بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 75
Dua Kali Zaman
Jahiliyah dan Dua Kali Pengutusan Nabi
Besar Muhammad Saw. Guna Mewujudkan
Dua Kali Kejayaan Islam
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai kesempurnaan Al-Quran serta hikmah cara pewahyuannya secara bertahap
(berangsur-angsur - QS.17:107; QS.25:33; QS.76:24), firman-Nya:
وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ
اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ
اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Dan mereka tidak datang kepada engkau
dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran
dan sebaik-baik penjelasan.(Al-Furqan
[25]:34).
Inilah salah satu ciri khas Al-Quran yang membedakannya dari semua kitab
wahyu lainnya, yaitu manakala kitab
itu membuat suatu pendakwaan mengenai
adanya Tuhan, kebenaran Islam, atau tentang berasalnya dari Tuhan
sendiri atau apa pun yang lainnya bertalian dengan perkara keagamaan, Al-Quran memberikan dalil-dalil
yang diperlukan untuk membuktikan dan
mendukung dakwanya, dan tidak mencari
perantara lain untuk membantu atau
menolongnya.
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai posisi dan misi pewahyuan Al-Quran -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- dalam hubungannya dengan Kitab-kitab
suci yang diwahyukan sebelumnya
yang bersifat sementara serta hanya
untuk kaum tertentu saja:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami
mansukhkan yakni
batalkan atau Kami biarkan terlupa,
maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya
atau yang semisalnya. Apakah kamu
tidak mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu? Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah milik-Nya-lah Kerajaan seluruh langit dan bumi,
dan tidak ada bagi kamu pelindung dan penolong selain Allah.
(Al-Baqarah [2]:107-108).
Hakikat Nasikh dan Mansukh yang Benar
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari
ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran
telah dimansukhkan (dibatalkan).
Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat
ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran.
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya
telah disinggung mengenai Ahlul Kitab
dan kedengkian mereka terhadap wahyu baru yang
menunjukkan bahwa āyah (ayat-ayat) yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dalam ayat tersebut Allah Swt.
menjelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu
perlu sekali menghapuskan
bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci
itu dan mengganti dengan perintah-perintah
baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah
yang sudah hilang, maka Allah Swt.
menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya
dengan wahyu yang baru dan lebih
baik, dan di samping itu memasukkan
lagi bagian-bagian yang hilang dengan
yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini
dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan
semua Kitab Suci sebelumnya, sebab —
mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula
kepada seluruh umat manusia dari
semua zaman (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah
dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya
kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup
tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh
(Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik),
dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā
(yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang
lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi
sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi
diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah
hilang (Encyclopaedia Biblica). Jadi, itulah makna dari
firman-Nya:
نَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡقُرۡاٰنَ تَنۡزِیۡلًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya Kami telah
menurunkan Al-Quran kepada engkau dengan berangsung-angsur (Ad-Dahr
[76]:24).
Karena itu atas celaan orang-orang kafir bahwa mengapa Al-Quran tidak diwahyukan sekali gus dalam satu waktu (QS.25:33) serta berbagai tuduhan
lainnya berkenaan dengan wahyu Al-Quran
(QS.16:104; QS.25:5), selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad
saw.
فَاصۡبِرۡ
لِحُکۡمِ رَبِّکَ وَ لَا تُطِعۡ مِنۡہُمۡ اٰثِمًا
اَوۡ کَفُوۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ اذۡکُرِ اسۡمَ
رَبِّکَ بُکۡرَۃً وَّ
اَصِیۡلًا﴿ۖۚ﴾ وَ مِنَ الَّیۡلِ
فَاسۡجُدۡ لَہٗ وَ سَبِّحۡہُ لَیۡلًا طَوِیۡلًا ﴿﴾ اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
یُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ وَ
یَذَرُوۡنَ وَرَآءَہُمۡ یَوۡمًا ثَقِیۡلًا ﴿﴾ نَحۡنُ خَلَقۡنٰہُمۡ
وَ شَدَدۡنَاۤ اَسۡرَہُمۡ ۚ وَ اِذَا
شِئۡنَا بَدَّلۡنَاۤ اَمۡثَالَہُمۡ تَبۡدِیۡلًا ﴿﴾
Maka sabarlah demi keputusan Rabb (Tuhan) engkau, dan janganlah mentaati orang yang berdosa dari antara mereka atau yang
tidak bersyukur. Dan
ingatlah nama Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pagi
dan petang. Dan pada sebagian malam bersujudlah kepada-Nya, dan sanjunglah Dia di malam yang panjang. اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ یُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ وَ یَذَرُوۡنَ
وَرَآءَہُمۡ یَوۡمًا ثَقِیۡلًا -- Sesungguhnya mereka ini mencintai kehidupan dunia,
dan mereka meninggalkan di
belakangnya hari yang sangat berat. نَحۡنُ
خَلَقۡنٰہُمۡ وَ شَدَدۡنَاۤ اَسۡرَہُمۡ ۚ
وَ اِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَاۤ اَمۡثَالَہُمۡ تَبۡدِیۡلًا -- Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan segala bagian tubuh mereka,
dan apabila Kami menghendaki, Kami mengganti mereka dengan yang lain seperti mereka. (Ad-Dahr
[76]:25-29).
Makna
ayat نَحۡنُ خَلَقۡنٰہُمۡ وَ شَدَدۡنَاۤ اَسۡرَہُمۡ ۚ وَ اِذَا شِئۡنَا
بَدَّلۡنَاۤ اَمۡثَالَہُمۡ تَبۡدِیۡلًا -- “Kami
telah menciptakan mereka dan menguatkan
segala bagian tubuh mereka, dan apabila
Kami menghendaki, Kami mengganti mereka dengan yang lain seperti mereka,” Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya
(QS.95:5) agar ia dapat mengembangkan
dan menjelmakan atau memperagakan
dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi,
sebagaimana telah dicontohkan oleh para Rasul
Allah, terutama Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.33:22).
Kebangkitan Kaum Lain di
Kalangan Umat Islam di Akhir Zaman & Terjadinya Kembali Zaman
Jahiliyah
Jadi bila orang-orang kafir menolak mengambil faedah dari ajaran Al-Quran
mereka akan digantikan oleh kaum lain yang menginginkannya. Demikian
pula ketika umat Islam di Akhir Zaman
ini telah meninggalkan Al-Quran
sebagai sesuatu yang telah dicampakkan ke belakang punggung mereka (QS.25:31) dan lebih mementingkan hadits-hadits – sebagaimana orang-orang
Yahudi lebih mementingkan Talmud
daripada Taurat -- sehingga
di kalangan mereka timbul perpecahan
(QS.3:103-106; QS.5:55-57; QS.30:31-33),
maka sesuai janji-Nya Allah Swt.
telah membangkitkan “kaum lain” dari
kalangan umat Islam untuk kembali
memperagakan gelar “umat terbaik”
yang pernah disandang oleh umat Islam
di zaman awal (QS.2:144; QS.3:111).
Mengenai hal tersebut berikut firman Allah
Swt. mengenai dua kali kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw. di masa awal dan di masa akhir umat Islam Bani Isma’il:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang
nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan
membangkitkan-nya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
Dalam firman Allah Swt. tersebut dikemukakan alasan terjadinya dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut adalah karena
zaman jahiliyah di masa awal pengutusan beliau saw. akan
kembali terulang di Akhir Zaman di masa puncak kemunduran umat Islam, yang disebut zaman jahiliyah di Akhir Zaman (QS.30:42): وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang
nyata,” firman-Nya:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ ﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia,
supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka
lakukan, supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ -- Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ
مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ
لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ
یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Kebangkitan Kaum Lain di Kalangan Muslim Sebagai “Kaum Pengganti”
Dalam ayat 42 dikemukakan Sunnatullah bahwa bila kegelapan (kesesatan dan kezaliman) menyelimuti muka
bumi dan manusia melupakan Allah Swt,
dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan
dan diciptakan oleh mereka sendiri,
maka Allah Swt. membangkitkan seorang nabi untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s. di dalam aliran darah manusia telah
padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang
kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun
lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban
laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya
telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan,
sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan
pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar
muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir
diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat
yang sempurna hanya dapat diturunkan (diwahyukan) bila semua atau kebanyakan
keburukan -- teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan -- menampakkan diri telah
menjadi mapan.
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya
hanya semata-mata berdasar pada akal
serta pengalaman manusia, dan
bangsa-bangsa yang kebudayaannya
serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang
hidup di benua-benua dan orang-orang
yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini
berarti, bahwa semua bangsa di dunia
telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki.
Keadaan demikian itu kembali terjadi di Akhir Zaman saat ini.
Contohnya adalah pertentangan dan peperangan
berkepanjangan yang saat ini di kawasan Timur
Tengah antara seama Muslim, seakan-akan peperangan antar qabilah bangsa Arab di zaman jahiliyah menjelang
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. 15 abad yang lalu kembali terjadi (QS.3:103-106).
Dua Macam Perumpamaan Gambaran Para Pengikut Sejati Nabi Besar Muhammad Saw.
Dengan demikian -- sesuai dengan firman
Allah Swt. sebelumnya dalam
QS.62:3-5 -- benarlah nubuatan Allah
Swt. dalam firman-Nya berikut ini mengenai
kebangkitan “kaum lain”
sebagai “pengganti” umat Islam Bani
Isma’il, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ
لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di
antara kamu murtad
dari agamanya فَسَوۡفَ یَاۡتِی
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- Dia
akan mencintai mereka dan mereka pun
akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- mereka
akan bersikap lemah-lembut terhadap
orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ
لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- Mereka akan berjuang di jalan Allah dan
tidak takut akan celaan seorang pencela.
ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ -- dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ
رٰکِعُوۡنَ -- Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar za-kat dan mereka taat kepada Allah, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ
الۡغٰلِبُوۡنَ -- maka sesungguhnya jamaat Allah pasti me-nang. (Al-Māidah
[5]:55-57).
Mengisyaratkan kepada “kaum lain” yang dibangkitkan di kalangan umat
Islam di Akhir Zaman itu pulalah perumpamaan mereka yang dikemukakan dalam Injil, firman-Nya:
مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ
اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا
سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫
سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ
فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ
فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ
اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ
فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu
adalah Rasul Allah, وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ -- dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang ka-fir,
tetapi berkasih-sayang di
antara mereka, فَضۡلًا مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ -- engkau
melihat mereka rukuk serta sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ -- ciri-ciri pe-ngenal mereka terdapat
pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ
مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat, ذٰلِکَ
مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ -- dan perumpaman
mereka dalam Injil adalah laksana
tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi
kokoh, dan berdiri mantap pada
batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ -- supaya Dia
membangkit-kan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
-- Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman dan berbuat
amal saleh di antara mereka ampunan
dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30).
Inilah dua macam ciri khas penting bagi suatu bangsa maju dan jaya yang berusaha meninggalkan
jejak kesuksesan mereka di atas jalur peristiwa sejarah dunia. Di lain
tempat dalam Al-Quran (QS.5:55) orang-orang Muslim
sejati dan baik telah dilukiskan sebagai yang baik hati dan rendah
hati terhadap orang-orang mukmin dan keras
serta tegas terhadap orang-orang kafir.
Kata-kata, “Demikianlah perumpamaan
mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni: “Kelihatanlah
ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit
Ka-des” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab”
dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam
bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came
with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang
dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut.
33:2), Peny).
Perumpamaan Dalam Injil & Jemaat Muslim
Ahmadiyah
Ada pun ungkapan dalam Injil وَ مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ
ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ -- “Dan perumpamaan
mereka dalam Injil adalah laksana tanaman, “ dapat ditujukan kepada
perumpamaan lain dalam Bible, yaitu:
“Adalah
seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada
separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis
benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak
tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan
tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah
ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta
membantutkan benih itu. Dan ada pula se-paruh jatuh di tanah yang baik,
sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang
tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius
13:3-8).
Perumpamaan
yang pertama nampaknya dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. dan perumpamaan yang kedua dikenakan kepada
para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s., -- yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- yang seabad yang lalu berangkat dari suatu
permulaan yang sangat kecil dan tidak berarti di Qadian telah ditakdirkan berkembang menjadi suatu organisasi perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju
menyampaikan tabligh Islam ke
seluruh pelosok dunia -- lebih dari 200 negara di dunia -- sehingga,
insya Allah, Islam
akan mengungguli dan menang atas semua agama (QS.61:10) dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan
dan pamornya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Maret
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar