بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 14
Berbagai “Mukjizat” Nabi Besar
Muhammad Saw. yang Abadi dan Pengulangan Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” kepada “Hamba-hamba Allah yang Shalih” di Akhir Zaman & Hakikat “Sujudnya” Para Malaikat Kepada “Adam”
(Khalifah Allah)
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai definisi mukjizat yang sering diartikan
atau dipersepsikan secara berlebihan., yakni seakan-akan mukjizat atau karamah harus berupa peristiwa
luarbiasa yang dapat
disaksikan orang banyak secara jelas,
seperti misalnya tukang sulap yang
memasukkan saputangan tangan ke
dalam sebuah topi atau kotak lalu ketika dikeluarkan berubah menjadi seekor burung
merpati, padahal mukjizat atau karamah tidak selalu harus seperti itu.
Contohnya, mukjizat terbesar Nabi Besar Muhammad saw. adalah Al-Quran dan suri teladan sempurna beliau saw. (QS.15:10;QS.33:22) sebab
bersifat abadi, sedangkan tongkat Nabi Musa a.s. serta mukjizat-mukjizat para Rasul Allah sebelumnya hanyanya tinggal cerita masa lalu belaka. Apa pun yang
dikemukakan Al-Quran -- termasuk kisah para Rasul Allah – bukan hanya sekedar “cerita masa lalu” tetapi selain
mengandung petunjuk dan hikmah, juga merupakan nubuatan yang terulang lagi, seperti contohnya yang terjadi di Akhir Zaman ini, sehubungan dengan
pengutusan Rasul Akhir Zaman
(QS.61:3-4; QS.61:10) seta berbagai macam azab
Ilahi yang terus menerus terjadi seiring dengan pendustaan yang dilakukan
terhadapnya (QS.6:132; QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60).
Pengulangan Nubuatan Pewarisan
“Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman
Demikian pula dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai
maka
pewarisan bumi sebelah timur dan sebelah
baratnya kepada Bani Israil, yang menurut muhawarah bahasa (idiom) Arab artinya adalah “seluruh negeri”, firman-Nya:
فَانۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ فِی الۡیَمِّ بِاَنَّہُمۡ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ کَانُوۡا عَنۡہَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ مَشَارِقَ
الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا ؕ وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ
وَ قَوۡمُہٗ وَ مَا کَانُوۡا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿﴾
Maka Kami menuntut balas dari mereka dan
Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut,
karena sesungguhnya mereka mendustakan
Tanda-tanda Kami dan mereka
senantiasa lalai terhadapnya. وَ
اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ الَّذِیۡنَ
کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ مَشَارِقَ الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا -- Dan Kami
menjadikan kaum yang senantiasa dipandang lemah itu pewaris bumi sebelah timur
dan sebelah baratnya yang
di dalamnya Kami berkati. وَ تَمَّتۡ
کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا -- dan sempurnalah firman yakni janji Rabb (Tuhan) engkau yang baik
terhadap Bani Israil karena mereka bersabar, وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ وَ مَا کَانُوۡا یَعۡرِشُوۡنَ -- dan
Kami menghancurkan apa pun yang telah dibuat oleh Fir’aun
serta kaumnya dan apa pun yang telah mereka bangun. (Al-‘Arāf [7]:137-138).
Nubuatan
berupa Sunnatullah mengenai pewarisan
“negeri yang dijanjikan” tersebit (Kanaan/Palestina) tersebut -- selain telah
terjadi di kalangan umat Islam Bani Isma’il di
masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a.
-- juga akan terulang kembali di Akhir Zaman ini, sebab Allah Swt. telah
berfirman dalam Al-Quran:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿ ﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menuliskan dalam
Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh
hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.
Dan
Kami sekali-kali tidak mengutus
engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya [21]:106-108).
Yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina. Para pujangga Kristen
menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan
dipusakai” atau “tanah itu akan
dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji
dalam perjanjian Tuhan".
Isyarat dalam kata-kata “dalam
kitab Daud” dalam ayat وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا
فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ – “Dan sungguh
Kami benar-benar telah menuliskan dalam
Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh
hamba-hamba-Ku yang shalih,” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22,
dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan
34:4) bahwa negeri Palestina akan
diberikan kepada Bani Israil.
Palestina tetap di tangan penguasa Kristen
hingga orang Islam menaklukkannya di
masa khilafat Sayyidina Umar bin
Khaththab r.a., Khalifah ke-II Nabi
Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang
terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat
Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92
tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan —
hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana
buruk dari beberapa kekuasaan barat
yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud
dan di atas puing-puingnya didirikan kerajaan Israil.
Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi
peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan
Al-Quran (QS.17:105). Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja.
“Hamba-hamba Allah yang Shalih”
Di Akhir
Zaman ini orang-orang Islam telah ditakdirkan
akan menguasainya kembali. Cepat atau
lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4; QS.61:10).
Hal ini merupakan keputusan Allah Swt. . dan tidak
ada seorang pun dapat mengubah keputusan
Tuhan.
Karena Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat
manusia, sebab amanat beliau saw.
tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu melainkan untuk seluruh
umat manusia sampai Hari Kiamat. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa
dunia telah diberkati, seperti belum
pernah mereka diberkati sebelum itu, demikian pula di Akhir Zaman ini “rahmatan- lil ‘ālamīn” beliau saw. akan
kembali terulang, sehingga pewarisan kembali “negeri yang dijanjikan” (Palestina) tersebut, Insya
Allah, tidak akan terjadi dengan cara-cara kekerasan dan kezaliman yang selama ini terus terjadi,
melainkan seperti yang terjadi pada pewarisan
“negeri yang dijanjikan” yang pertama di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. kepada kalangan “umat
Islam” yang memenuhi kriteria “hamba-hamba Allah yang shalih” yang
benar-benar “beribadah” hanya kepada Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿ ﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menuliskan dalam
Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh
hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.
Dan
Kami sekali-kali tidak mengutus
engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya [21]:106-108).
Karena Nabi Besar Muhammad saw. adalag ramat
untuk seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam adalah “umat yang terbaik” yang dibangkitkan untuk kemanfaatan bagi seluruh umat
manusia (QS.2:144; QS.3:111), oleh karena itu yang dimaksud dengan “hamba-hamba Allah yang shalih” yang hanya “menyembah” Allah Swt. (QS.30:31-33; QS.98:1-9), mereka tidak mungkin
melakukan tindak
kekerasan dan pembunuhan atas nama agama
Islam, termasuk pembunuhan terhadap sesama Muslim.
Berbagai Kehinaan yang Mengakhiri
Hidup Fir’aun
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
berbagai nikmat-nikmat duniawi yang
ditinggalkan Fir’aun di Mesir -- yang setelah ketenggelamannya di laut bersama pasukannya – semuanya tidak dapat dinikmat lagi oleh Fir’aun
dan para pemuka kaumnya:
فَدَعَا
رَبَّہٗۤ اَنَّ ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمٌ مُّجۡرِمُوۡنَ ﴿ؓ﴾ فَاَسۡرِ بِعِبَادِیۡ لَیۡلًا اِنَّکُمۡ
مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ
مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ کَمۡ تَرَکُوۡا مِنۡ
جَنّٰتٍ وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ وَّ
زُرُوۡعٍ وَّ مَقَامٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ وَّ نَعۡمَۃٍ
کَانُوۡا فِیۡہَا فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾ کَذٰلِکَ ۟ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا
اٰخَرِیۡنَ﴿﴾ فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ
السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا
مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ
نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنَ الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ۙ﴾ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ
الۡمُسۡرِفِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia,
Musa, berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): "Sesungguhnya mereka ini kaum berdosa." Allah
berfirman: "Maka berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada waktu malam sesungguhnya kamu akan
dikejar, وَ اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ
مُّغۡرَقُوۡنَ -- dan tinggalkanlah
laut itu ketika tenang, sesungguhnya mereka lasykar yang akan
ditenggelamkan." وَ
اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ
جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ -- berapa banyaknya kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air, dan ladang-ladang serta tempat-tempat
mulia, dan nikmat-nikmat yang
dahulu mereka di dalamnya
bersenang-senang. کَذٰلِکَ ۟
وَ اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا اٰخَرِیۡنَ -- Demikianlah, dan Kami mewariskannya
kepada kaum lain. فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak menangisi mereka langit dan bumi, dan mereka
sekali-kali tidak pula diberi tangguh.
وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنَ الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ -- Dan sungguh Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani
Israil dari azab yang menghinakan مِنۡ
فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ -- dari Fir’aun, sesungguhnya ia
adalah orang yang sombong dan termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Ad-Dukhān [44]:23-32).
Hubungan “ di Zaman Nabi
Musa a.s. ” dengan Peristiwa “Pasang-Surut”
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab
sebelumnya, rahw itu berasal dari raha. Orang berkata: raha
baina rijlaihi, artinya “ia
merenggangkan kedua belah kakinya dan membuat lubang di antara keduanya”; raha
al-bahru berarti, “laut menjadi diam
dan tenang”. Rahw berarti tenang; tidak bergerak; tempat lebih
rendah; tempat air berkumpul; suatu bidang tanah yang tinggi dan rata (Lexicon Lane).
Ketika Nabi Musa a.s. dan orang-orang Bani Israil tiba di ujung utara Laut
Merah, pasang air laut telah mulai surut. Karena air laut surut maka meninggalkan gundukan batu karang yang puncaknya
lambat laun muncul serta membiarkan
kerendahan-kerendahan di antaranya digenangi
air, pada saat itulah orang-orang Bani
Israil menyeberang. Lihat pula QS.20:78.
Ada pun yang perlu mendapat perhatian
adalah, bahwa walau pun peristiwa “pasang
surut” di laut merupakan peristiwa
yang bersifat alami, tetapi jika
berhubungan dengan kebenaran pendakwaan seorang Rasul Allah maka atas perintah (kehendak) Allah Swt. peristiwa
yang bersifat alami tersebut pada
saat Allah Swt. akan menampakkan mukjizat-Nya
kepada seorang Rasul Allah maka pada saat tersebut peristiwa-peristiwa yang alami
tersebut untuk sementara waktu menjadi suatu peristiwa
yang di luar “kebiasaannya.”
Contohnya adalah peristiwa “terbelahnya laut” di zaman Nabi Musa a.s.,
ketika beliau beserta Bani Israil keluar
dari Mesir lalu dikejar Fir’aun dan bala
tentaranya, yang kemudian peristiwa “pasang-surut”
tersebut menenggelamkan mereka secara
hina.
Jadi, tidak benar anggapan bahwa -- bagaikan perbuatan “tukang sulap” -- ketika Nabi Musa a.s. diperintahkan Allah Swt.
memukulkan atau mengarahkan tongkatnya pada air
laut lalu tiba-tiba air laut tersibak
ke kiri dan kanan lalu membentuk
sebuah jalan, yang melaluinya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil menyebrangi laut merah.
Kemudian ketika Fir’aun dan pasukannya
mengejar Nabi Musa a.s. melalui jalan yang sama, tiba-tiba laut kembali menyatu setelah Nabi Musa a.s. melakukan yang sama dengan tongkat beliau, sehingga mengakibatkan Fir’aun dan balatentaranya tenggelam.
Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban
dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan:
کَذٰلِکَ ۟ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا اٰخَرِیۡنَ -- demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada kaum lain. فَمَا بَکَتۡ
عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ
مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak menangisi mereka langit dan bumi, dan mereka
sekali-kali tidak pula diberi tangguh.”
Raja
bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya "tuhan" itu (QS.26:30; Qs.28:37-43; QS.28:39; QS.79:18-27) tenggelam ke dalam laut dengan mengucapkan kata-kata yang
terkenangkan, "Aku percaya bahwa
tidak ada Tuhan selain Dia, Yang kepada-Nya Bani Israil beriman." (QS.10:91).
Allah Swt. pada zaman itu memilih
kaum Bani Israil untuk menerima karunia-Nya; sebab, dalam rencana Ilahi setelah dinasti Fir’aun di Mesir yang menindas mereka
secara zalim, mereka dianggap paling
layak mengemban Amanat Tuhan pada
masa itu. Ungkapan 'ala'ilmīn dapat pula berarti, mengingat keadaan khas mereka.
Hakikat “Sujudnya” Para Malaikat kepada ”Adam” (Khalifah Allah)
Terjadinya berbagai mukjizat para Rasul Allah yang berhubungan dengan berbagai
peristiwa alam tersebut -- banjir,
taufan, gempa
bumi, tsunami, kekeringan dan lain-lain -- erat kaitannya dengan “sujudnya” para malaikat
kepada Adam, ketika Allah Swt. memerintahkan mereka untuk “sujud”
kepada Khalifah Allah tersebut, kecuali Iblis,
ia menolak
perintah Allah Swt. tersebut -- berikut
firman-Nya kepada manusia secara umum:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ
ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ مَا مَنَعَکَ
اَلَّا تَسۡجُدَ اِذۡ
اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا
خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ
نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ
مِنۡ طِیۡنٍ ﴿ ﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ
مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu, ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ
-- kemudian Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا
لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- lalu Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya kamu
kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ -- maka mereka bersujud kecuali iblis, -- لَمۡ
یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ - ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. قَالَ مَا
مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ -- Dia berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau
sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi
perintah kepada engkau?” قَالَ اَنَا
خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ
نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ
مِنۡ طِیۡنٍ
-- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih
baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ
لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ
اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ
-- Dia berfirman: ”Jika demikian, pergilah engkau
darinya, karena sekali-kali tidak
patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang
hina.” (Al-A’rāf [7]:12-14).
Malā’ikah (malaikat-malaikat)
yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti:
ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah
(Rasul Allah) dan pembaharu-pembaharu
samawi.
Jadi, karena para malaikat telah diperintahkan
Allah Swt. “sujud” kepada “Khalifah Allah” (Rasul Allah), itulah
sebabnya sudah merupakan Sunnatullah,
jika umat manusia mendustakan dan melakukan penentangan
secara zalim terhadap Rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan kepada
mereka (QS.7:35-37) maka pasti akan mengundang turunnya berbagai bentuk azab Ilahi, antara lain berupa bencana alam yang hebat. (QS.6:132; QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 27 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar