Jumat, 13 Maret 2015

Dua Kali "Zaman Jahiliyah" dan Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Guna Mewujudkan Dua Kali Kejayaan Islam





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 75

Dua Kali Zaman Jahiliyah dan Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.  Guna Mewujudkan Dua Kali Kejayaan Islam
 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai kesempurnaan Al-Quran serta  hikmah cara pewahyuannya secara bertahap (berangsur-angsur - QS.17:107; QS.25:33; QS.76:24), firman-Nya:
وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ  اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ  اَحۡسَنَ  تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Dan mereka tidak datang kepada engkau dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran dan sebaik-baik penjelasan.(Al-Furqan [25]:34).
        Inilah salah satu ciri khas Al-Quran yang membedakannya dari semua kitab wahyu lainnya, yaitu manakala kitab itu membuat suatu pendakwaan mengenai adanya Tuhan, kebenaran Islam, atau tentang berasalnya dari Tuhan sendiri atau apa pun yang lainnya bertalian dengan perkara keagamaan, Al-Quran memberikan dalil-dalil yang diperlukan untuk membuktikan dan mendukung dakwanya, dan tidak mencari perantara lain untuk membantu atau menolongnya.
        Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai posisi dan misi pewahyuan Al-Quran   -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- dalam hubungannya dengan Kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya yang bersifat sementara serta hanya untuk kaum tertentu saja:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ﴿﴾
Ayat  mana pun yang Kami mansukhkan   yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?  Tidak  tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah milik-Nya-lah  Kerajaan seluruh langit dan bumi, dan tidak ada  bagi kamu pelindung dan penolong   selain Allah.   (Al-Baqarah [2]:107-108).

Hakikat Nasikh dan Mansukh yang Benar
 
        Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran.
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah (ayat-ayat) yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
   Dalam ayat tersebut  Allah Swt. menjelaskan  bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan wahyu yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah  membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2;  QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
       Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia  Biblica). Jadi, itulah makna dari firman-Nya:
نَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡقُرۡاٰنَ تَنۡزِیۡلًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran kepada engkau dengan berangsung-angsur  (Ad-Dahr [76]:24).
       Karena itu atas celaan orang-orang kafir bahwa mengapa   Al-Quran tidak diwahyukan sekali gus dalam satu waktu (QS.25:33)  serta berbagai  tuduhan lainnya berkenaan dengan wahyu Al-Quran (QS.16:104; QS.25:5), selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.
فَاصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تُطِعۡ مِنۡہُمۡ اٰثِمًا  اَوۡ  کَفُوۡرًا ﴿ۚ﴾  وَ اذۡکُرِ اسۡمَ  رَبِّکَ بُکۡرَۃً  وَّ اَصِیۡلًا﴿ۖۚ﴾  وَ مِنَ الَّیۡلِ فَاسۡجُدۡ لَہٗ  وَ سَبِّحۡہُ  لَیۡلًا طَوِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ  یُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ  وَ یَذَرُوۡنَ  وَرَآءَہُمۡ  یَوۡمًا ثَقِیۡلًا ﴿﴾ نَحۡنُ خَلَقۡنٰہُمۡ وَ شَدَدۡنَاۤ  اَسۡرَہُمۡ ۚ وَ اِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَاۤ  اَمۡثَالَہُمۡ  تَبۡدِیۡلًا ﴿﴾
Maka sabarlah demi  keputusan Rabb (Tuhan) engkau, dan janganlah mentaati orang yang berdosa dari antara mereka atau yang tidak bersyukur.    Dan ingatlah nama  Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pagi dan petang.   Dan pada sebagian malam bersujudlah kepada-Nya, dan sanjunglah Dia di malam yang panjang. اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ  یُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ  وَ یَذَرُوۡنَ  وَرَآءَہُمۡ  یَوۡمًا ثَقِیۡلًا  --     Sesungguhnya mereka ini mencintai kehidupan dunia, dan mereka meninggalkan di belakangnya  hari yang sangat berat.  نَحۡنُ خَلَقۡنٰہُمۡ وَ شَدَدۡنَاۤ  اَسۡرَہُمۡ ۚ وَ اِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَاۤ  اَمۡثَالَہُمۡ  تَبۡدِیۡلًا  --  Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan segala bagian tubuh mereka, dan apabila Kami menghendaki,  Kami mengganti mereka dengan yang lain seperti mereka. (Ad-Dahr [76]:25-29).
    Makna ayat  نَحۡنُ خَلَقۡنٰہُمۡ وَ شَدَدۡنَاۤ  اَسۡرَہُمۡ ۚ وَ اِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَاۤ  اَمۡثَالَہُمۡ  تَبۡدِیۡلًا  -- “Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan segala bagian tubuh mereka, dan apabila Kami menghendaki,  Kami mengganti mereka dengan yang lain seperti mereka,” Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (QS.95:5) agar ia dapat mengembangkan dan menjelmakan  atau memperagakan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi, sebagaimana telah dicontohkan oleh para Rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:22).

Kebangkitan Kaum Lain di Kalangan Umat Islam di Akhir Zaman & Terjadinya   Kembali  Zaman Jahiliyah  

    Jadi bila orang-orang kafir menolak mengambil faedah dari ajaran Al-Quran mereka akan digantikan oleh kaum lain yang menginginkannya. Demikian pula ketika  umat Islam di Akhir Zaman ini telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah dicampakkan ke belakang punggung mereka (QS.25:31) dan  lebih mementingkan hadits-hadits – sebagaimana orang-orang Yahudi lebih mementingkan Talmud daripada Taurat   -- sehingga  di kalangan mereka timbul perpecahan (QS.3:103-106;  QS.5:55-57; QS.30:31-33), maka sesuai janji-Nya Allah Swt. telah membangkitkan “kaum lain” dari kalangan umat Islam untuk kembali memperagakan gelar “umat terbaik” yang pernah disandang oleh umat Islam di zaman awal (QS.2:144; QS.3:111).
    Mengenai hal tersebut berikut firman Allah Swt.  mengenai dua kali kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw. di masa awal dan di masa akhir umat Islam Bani Isma’il:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --   Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
        Dalam firman Allah Swt. tersebut dikemukakan alasan terjadinya dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut adalah karena zaman jahiliyah di masa awal pengutusan beliau saw. akan kembali terulang di Akhir Zaman di masa puncak kemunduran umat Islam,  yang disebut zaman jahiliyah  di  Akhir Zaman (QS.30:42):    وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,”  firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ ﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾    
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ  --   Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.”    فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ  --    Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).

Kebangkitan Kaum Lain di Kalangan Muslim  Sebagai “Kaum Pengganti

      Dalam ayat 42 dikemukakan Sunnatullah bahwa bila kegelapan  (kesesatan dan kezaliman) menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah Swt, dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah Swt.  membangkitkan seorang nabi untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.
Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
        Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu  Nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar  muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan (diwahyukan) bila semua atau kebanyakan keburukan  --  teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan -- menampakkan diri telah menjadi mapan.
      Kata-kata “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki. Keadaan demikian itu  kembali terjadi di Akhir Zaman saat ini.
         Contohnya adalah  pertentangan dan  peperangan berkepanjangan yang saat ini di kawasan Timur Tengah  antara seama Muslim, seakan-akan peperangan antar qabilah bangsa Arab di zaman jahiliyah  menjelang  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. 15 abad yang lalu  kembali terjadi (QS.3:103-106).

Dua Macam Perumpamaan  Gambaran Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.

       Dengan demikian  -- sesuai dengan  firman  Allah Swt.  sebelumnya dalam QS.62:3-5 -- benarlah nubuatan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini mengenai  kebangkitan “kaum lain” sebagai “pengganti” umat Islam Bani Isma’il, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya  فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ  -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,  یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ  --  Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya,  اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir.    یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ   -- Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ  -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki,  وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ --  dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.   اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ --   Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar za-kat dan mereka taat kepada Allah, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung,  فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ --  maka  sesungguhnya  jamaat Allah pasti me-nang. (Al-Māidah [5]:55-57).
         Mengisyaratkan kepada “kaum lain” yang dibangkitkan di kalangan umat Islam di Akhir Zaman itu pulalah perumpamaan mereka  yang dikemukakan dalam Injil, firman-Nya:
مُحَمَّدٌ  رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ  فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ  اَخۡرَجَ  شَطۡـَٔہٗ  فَاٰزَرَہٗ  فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu adalah Rasul Allah,  وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ  -- dan orang-orang besertanya sangat  keras terhadap orang-orang ka-fir, tetapi berkasih-sayang di antara mereka, فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ --  engkau melihat mereka rukuk serta sujud   mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ  -- ciri-ciri pe-ngenal mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ  -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,   ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ --  dan perumpaman mereka dalam Injil adalah laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ --  supaya Dia membangkit-kan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu.  وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا  -- Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30).
   Inilah dua macam ciri khas penting bagi suatu bangsa maju dan jaya yang berusaha meninggalkan jejak kesuksesan  mereka di atas jalur peristiwa sejarah dunia. Di lain tempat dalam Al-Quran (QS.5:55) orang-orang Muslim sejati dan baik telah dilukiskan sebagai yang baik hati dan rendah hati terhadap orang-orang mukmin dan keras serta tegas terhadap orang-orang kafir.
   Kata-kata, “Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni:  Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Ka-des” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut. 33:2), Peny).

Perumpamaan Dalam Injil  &  Jemaat Muslim Ahmadiyah

    Ada pun ungkapan dalam Injil وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ    --  “Dan perumpamaan mereka dalam Injil adalah laksana tanaman, “ dapat ditujukan kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah  seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada pula se-paruh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8). 
       Perumpamaan yang pertama  nampaknya  dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dan perumpamaan yang kedua dikenakan kepada para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)   yaitu   Al-Masih Mau’ud a.s., -- yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah --  yang seabad yang lalu berangkat dari suatu permulaan yang sangat kecil  dan tidak berarti di Qadian  telah ditakdirkan berkembang menjadi suatu organisasi perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju  menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia  -- lebih dari 200 negara di dunia   -- sehingga, insya Allah,  Islam akan mengungguli dan menang atas semua agama (QS.61:10) dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan dan pamornya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  12 Maret      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar