Kamis, 12 Maret 2015

Hikmah Proses Pewahyuan Al-Quran Secara Bertahap & Makna "Nasikh" dan "Mansukh" yang Benar





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 74

Hikmah Proses Pewahyuan Al-Quran Secara Bertahap  & Makna Nasikh dan Mansukh yang Benar
 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  orang-orang yang “dilupakan” Allah Swt. Pada  Hari Pertemuan” dengan-Nya di dunia  dalam Surah Al-Jatsiyah,  sehubungan dengan para “penghuni api”,  firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ السَّاعَۃُ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا  قُلۡتُمۡ مَّا نَدۡرِیۡ مَا السَّاعَۃُ ۙ اِنۡ  نَّظُنُّ   اِلَّا ظَنًّا وَّ مَا نَحۡنُ  بِمُسۡتَیۡقِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ بَدَا لَہُمۡ سَیِّاٰتُ مَا عَمِلُوۡا وَ حَاقَ بِہِمۡ  مَّا  کَانُوۡا  بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  وَ قِیۡلَ  الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ  ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا  لَکُمۡ  مِّنۡ  نّٰصِرِیۡنَ ﴿﴾  ذٰلِکُمۡ  بِاَنَّکُمُ  اتَّخَذۡتُمۡ  اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا وَّ غَرَّتۡکُمُ الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا ۚ فَالۡیَوۡمَ لَا یُخۡرَجُوۡنَ مِنۡہَا وَ لَا ہُمۡ یُسۡتَعۡتَبُوۡنَ ﴿﴾  فَلِلّٰہِ  الۡحَمۡدُ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ رَبِّ الۡاَرۡضِ  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَہُ  الۡکِبۡرِیَآءُ  فِی  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۪ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dan apabila dikatakan: اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ السَّاعَۃُ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا    --  "Sesungguhnya janji Allah itu pasti benar dan  saat itu tidak ada keraguan di dalamnya." Kamu berkata: "Kami sekali-kali tidak mengetahui apa saat itu,  kami mengira itu hanya  dugaan belaka dan kami tidak yakin."  وَ بَدَا لَہُمۡ سَیِّاٰتُ مَا عَمِلُوۡا وَ حَاقَ بِہِمۡ  مَّا  کَانُوۡا  بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ   --  Dan nyatalah  bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan, dan mereka dikepung  oleh apa yang mengenainya selalu mereka perolokkan.    وَ قِیۡلَ  الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ  ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا  لَکُمۡ  مِّنۡ  نّٰصِرِیۡنَ   --  Dan dikatakan:   "Pada hari ini Kami akan melupakan kamu, sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan pada harimu ini, dan tempat tinggal kamu adalah Api, dan sekali-kali tidak  ada bagimu penolong.   ذٰلِکُمۡ  بِاَنَّکُمُ  اتَّخَذۡتُمۡ  اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا وَّ غَرَّتۡکُمُ الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا  -- Hal itu disebabkan   kamu telah menjadikan Tanda-tanda Allah perolokan, dan kamu telah diperdayakan oleh kehidupan dunia ini,  فَالۡیَوۡمَ لَا یُخۡرَجُوۡنَ مِنۡہَا وَ لَا ہُمۡ یُسۡتَعۡتَبُوۡنَ  -- maka pada hari itu mereka tidak akan dikeluarkan darinya, dan tidak akan di-terima alasan mereka.    فَلِلّٰہِ  الۡحَمۡدُ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ رَبِّ الۡاَرۡضِ  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Maka segala puji kepunyaan Allah  Rabb (Tuhan) seluruh langit dan Rabb (Tuhan) bumi,  Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَہُ  الۡکِبۡرِیَآءُ  فِی  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۪ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  Dan kepunyaan-Nya semua  keagungan di seluruh langit dan bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jatsiyah [45]:33-38).

Hari Penghisaban Catatan Amal Kaum

       Makna kata “hari kamu ini” dalam ayat وَ قِیۡلَ  الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ  ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا  لَکُمۡ  مِّنۡ  نّٰصِرِیۡنَ   --  Dan dikatakan:   "Pada hari ini Kami akan melupakan kamu, sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan pada harimu ini, dan tempat tinggal kamu adalah Api, dan sekali-kali tidak  ada bagimu penolong”    adalah  Hari penghukuman kamu yang telah dijanjikan ini”, yang dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 disebut “Hari Pembalasan.”
       Sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya, Kitab suci  Al-Quran pun dari satu segi merupakan “kitab catatan amal   umat manusia, yang telah “mencatatnya” dengan sangat lengkap   -- termasuk mencatat masalah ilmu pengetahuan mengenai proses penciptaan  tatanan alam semesta  (QS.21:35; QS.13:1-5; QS.67:1-6) --  firman-Nya:
 وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ مُشۡفِقِیۡنَ  مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ  رَبُّکَ  اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka, maka engkau akan melihat orang-­orang yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan mereka akan berkata: "Aduhai  celakalah kami! Kitab apakah ini? Ia tidak meninggalkan sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar  melainkan telah mencatatnya."  Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf [18]:50).
       Kembali kepada kepada pokok pembahasan Surah Ad-Dahr (Al-Insan)   -- Surah Al-Quran yang menjadi pokok pembahasan dalam Blog ini   --  Allah Swt. berfirman mengenai proses pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  selama 23 tahun berlangsungnya   Laitul Qadar (Malam Takdir – QS.97:1-6):
نَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡقُرۡاٰنَ تَنۡزِیۡلًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran kepada engkau dengan berangsung-angsur  (Ad-Dahr [76]:24).  

Hikmah Proses Pewahyuan Al-Quran Secara  Bertahap

    Sesuai dengan Sifat Rabbubiyat-Nya (QS.1:2) Allah Swt. telah mewahyukan Al-Quran  kepada Nabi Besar Muhammad saw. secara bertahap dan sedikit-sedikit. Diturunkan-Nya Al-Quran meliputi masa 23 tahun. Proses bertahap itu bertujuan ganda. Proses ini membantu orang-orang beriman mempelajari, menghafalkan, dan meresapkannya serta membentuk kehidupan mereka sesuai dengan ajaran Al-Quran itu (QS.3:32).
    Proses bertahap itu dimaksudkan pula guna memenuhi keperluan-keperluan yang kian meningkat menurut keadaan-keadaan lingkungan yang berubah, dan guna menguatkan keimanan dan keyakinan kaum Muslimin, sebab selama masa-antara itu mereka mendapat kesempatan menyaksikan penyempurnaan nubuatan-nubuatan (kabar-kabar gaib) yang dikemukakan terlebih dahulu dalam Al-Quran.      
      Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut, dalam Surah Bani Israil Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُرۡاٰنًا فَرَقۡنٰہُ لِتَقۡرَاَہٗ  عَلَی النَّاسِ عَلٰی  مُکۡثٍ  وَّ  نَزَّلۡنٰہُ  تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾
Dan Al-Quran  Kami telah menurunkannya  dengan berangsur-angsur supaya engkau dapat membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami telah menurunkannya bagian demi bagian. (Bani Israil [17]:107).
        Al-Quran harus memenuhi keperluan dua macam golongan manusia: (a) Al-Quran harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sementara yang akan datang dari mukhatabin (orang-orang yang menjadi tujuan seruannya) pertama-tama, dan harus pula memenuhi keperluan ruhani langsung dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam; dan (b) Al-Quran harus menyediakan petunjuk bagi masalah-masalah manusia yang besar jumlahnya dan yang beraneka-ragam itu untuk sepanjang masa.
        Ayat yang membahas keberatan-keberatan orang-orang musyrik Mekkah dan perkembangan ruhani orang-orang Islam pertama dengan sendirinya harus diwahyukan terlebih dahulu, sedangkan ayat-ayat yang membahas keperluan-keperluan ruhani manusia yang kekal-abadi diwahyukan belakangan. Dengan demikian ayat-ayat Al-Quran diturunkan (diwahyukan) sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur.
       Manakala ada suatu keberatan tertentu dikemukakan oleh orang-orang kafir, maka diturunkanlah ayat yang berisikan jawaban terhadap keberatan itu. Begitu pula, bila orang-orang Islam di masa permulaan memerlukan petunjuk pada saat tertentu, maka diturunkanlah ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu untuk memenuhi keperluan pada   saat itu.

Hikmah  Perbedaan Tahap Pewahyuan dan Penyusunan Al-Quran

       Itulah urutan asli mengenai turunnya (pewahyuan)  ayat-ayat Al-Quran. Tetapi oleh karena keperluan-keperluan sementara bagi mukhatabin beda dengan keperluan-keperluan tetap bagi umat manusia pada umumnya, maka urutan yang dipakai kemudian dalam penyusunan Al-Quran berupa kitab, dengan sendirinya harus berbeda dari urutan yang dipakai di waktu diturunkan (diwahyukan).         
        Dengan demikian terjawablah  celaan orang-orang kafir mengenai pewahyuan Al-Quran secara bertahap tersebut, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً  وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ  فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan  orang-orang kafir berkata:  “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus? Seperti itulah Kami telah menurunkannya   supaya Kami  meneguhkan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya. (Al-Furqān [25]:33).
       Ringkasnya, Al-Quran diwahyukan sedikit-sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan tertentu yang sangat berguna:   
       (a) Waktu selang antara wahyu berbagai bagian  memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan, dengan demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dalam waktu selang itu.
         (b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu, maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan. Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dapat menghafalkan, mempelajari, dan menyesuaikan diri.
        Seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap, orang-orang kafir dapat mengatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:26). Dengan demikian turunnya Al-Quran secara bertahap pada waktu-waktu yang berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda  menjawab keberatan yang mungkin timbul.

Genapnya Nubuatan Dalam Bible  

        Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian agar supaya dapat dihafalkan di luar kepala dengan mudah, sehingga menjadi salah satu sarana genapnya janji  Allah Swt. untuk menjaga  Al-Quran  segala bentuk kerusakan (QS.15:10).  Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit atau secara bertahap pun memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut:
Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? kanak-kanak yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu diceraikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kesempurnaan Al-Quran serta  hikmah cara pewahyuannya seperti itu: 
وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ  اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ  اَحۡسَنَ  تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Dan mereka tidak datang kepada engkau dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran dan sebaik-baik penjelasan. (Al-Furqan [25]:34).
        Inilah salah satu ciri khas Al-Quran yang membedakannya dari semua kitab wahyu lainnya, yaitu manakala kitab itu membuat suatu pendakwaan mengenai adanya Tuhan, kebenaran Islam, atau tentang berasalnya dari Tuhan sendiri atau apa pun yang lainnya bertalian dengan perkara keagamaan, Al-Quran memberikan dalil-dalil yang diperlukan untuk membuktikan dan mendukung dakwanya, dan tidak mencari perantara lain untuk membantu atau menolongnya.
          Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai posisi dan misi pewahyuan Al-Quran   -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- dalam hubungannya dengan Kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya yang bersifat sementara serta hanya untuk kaum tertentu saja:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ﴿﴾
Ayat  mana pun yang Kami mansukhkan   yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?    Tidak  tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah milik-Nya-lah  Kerajaan seluruh langit dan bumi, dan tidak ada  bagi kamu pelindung dan penolong   selain Allah.   (Al-Baqarah [2]:107-108).

Hakikat Nasikh dan Mansukh yang Benar

       Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran.
      Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah (ayat-ayat) yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
      Dalam ayat tersebut  Allah Swt. menjelaskan  bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
        (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
      (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan wahyu yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
        Al-Quran telah  membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2;  QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
        Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia  Biblica).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  11 Maret      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar