بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 4
Arti “Jahannam” dan Mereka yang Berlutut di dalam “Neraka Jahannam”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pertanyaan atau pernyataan Allah Swt dalam
ayat ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ
الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا -- “Bukankah
telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum menjadi sesuatu
yang layak disebut?” Merupakan jawaban Allah Swt. terhadap keraguan atau bantahan yang dikemukakan oleh orang-orang kafir mengenai adanya kehidupan di alam akhirat
yang dikemukakan rasul Allah yang dibangkitkan
dari kalangan mereka, bahwa jika dalam kenyataannya Allah Swt. berkuasa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (nirwujud – QS.19:8-10) atau pengulangan penciptaan (QS.17:50-53; QS.36:79-84), terlebih lagi jika sekedar penciptaan lanjutan dari yang sudah “ada”, contohnya adalah kehidupan akhirat, firman-Nya:
وَ خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ نَفۡسٍۭ
بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی
عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ
وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ
غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ
مِنۡۢ بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ
اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ
اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا
یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾ وَ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ
حُجَّتَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ
قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلِ اللّٰہُ یُحۡیِیۡکُمۡ
ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ
اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا
رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit dan
bumi dengan benar, supaya setiap
jiwa dibalas sesuai apa yang dia usahakan dan mereka tidak akan dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی
عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ
وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ
غِشٰوَۃً -- Pernahkan engkau merenungkan
orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Allah menyesatkan menurut ilmu-Nya dan Dia memeterai telinganya serta
hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya?
Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا
حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ -- Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan
lain selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali
tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu." وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَظُنُّوۡنَ -- Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu, tidaklah
mereka kecuali hanya menduga-duga.
Dan apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain berkata: ائۡتُوۡا
بِاٰبَآئِنَاۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- "Datangkanlah
bapak-bapak kami jika kamu orang
benar." قُلِ اللّٰہُ یُحۡیِیۡکُمۡ
ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ
اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ
فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾ -- Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan
kamu, kemudian Dia menghimpunkan
kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada
keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah [45]:23-27).
Ketidak-percayaan Penganut Faham Atheisme Mengenai Kehidupan Akhirat
Dalam
ayat َ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ
نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا
الدَّہ– dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan
lain selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali
tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu," dahr berarti: (a) Waktu semenjak permulaan dunia hingga akhirnya; sesuatu jangka waktu atau sesuatu bagian kurun zaman; (b) nasib; (c) peristiwa penting; (d) pergantian zaman; malapetaka; (e) kebiasaan,
dan sebagainya (Lexicon Lane).
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa ketika orang-orang kafir diberitahu bahwa
mereka kelak harus mempertanggungjawaban
amal perbuatan mereka di hadirat
Ilahi di akhirat, mereka menolak
mempercayai bahwa ada kehidupan
semacam itu.
Kebalikannya,
malahan mereka menyangka bahwa suatu kaum mati dan kaum lain menggantikannya, dan peristiwa
itu terus berlaku hingga dengan berlalunya
masa segala zat menjadi lebur (hancur)
dan dengan demikian sama sekali menjadi binasa.
Inilah menurut mereka yang menjadi maksud
dan tujuan akhir kejadian manusia dan
tidak ada kehidupan di hari kemudian (akhirat), firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ
الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ
اُخۡرَجُ حَیًّا ﴿﴾ اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ
مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾ فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ جَہَنَّمَ
جِثِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ شِیۡعَۃٍ
اَیُّہُمۡ اَشَدُّ عَلَی
الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَحۡنُ
اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾ وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ
اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ
الظّٰلِمِیۡنَ فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾
Dan
insan (manusia) berkata: ”Apakah jika aku mati aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?" Ataukah
manusia tidak ingat bahwa Kami
telah menciptakan dia dahulu, padahal
dia tadinya bukanlah sesuatu. Maka demi Rabb
(Tuhan) engkau, niscaya Kami akan
menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannamdalam keadaan berlutut. Kemudian niscaya Kami akan memisahkan
dari tiap-tiap golongan siapa-siapa
di antara mereka yang lebih keras dalam
kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah. Lalu
sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya. Dan tidak
ada seorang pun dari antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan
Rabb (Tuhan) engkau. Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim itu berlutut di da-lamnya. (Maryam
[19]:67-73).
Al-insān (manusia) di sini bukan
berarti manusia pada umumnya, melainkan golongan manusia
tertentu yaitu orang-orang kafir yang
bernasib sial dan ragu-ragu
akan adanya kehidupan sesudah mati.
Pada hakikatnya di dunia ini sangat sedikit
orang yang menolak sama sekali
adanya kehidupan sesudah mati. Bukan
dengan ucapan mulut melainkan dengan amal-perbuatan dan perilaku
mereka — kesibukan mereka dalam
mengejar tujuan-tujuan kebendaan —
mereka menyatakan keraguan dan penolakan terhadap adanya kehidupan di seberang kubur (di akhirat).
Jawaban Allah Swt. Kepada Penganut Faham
Atheisme & Makna “Neraka
Jahannam” dan “Penghuninya”
Kata “sesuatu” dalam ayat وَ لَمۡ یَکُ شَیۡئًا
-- “padahal dia tadinya bukanlah
sesuatu” yakni “sesuatu” yang pantas disebut,
atau yang mempunyai sesuatu nilai
atau bersifat penting. Arti ini
didukung oleh firman Allah Swt. sebelumnya: ہَلۡ
اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ لَمۡ
یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا
-- “Bukankah telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum menjadi sesuatu
yang layak disebut?” (QS.76:2).
Kata Tsumma dalam ayat
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ
حَوۡلَ جَہَنَّمَ جِثِیًّا
-- “kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut,” yang berarti:
kemudian, ialah, sesudah itu, adalah kata depan atau kata penghubung yang menunjukkan urutan dan pertangguhan. Terkadang dipakai untuk menunjukkan urutan dalam uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya. Tsumma
berarti pula "dan" dan "maka" (Lexicon Lane).
Dalam ayat tersebut tsumma adalah kata penghubung yang menunjukkan urutan menurut uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya, dan mengandung arti "dan". Dengan
demikian kata itu berarti “dan Kami
memberitahukan kepada engkau hal yang lain, bahwa لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ
جَہَنَّمَ جِثِیًّا -- Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut.”
Dalam bahasa
Ibrani kata jahannam disebut gehenna, yang dalam bahasa Arami
asal-mulanya ialah hinnom, tetapi
belakangan berubah menjadi gehinnom (Encyclopaedia
Biblica) yang berarti "lembah
maut atau lembah kehancuran".
Kata itu mungkin pula majemuk dari jahannam yang berarti “ia pergi mendekat”, dan jahuma
yang berarti “mukanya berkerut”, maka
jahannam dapat pula berarti suatu
benda atau tempat yang mula-mula orang
menyukainya tetapi ketika ia menghampirinya
ia menjadi tidak lagi menyukainya,
lalu mengerutkan mukanya untuk
menunjukkan kebenciannya kepada benda atau tempat itu. Dengan demikian bentuk kata itu sendiri menjelaskan
sifat dan hakikat neraka.
Kata-kata
ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ
اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا -- “Lalu sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya” itu dapat berarti:
(a) mereka yang
lebih pantas untuk dibakar dalam api daripada dibiarkan ada di luarnya;
(b) mereka yang
lebih layak daripada yang lainnya untuk dibakar dalam api;
(c) mereka yang
lebih pantas untuk dihukum dengan dilemparkan ke dalam api daripada dengan cara
lain manapun.
Kata pengganti kum (kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ
حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا -- “Dan
tidak ada seorang pun dari
antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi
kepastian yang telah ditetapkan Rabb
(Tuhan) engkau”, tidak
dikenakan kepada semua orang. Kata pengganti itu dikenakan seperti nampak
dari letaknya kalimat ini hanya kepada
orang-orang kafir dan kepada mereka yang meragukan
adanya kehidupan sesudah mati.
Semua
golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinva. Menurut
Ibn ‘Abbas r.a. dan Ikrimah
r.a. pengertian yang lain
dari minkum (di antara kamu) adalah minkum (di antara mereka),
sedang Ibn ‘Abbas r.a. biasa
mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang-orang
kafir (Qurthubi).
Kesalahan Memahami Ayat Mengenai Para “Penghuni
Jahannam”
Jadi kata
pengganti kum (kamu) yang telah disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas
ditujukan kepada orang-orang kafir.
Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan secara tegas mendukung
pandangan, bahwa orang-orang beriman
yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan
senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62;
QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh
dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun
hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam
ayat tersebut dianggap mencakup orang-orang beriman maupun orang-orang
kafir, maka dalam hal orang-orang
kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka
semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang-orang beriman makna api
neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti api
percobaan dan penderitaan-penderitaan
yang harus mereka lalui di jalan Allah
dalam kehidupan di dunia ini, dan
yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan
ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat
berikutnya.
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri telah menjelaskan arti ayat ini.
Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat pernah berkata: "Pada sekali peristiwa, ketika Rasulullah
saw. bersabda bahwa tidak ada
seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah ikut-serta dalam
Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya menarik perhatian beliau kepada ayat ini,
mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini,
serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan),
firman-Nya: ثُمَّ نُنَجِّی
الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ
فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti
akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim itu berlutut di dalamnya. (Maryam
[19]:67-73).”
Kenyataan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a. kepada ayat berikutnya (ayat 73)
menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma
yang terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan" serta telah
menganggap ayat berikutnya sebagai kalimat
yang berdiri sendiri dan terpisah,
sebab jika tidak demikian tentu beliau saw.
tidak akan gusar kepada Siti Hafshah
r.a. oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang
dibahas ini.
Kata Tsumma dalam ayat
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ
حَوۡلَ جَہَنَّمَ جِثِیًّا
-- “kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut,” yang berarti: kemudian, ialah, sesudah itu,
adalah kata depan atau kata penghubung yang menunjukkan urutan dan pertangguhan. Terkadang dipakai untuk menunjukkan urutan dalam uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya. Tsumma
berarti pula "dan" dan "maka" (Lexicon Lane), firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ
الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ
اُخۡرَجُ حَیًّا ﴿﴾ اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ
مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾ فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ جَہَنَّمَ
جِثِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ شِیۡعَۃٍ
اَیُّہُمۡ اَشَدُّ عَلَی
الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَحۡنُ
اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾ وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ
اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ
الظّٰلِمِیۡنَ فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾
Dan
manusia berkata: ”Apakah jika aku mati aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?" Ataukah
manusia tidak ingat bahwa Kami
telah menciptakan dia dahulu, padahal
dia tadinya bukanlah sesuatu. Maka demi Rabb
(Tuhan) engkau, niscaya Kami akan
menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut. Kemudian niscaya Kami akan memisahkan
dari tiap-tiap golongan siapa-siapa
di antara mereka yang lebih keras dalam
kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah. Lalu
sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya. Dan tidak
ada seorang pun dari antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan
Rabb (Tuhan) engkau. Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang
zalim itu berlutut di da-lamnya. (Maryam
[19]:67-73).
Dalam ayat tersebut tsumma adalah kata penghubung yang menunjukkan urutan menurut uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya, dan mengandung arti "dan". Dengan
demikian kata itu berarti “dan Kami
memberitahukan kepada engkau hal yang lain, bahwa لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ
جَہَنَّمَ جِثِیًّا -- Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut.”
Kata-kata
ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ
اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا -- “Lalu sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya” itu dapat berarti:
(a) mereka yang lebih pantas untuk dibakar dalam api daripada dibiarkan ada di luarnya;
(b) mereka yang lebih layak daripada yang lainnya
untuk dibakar dalam api;
(c) mereka yang lebih pantas untuk dihukum dengan dilemparkan ke dalam api
daripada dengan cara lain manapun.
Kata pengganti kum (kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ
حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا -- “Dan
tidak ada seorang pun dari
antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi
kepastian yang telah ditetapkan Rabb
(Tuhan) engkau”, tidak dikenakan kepada semua orang. Kata pengganti
itu dikenakan seperti nampak dari letaknya kalimat ini hanya kepada orang-orang kafir dan kepada
mereka yang meragukan adanya kehidupan sesudah mati.
Semua
golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinva. Menurut
Ibn ‘Abbas r.a. dan Ikrimah
r.a. pengertian yang lain
dari minkum (di antara kamu) adalah minhum (di antara mereka),
sedang Ibn ‘Abbas r.a. biasa
mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang-orang
kafir (Qurthubi).
Jadi kata pengganti kum (kamu) yang telah
disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas ditujukan kepada orang-orang kafir. Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan
secara tegas mendukung pandangan, bahwa orang-orang
beriman yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan
senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62;
QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh
dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun
hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam
ayat tersebut dianggap mencakup orang-orang beriman maupun orang-orang
kafir, maka dalam hal orang-orang
kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka
semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang-orang beriman makna api
neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti api
percobaan dan penderitaan-penderitaan
yang harus mereka lalui di jalan Allah
dalam kehidupan di dunia ini, dan
yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan
ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat
berikutnya.
Nabi Besar
Muhammad saw. sendiri telah
menjelaskan arti ayat ini. Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat
pernah berkata: "Pada sekali
peristiwa, ketika Rasulullah saw. bersabda
bahwa tidak ada seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah
ikut-serta dalam Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya menarik perhatian beliau kepada ayat ini,
mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini,
serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan),
firman-Nya: ثُمَّ نُنَجِّی
الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ
فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti
akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim itu berlutut di dalamnya. (Maryam
[19]:67-73).”
Kenyataan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a. kepada ayat berikutnya (ayat 73)
menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma
yang terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan" serta telah
menganggap ayat berikutnya sebagai kalimat
yang berdiri sendiri dan terpisah,
sebab jika tidak demikian tentu beliau saw.
tidak akan gusar kepada Siti Hafshah
r.a. oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang
dibahas ini.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar