Selasa, 16 Desember 2014

Arti "Jahannam" & Mereka yang Berlutut di Dalam "Neraka Jahannam"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 4

Arti “Jahannam” dan Mereka yang Berlutut di dalam “Neraka Jahannam


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai pertanyaan atau pernyataan Allah Swt dalam  ayat  ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا  --  Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum menjadi  sesuatu yang layak disebut?” Merupakan jawaban  Allah Swt. terhadap keraguan atau bantahan  yang dikemukakan oleh orang-orang kafir mengenai adanya kehidupan di alam akhirat yang  dikemukakan rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka, bahwa jika dalam kenyataannya Allah Swt. berkuasa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (nirwujud – QS.19:8-10) atau pengulangan penciptaan (QS.17:50-53; QS.36:79-84), terlebih  lagi jika sekedar penciptaan lanjutan dari yang sudah “ada”,  contohnya adalah kehidupan akhirat, firman-Nya:
وَ خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ  نَفۡسٍۭ بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ  لَا  یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ  مِنۡۢ  بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾  وَ اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ حُجَّتَہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ  قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit dan bumi dengan benar, supaya  setiap jiwa dibalas sesuai apa yang dia usahakan dan mereka tidak akan dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً   -- Pernahkan engkau  merenungkan  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah menyesatkan  menurut ilmu-Nya  dan Dia memeterai telinganya serta  hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya? Maka siapakah yang  dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?  وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ --  Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan lain  selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu." وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ  --  Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu,  tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga.    Dan apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, tidak ada  bantahan  mereka selain berkata: ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- "Datangkanlah bapak-bapak kami jika kamu orang benar."  قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾   -- Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia  mematikan kamu, kemudian Dia menghimpunkan kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah [45]:23-27).

Ketidak-percayaan Penganut Faham Atheisme  Mengenai   Kehidupan Akhirat

     Dalam ayat  َ     قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہ– dan  mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada kehidupan lain  selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu," dahr berarti: (a) Waktu semenjak permulaan dunia hingga akhirnya; sesuatu jangka waktu atau sesuatu bagian kurun zaman; (b) nasib; (c) peristiwa penting; (d) pergantian zaman; malapetaka; (e) kebiasaan, dan sebagainya (Lexicon Lane).
    Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa ketika orang-orang kafir diberitahu bahwa mereka kelak harus   mempertanggungjawaban   amal perbuatan mereka di hadirat Ilahi di akhirat, mereka menolak mempercayai bahwa ada kehidupan semacam itu.
    Kebalikannya, malahan mereka menyangka bahwa suatu kaum mati dan kaum lain menggantikannya, dan peristiwa itu terus berlaku hingga dengan berlalunya masa segala zat menjadi lebur (hancur) dan dengan demikian sama sekali menjadi binasa. Inilah menurut mereka yang menjadi maksud dan tujuan akhir kejadian manusia dan tidak ada kehidupan di hari kemudian (akhirat),  firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ  لَسَوۡفَ اُخۡرَجُ  حَیًّا ﴿﴾  اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ  وَ لَمۡ  یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾  فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ  لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ  شِیۡعَۃٍ  اَیُّہُمۡ  اَشَدُّ عَلَی الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾  وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾ 
Dan insan  (manusia) berkata: ”Apakah jika aku mati  aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?"   Ataukah  manusia tidak ingat   bahwa Kami telah menciptakan dia dahulu, padahal  dia tadinya bukanlah sesuatu.  Maka demi Rabb (Tuhan) engkau, niscaya Kami akan menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannamdalam keadaan berlutut.   Kemudian niscaya Kami  akan memisahkan dari tiap-tiap golongan siapa-siapa di antara mereka yang lebih keras dalam kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah. Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya.   Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau.   Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di da-lamnya. (Maryam [19]:67-73).
     Al-insān (manusia) di sini bukan berarti manusia pada umumnya, melainkan golongan  manusia tertentu yaitu orang-orang kafir yang bernasib sial   dan ragu-ragu akan adanya kehidupan sesudah mati. Pada hakikatnya di dunia ini sangat sedikit  orang yang menolak sama sekali adanya kehidupan sesudah mati. Bukan dengan ucapan mulut  melainkan dengan amal-perbuatan dan perilaku mereka — kesibukan mereka dalam mengejar tujuan-tujuan kebendaan — mereka menyatakan keraguan dan penolakan terhadap adanya kehidupan di seberang kubur (di akhirat).

Jawaban Allah Swt. Kepada Penganut Faham Atheisme &   Makna “Neraka Jahannam” dan “Penghuninya

  Kata “sesuatu” dalam ayat وَ لَمۡ  یَکُ شَیۡئًا  -- “padahal  dia tadinya bukanlah sesuatu” yakni “sesuatu” yang pantas disebut, atau yang mempunyai sesuatu nilai atau bersifat penting. Arti ini didukung oleh  firman Allah Swt.  sebelumnya: ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا  --  Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum menjadi  sesuatu yang layak disebut?” (QS.76:2).
   Kata  Tsumma  dalam ayat  ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا  --  “kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam  dalam keadaan berlutut,” yang berarti:  kemudian, ialah, sesudah itu, adalah kata depan atau kata penghubung yang menunjukkan urutan dan pertangguhan. Terkadang dipakai untuk menunjukkan urutan dalam uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya. Tsumma berarti pula "dan" dan "maka" (Lexicon Lane).
    Dalam ayat tersebut  tsumma adalah kata penghubung yang menunjukkan urutan menurut uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya, dan mengandung arti "dan". Dengan demikian kata itu berarti  “dan Kami memberitahukan kepada engkau hal yang lain, bahwa   لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا  -- Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam  dalam keadaan berlutut.”
   Dalam bahasa Ibrani kata jahannam disebut gehenna, yang dalam bahasa Arami asal-mulanya ialah hinnom, tetapi belakangan berubah menjadi ge­hinnom (Encyclopaedia Biblica) yang berarti "lembah maut atau lembah kehancuran". Kata itu mungkin pula majemuk dari jahannam yang berarti “ia pergi mendekat”, dan jahuma yang berarti “mukanya berkerut”, maka jahannam dapat pula berarti  suatu benda atau tempat yang mula-mula orang menyukainya tetapi ketika ia menghampirinya ia menjadi tidak lagi menyukainya, lalu mengerutkan mukanya untuk menunjukkan kebenciannya kepada benda atau tempat itu. Dengan demikian bentuk kata itu sendiri menjelaskan sifat dan hakikat neraka.  
  Kata-kata    ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا -- “Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya” itu dapat berarti:
 (a) mereka yang lebih pantas untuk dibakar dalam api daripada dibiarkan ada di luarnya;
 (b) mereka yang lebih layak daripada yang lainnya untuk dibakar dalam api;
 (c) mereka yang lebih pantas untuk dihukum dengan dilemparkan ke dalam api daripada dengan cara lain manapun.
  Kata pengganti kum (kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا  -- “Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau”,     tidak dikenakan kepada semua orang. Kata pengganti itu dikenakan seperti nampak dari letaknya kalimat ini  hanya kepada orang-orang kafir dan kepada mereka yang meragukan adanya kehidupan sesudah mati.
   Semua golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-­ayat yang mendahuluinva. Menurut Ibn ‘Abbas r.a.  dan Ikrimah r.a.  pengertian yang lain dari minkum (di antara kamu) adalah minkum (di antara mereka), sedang Ibn ‘Abbas r.a.  biasa mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang­-orang kafir (Qurthubi).

Kesalahan Memahami Ayat Mengenai Para “Penghuni Jahannam

   Jadi kata pengganti kum (kamu) yang telah disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas ditujukan kepada orang-orang kafir. Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan secara tegas mendukung pandangan, bahwa orang-orang beriman yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62; QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
   Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam ayat tersebut  dianggap mencakup orang-orang beriman  maupun orang-orang kafir, maka dalam hal orang-orang kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang­-orang beriman makna api neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti  api percobaan dan penderitaan-penderitaan yang harus mereka lalui di jalan Allah dalam kehidupan di dunia ini, dan yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat berikutnya.
   Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri telah menjelaskan arti ayat ini. Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat pernah berkata: "Pada sekali peristiwa, ketika Rasulullah saw.  bersabda bahwa tidak ada seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah ikut-serta dalam Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya  menarik perhatian beliau kepada ayat ini, mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena  kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini, serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan), firman-Nya:  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di dalamnya. (Maryam [19]:67-73).”
   Kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a.  kepada ayat berikutnya (ayat 73) menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma yang terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan" serta  telah menganggap ayat berikutnya sebagai kalimat yang berdiri sendiri dan terpisah, sebab jika tidak demikian  tentu beliau saw. tidak akan gusar kepada Siti Hafshah r.a.  oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang dibahas ini.
        Kata  Tsumma  dalam ayat  ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا  --  “kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam  dalam keadaan berlutut,” yang berarti:  kemudian, ialah, sesudah itu, adalah kata depan atau kata penghubung yang menunjukkan urutan dan pertangguhan. Terkadang dipakai untuk menunjukkan urutan dalam uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya. Tsumma berarti pula "dan" dan "maka" (Lexicon Lane), firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ  لَسَوۡفَ اُخۡرَجُ  حَیًّا ﴿﴾  اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ  وَ لَمۡ  یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾  فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ  لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ  شِیۡعَۃٍ  اَیُّہُمۡ  اَشَدُّ عَلَی الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾  وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾ 
Dan manusia berkata: ”Apakah jika aku mati  aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?"   Ataukah  manusia tidak ingat   bahwa Kami telah menciptakan dia dahulu, padahal  dia tadinya bukanlah sesuatu.  Maka demi Rabb (Tuhan) engkau, niscaya Kami akan menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut.   Kemudian niscaya Kami  akan memisahkan dari tiap-tiap golongan siapa-siapa di antara mereka yang lebih keras dalam kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah.   Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya.   Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau.   Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di da-lamnya. (Maryam [19]:67-73).
    Dalam ayat tersebut  tsumma adalah kata penghubung yang menunjukkan urutan menurut uraian, dan bukan urutan yang sebenarnya, dan mengandung arti "dan". Dengan demikian kata itu berarti  “dan Kami memberitahukan kepada engkau hal yang lain, bahwa   لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا  -- Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam  dalam keadaan berlutut.”
   Kata-kata    ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا -- “Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya” itu dapat berarti:
(a) mereka yang lebih pantas untuk dibakar dalam api daripada dibiarkan ada di luarnya;
(b) mereka yang lebih layak daripada yang lainnya untuk dibakar dalam api;
(c) mereka yang lebih pantas untuk dihukum dengan dilemparkan ke dalam api daripada dengan cara lain manapun.
  Kata pengganti kum (kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا  -- “Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau”,     tidak dikenakan kepada semua orang. Kata pengganti itu dikenakan seperti nampak dari letaknya kalimat ini  hanya kepada orang-orang kafir dan kepada mereka yang meragukan adanya kehidupan sesudah mati.
   Semua golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-­ayat yang mendahuluinva. Menurut Ibn ‘Abbas r.a.  dan Ikrimah r.a.  pengertian yang lain dari minkum (di antara kamu) adalah minhum (di antara mereka), sedang Ibn ‘Abbas r.a.  biasa mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang­-orang kafir (Qurthubi).
Jadi kata pengganti kum (kamu) yang telah disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas ditujukan kepada orang-orang kafir. Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan secara tegas mendukung pandangan, bahwa orang-orang beriman yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62; QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam ayat tersebut  dianggap mencakup orang-orang beriman  maupun orang-orang kafir, maka dalam hal orang-orang kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang­-orang beriman makna api neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti  api percobaan dan penderitaan-penderitaan yang harus mereka lalui di jalan Allah dalam kehidupan di dunia ini, dan yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat berikutnya.
 Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri telah menjelaskan arti ayat ini. Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat pernah berkata: "Pada sekali peristiwa, ketika Rasulullah saw.  bersabda bahwa tidak ada seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah ikut-serta dalam Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya  menarik perhatian beliau kepada ayat ini, mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena  kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini, serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan), firman-Nya:  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di dalamnya. (Maryam [19]:67-73).”
   Kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a. kepada ayat berikutnya (ayat 73) menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma yang terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan" serta  telah menganggap ayat berikutnya sebagai kalimat yang berdiri sendiri dan terpisah, sebab jika tidak demikian  tentu beliau saw. tidak akan gusar kepada Siti Hafshah r.a.  oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang dibahas ini.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  17 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar