thāghūt, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai
kege-lapan, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka
itu penghuni Api, me-reka kekal di
dalamnya. (Al-Baqarah [2]: 157-158).
Ajaran Islam (Al-Quran) Melarang
Melakukan Paksaan dan Kekerasan
Ayat 157
melenyapkan salah paham itu
dan bukan saja dengan kata-kata yang sangat tegas melarang kaum Muslimin mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik
orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk
tujuan tersebut. Alasan itu ialah
karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan
untuk membenarkan penggunaan kekerasan
karena Islam (Al-Quran) adalah kebenaran yang nyata.
Thāghūt
dalam ayat فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ
الۡوُثۡقٰی -- karena
itu barangsiapa kafir kepada thāghūt
dan beriman kepada Allah,
maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- tidak akan putus,” adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala.
Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 30 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar