Sabtu, 27 Desember 2014

Berbagai "Mukjizat" Nabi Besar Muhammad Swa. yang Abadi dan Pengulangan Pewarisan "Negeri yang Dijanjikan" kepada "Hamba-hamba Allah yang Shalih" di Akhir Zaman & Hakikat "Sujudnya" Para Malaikat kepada Adam (Khalifah Allah)




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 14

Berbagai “Mukjizat  Nabi Besar Muhammad Saw. yang Abadi  dan Pengulangan Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” kepada “Hamba-hamba Allah yang Shalih  di Akhir Zaman & Hakikat “Sujudnya” Para Malaikat Kepada “Adam” (Khalifah Allah)


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai definisi mukjizat yang sering diartikan atau dipersepsikan secara berlebihan., yakni seakan-akan mukjizat atau karamah harus  berupa peristiwa  luarbiasa yang  dapat disaksikan orang banyak   secara jelas, seperti misalnya tukang sulap yang memasukkan saputangan tangan ke dalam  sebuah topi atau kotak lalu  ketika dikeluarkan berubah menjadi  seekor burung merpati, padahal mukjizat atau karamah tidak selalu harus seperti itu.
      Contohnya, mukjizat terbesar Nabi Besar Muhammad saw. adalah Al-Quran dan suri teladan sempurna beliau saw. (QS.15:10;QS.33:22) sebab bersifat abadi, sedangkan tongkat Nabi Musa a.s. serta mukjizat-mukjizat  para Rasul Allah sebelumnya hanyanya tinggal cerita masa lalu belaka. Apa pun yang dikemukakan Al-Quran   -- termasuk kisah para Rasul Allah – bukan hanya sekedar “cerita masa lalu” tetapi selain mengandung petunjuk dan hikmah,  juga merupakan nubuatan yang terulang lagi, seperti contohnya yang terjadi di Akhir Zaman ini, sehubungan dengan pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.61:3-4; QS.61:10) seta berbagai macam azab Ilahi yang terus menerus terjadi seiring dengan pendustaan  yang dilakukan terhadapnya (QS.6:132; QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60).

Pengulangan Nubuatan   Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” di Akhir Zaman

       Demikian  pula dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  maka  pewarisan   bumi sebelah timur dan sebelah baratnya   kepada Bani Israil, yang  menurut muhawarah bahasa (idiom) Arab  artinya adalah “seluruh negeri”, firman-Nya:
 فَانۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  فِی الۡیَمِّ بِاَنَّہُمۡ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ کَانُوۡا عَنۡہَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾  وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ  الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ  مَشَارِقَ  الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ  بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا ؕ وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ  وَ مَا کَانُوۡا  یَعۡرِشُوۡنَ ﴿﴾
Maka  Kami  menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut, karena sesungguhnya mereka mendustakan Tanda-tanda Kami dan mereka senantiasa lalai terhadapnya. وَ اَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ  الَّذِیۡنَ کَانُوۡا یُسۡتَضۡعَفُوۡنَ  مَشَارِقَ  الۡاَرۡضِ وَ مَغَارِبَہَا الَّتِیۡ  بٰرَکۡنَا فِیۡہَا --  Dan  Kami menjadikan kaum yang senantiasa dipandang lemah itu pewaris bumi sebelah timur dan sebelah baratnya yang di dalamnya Kami berkati.  وَ تَمَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ الۡحُسۡنٰی عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ بِمَا صَبَرُوۡا  -- dan sempurnalah firman yakni janji Rabb (Tuhan) engkau yang  baik terhadap Bani Israil karena mereka bersabar, وَ دَمَّرۡنَا مَا کَانَ یَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَ قَوۡمُہٗ  وَ مَا کَانُوۡا  یَعۡرِشُوۡنَ  -- dan  Kami menghancurkan  apa pun yang telah dibuat oleh Fir’aun serta kaumnya dan apa pun yang telah  mereka bangun. (Al-‘Arāf [7]:137-138).
      Nubuatan berupa Sunnatullah  mengenai pewarisan “negeri yang dijanjikan” tersebit (Kanaan/Palestina) tersebut -- selain telah terjadi  di kalangan umat Islam Bani Isma’il  di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. --  juga akan terulang kembali di Akhir Zaman ini, sebab Allah Swt. telah berfirman dalam Al-Quran:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿ ﴾ؕ    وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu  akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.   Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya [21]:106-108).  
   Yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan".
      Isyarat dalam kata-kata “dalam kitab Daud” dalam ayat وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ  – “Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu  akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih,” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil.
        Palestina tetap di tangan penguasa Kristen hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat Sayyidina Umar bin Khaththab r.a.,  Khalifah ke-II Nabi Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
     Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan — hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan kerajaan Israil.
      Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran (QS.17:105). Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja.

“Hamba-hamba Allah yang Shalih”

      Di Akhir Zaman ini  orang-orang Islam telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam melalui pengutusan Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4; QS.61:10). Hal ini merupakan keputusan Allah Swt. . dan tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Tuhan.
      Karena Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu melainkan untuk seluruh umat manusia sampai Hari Kiamat. Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu, demikian pula di Akhir Zaman  ini “rahmatan- lil ‘ālamīn” beliau saw. akan kembali terulang, sehingga pewarisan kembali “negeri yang dijanjikan” (Palestina)   tersebut, Insya Allah, tidak akan terjadi dengan cara-cara kekerasan dan  kezaliman yang selama ini terus terjadi, melainkan seperti yang terjadi pada pewarisan “negeri yang dijanjikan” yang pertama di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. kepada kalangan  umat Islam yang memenuhi kriteria “hamba-hamba Allah yang shalih” yang benar-benar “beribadah” hanya kepada Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿ ﴾ؕ    وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ ﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu  akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.   Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya [21]:106-108).
     Karena Nabi Besar Muhammad saw. adalag ramat untuk seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam adalah “umat yang terbaik” yang dibangkitkan untuk kemanfaatan bagi seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), oleh karena itu yang dimaksud dengan “hamba-hamba Allah yang shalih”  yang hanya “menyembah” Allah Swt. (QS.30:31-33; QS.98:1-9), mereka tidak mungkin melakukan   tindak kekerasan  dan pembunuhan atas nama agama Islam,  termasuk pembunuhan terhadap sesama Muslim.

Berbagai Kehinaan  yang Mengakhiri Hidup Fir’aun

        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai berbagai nikmat-nikmat duniawi yang ditinggalkan Fir’aun di Mesir  -- yang setelah ketenggelamannya di laut bersama pasukannya – semuanya  tidak dapat dinikmat lagi oleh Fir’aun dan  para pemuka kaumnya:
فَدَعَا رَبَّہٗۤ  اَنَّ ہٰۤؤُلَآءِ  قَوۡمٌ مُّجۡرِمُوۡنَ ﴿ؓ﴾  فَاَسۡرِ بِعِبَادِیۡ لَیۡلًا اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿ۙ﴾   وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ کَمۡ  تَرَکُوۡا مِنۡ جَنّٰتٍ  وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  زُرُوۡعٍ  وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  وَّ  نَعۡمَۃٍ  کَانُوۡا فِیۡہَا  فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ﴾  کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ﴿﴾  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪﴾  وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ  مِنَ الۡعَذَابِ  الۡمُہِیۡنِ ﴿ۙ﴾  مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian ia, Musa, berseru kepada Rabb-nya (Tuhan-nya): "Sesungguhnya mereka ini kaum berdosa."   Allah berfirman: "Maka berjalanlah  dengan hamba-hamba-Ku pada waktu malam sesungguhnya kamu akan dikejar, وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ -- dan tinggalkanlah laut itu ketika tenang,  sesungguhnya mereka  lasykar yang akan ditenggelamkan." وَ اتۡرُکِ  الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ  --  berapa banyaknya   kebun-kebun yang mereka tinggalkan dan sumber-sumber mata air,  dan ladang-ladang serta tempat-tempat mulia,  dan nikmat-nikmat yang dahulu mereka di dalamnya bersenang-senang. کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ  --  Demikianlah,  dan Kami mewariskannya kepada kaum lain.  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak  menangisi mereka langit dan bumi, dan  mereka sekali-kali tidak pula   diberi tangguh. وَ لَقَدۡ نَجَّیۡنَا بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ  مِنَ الۡعَذَابِ  الۡمُہِیۡنِ --    Dan  sungguh Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani Israil dari azab yang menghinakan  مِنۡ فِرۡعَوۡنَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَالِیًا مِّنَ الۡمُسۡرِفِیۡنَ  --   dari Fir’aun, sesungguhnya ia adalah orang yang sombong dan termasuk orang-orang yang melampaui batas. (Ad-Dukhān [44]:23-32).

Hubungan “ di Zaman Nabi Musa a.s. ” dengan  Peristiwa “Pasang-Surut

    Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya, rahw itu berasal dari raha. Orang berkata: raha baina rijlaihi, artinya “ia merenggangkan kedua belah kakinya dan membuat lubang di antara keduanya”; raha al-bahru berarti, “laut menjadi diam dan tenang”. Rahw berarti tenang; tidak bergerak; tempat lebih rendah; tempat air berkumpul; suatu bidang tanah yang tinggi dan rata (Lexicon Lane).
   Ketika Nabi Musa a.s. dan orang-orang Bani Israil tiba di ujung utara Laut Merah, pasang air laut telah mulai surut. Karena air laut surut maka meninggalkan gundukan batu karang yang puncaknya lambat laun muncul serta  membiarkan kerendahan-kerendahan di antaranya digenangi air, pada saat itulah orang-orang Bani Israil menyeberang. Lihat pula QS.20:78.
    Ada pun yang perlu mendapat perhatian adalah, bahwa walau pun peristiwa “pasang surut” di laut merupakan peristiwa yang bersifat alami, tetapi jika berhubungan dengan  kebenaran pendakwaan seorang Rasul Allah  maka atas perintah (kehendak) Allah Swt. peristiwa yang bersifat alami tersebut pada saat Allah Swt. akan menampakkan mukjizat-Nya kepada seorang Rasul Allah maka  pada saat tersebut peristiwa-peristiwa yang alami  tersebut untuk sementara waktu menjadi suatu peristiwa yang di luarkebiasaannya.
   Contohnya adalah peristiwa “terbelahnya laut” di zaman Nabi Musa a.s., ketika beliau beserta Bani Israil  keluar dari Mesir  lalu dikejar Fir’aun dan bala tentaranya, yang kemudian   peristiwa “pasang-surut” tersebut menenggelamkan mereka secara hina.
 Jadi, tidak benar anggapan bahwa -- bagaikan perbuatan “tukang sulap” -- ketika Nabi Musa a.s. diperintahkan Allah Swt. memukulkan atau mengarahkan  tongkatnya  pada air laut lalu tiba-tiba air laut tersibak ke kiri dan kanan  lalu membentuk sebuah  jalan,  yang melaluinya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil menyebrangi laut merah.
    Kemudian ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa a.s.  melalui jalan yang sama, tiba-tiba laut kembali menyatu setelah Nabi Musa a.s. melakukan yang sama dengan tongkat beliau, sehingga mengakibatkan Fir’aun dan balatentaranya tenggelam.
      Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan: کَذٰلِکَ ۟ وَ  اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا  اٰخَرِیۡنَ  -- demikianlah,  dan Kami mewariskannya kepada kaum lain.  فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ  وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ -- maka sekali-kali tidak  menangisi mereka langit dan bumi, dan  mereka sekali-kali tidak pula   diberi tangguh.”
     Raja bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya "tuhan" itu  (QS.26:30; Qs.28:37-43;  QS.28:39; QS.79:18-27) tenggelam ke dalam laut dengan mengucapkan kata-kata yang terkenangkan, "Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Yang kepada-Nya Bani Israil beriman." (QS.10:91).
  Allah Swt. pada zaman itu  memilih kaum Bani Israil untuk menerima karunia-Nya; sebab, dalam rencana Ilahi setelah dinasti Fir’aun di Mesir yang menindas mereka secara zalim, mereka dianggap paling layak mengemban Amanat Tuhan pada masa itu. Ungkapan 'ala'ilmīn dapat pula berarti, mengingat keadaan khas mereka.

Hakikat “Sujudnya” Para Malaikat kepada ”Adam” (Khalifah Allah)

     Terjadinya berbagai mukjizat  para Rasul Allah yang berhubungan dengan berbagai peristiwa alam tersebut   -- banjir, taufan,  gempa bumi,    tsunami, kekeringan dan lain-lain --  erat kaitannya dengan “sujudnya” para malaikat kepada Adam, ketika Allah Swt. memerintahkan mereka untuk  sujud” kepada Khalifah Allah tersebut,  kecuali Iblis, ia  menolak perintah Allah Swt. tersebut  -- berikut firman-Nya kepada manusia secara umum:
 وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿ ﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ   -- kemudian Kami memberi kamu bentuk, ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --   lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ --   Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ  --  maka mereka bersujud kecuali iblis,  -- لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ - ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.   قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ  -- Dia berfirman:  “Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ   -- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.”  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ  --  Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina.” (Al-A’rāf [7]:12-14). 
       Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah (Rasul Allah) dan pembaharu-pembaharu samawi.
     Jadi, karena para malaikat telah diperintahkan Allah Swt. “sujud” kepada “Khalifah Allah” (Rasul Allah), itulah sebabnya sudah merupakan Sunnatullah, jika umat manusia  mendustakan dan melakukan penentangan secara zalim terhadap Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) maka pasti  akan mengundang turunnya berbagai bentuk azab Ilahi, antara lain berupa bencana alam yang hebat. (QS.6:132; QS.11:118; QS.:17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  27 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar