بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 74
Hikmah Proses Pewahyuan Al-Quran Secara Bertahap & Makna Nasikh dan Mansukh yang Benar
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai orang-orang yang “dilupakan”
Allah Swt. Pada “Hari Pertemuan” dengan-Nya di dunia dalam Surah Al-Jatsiyah, sehubungan dengan para “penghuni api”, firman-Nya:
وَ اِذَا
قِیۡلَ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ
السَّاعَۃُ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا قُلۡتُمۡ
مَّا نَدۡرِیۡ مَا السَّاعَۃُ ۙ اِنۡ
نَّظُنُّ اِلَّا ظَنًّا وَّ مَا
نَحۡنُ بِمُسۡتَیۡقِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ بَدَا لَہُمۡ سَیِّاٰتُ مَا عَمِلُوۡا وَ حَاقَ
بِہِمۡ مَّا کَانُوۡا
بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ وَ قِیۡلَ
الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا لَکُمۡ
مِّنۡ نّٰصِرِیۡنَ ﴿﴾ ذٰلِکُمۡ
بِاَنَّکُمُ اتَّخَذۡتُمۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا وَّ غَرَّتۡکُمُ
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ۚ فَالۡیَوۡمَ لَا
یُخۡرَجُوۡنَ مِنۡہَا وَ لَا ہُمۡ یُسۡتَعۡتَبُوۡنَ ﴿﴾ فَلِلّٰہِ
الۡحَمۡدُ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ رَبِّ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَہُ
الۡکِبۡرِیَآءُ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۪ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dan apabila
dikatakan: اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ السَّاعَۃُ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا -- "Sesungguhnya
janji Allah itu pasti benar dan saat
itu tidak ada keraguan di dalamnya." Kamu berkata: "Kami
sekali-kali tidak mengetahui apa saat
itu, kami mengira itu hanya dugaan belaka dan kami tidak yakin." وَ بَدَا لَہُمۡ
سَیِّاٰتُ مَا عَمِلُوۡا وَ حَاقَ بِہِمۡ
مَّا کَانُوۡا بِہٖ
یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ -- Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan
dari apa yang mereka kerjakan, dan mereka dikepung oleh apa
yang mengenainya selalu mereka perolokkan. وَ قِیۡلَ الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ
لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ
النَّارُ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
نّٰصِرِیۡنَ -- Dan dikatakan: "Pada hari ini Kami akan melupakan kamu,
sebagaimana kamu telah melupakan
pertemuan pada harimu ini, dan tempat tinggal kamu adalah Api, dan sekali-kali tidak ada bagimu
penolong. ذٰلِکُمۡ بِاَنَّکُمُ اتَّخَذۡتُمۡ
اٰیٰتِ اللّٰہِ ہُزُوًا وَّ غَرَّتۡکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا -- Hal itu disebabkan kamu telah menjadikan Tanda-tanda Allah perolokan, dan kamu telah diperdayakan oleh kehidupan
dunia ini, فَالۡیَوۡمَ لَا یُخۡرَجُوۡنَ مِنۡہَا وَ لَا ہُمۡ یُسۡتَعۡتَبُوۡنَ -- maka pada hari itu mereka tidak akan dikeluarkan
darinya, dan tidak akan di-terima
alasan mereka. فَلِلّٰہِ الۡحَمۡدُ رَبِّ
السَّمٰوٰتِ وَ رَبِّ الۡاَرۡضِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Maka
segala puji kepunyaan Allah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan Rabb
(Tuhan) bumi, Rabb
(Tuhan) seluruh alam. وَ لَہُ الۡکِبۡرِیَآءُ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۪ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan
kepunyaan-Nya semua keagungan di seluruh langit dan bumi
dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jatsiyah [45]:33-38).
Hari Penghisaban Catatan Amal Kaum
Makna kata “hari kamu ini” dalam ayat وَ قِیۡلَ الۡیَوۡمَ نَنۡسٰکُمۡ کَمَا نَسِیۡتُمۡ
لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا وَ مَاۡوٰىکُمُ
النَّارُ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
نّٰصِرِیۡنَ -- Dan dikatakan: "Pada hari ini Kami akan melupakan kamu,
sebagaimana kamu telah melupakan
pertemuan pada harimu ini, dan tempat tinggal kamu adalah Api, dan sekali-kali tidak ada bagimu
penolong” adalah “Hari
penghukuman kamu yang telah dijanjikan ini”, yang dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 disebut “Hari Pembalasan.”
Sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya, Kitab
suci Al-Quran
pun dari satu segi merupakan “kitab
catatan amal” umat manusia, yang
telah “mencatatnya” dengan sangat lengkap
-- termasuk mencatat masalah ilmu pengetahuan mengenai proses
penciptaan tatanan alam semesta
(QS.21:35; QS.13:1-5; QS.67:1-6) -- firman-Nya:
وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ
مُشۡفِقِیۡنَ مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا
مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ
صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً اِلَّاۤ اَحۡصٰہَا ۚ وَ وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ رَبُّکَ
اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan
kitab amalannya akan diletakkan
di hadapan mereka, maka engkau
akan melihat orang-orang yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di
dalamnya itu, dan mereka akan berkata: "Aduhai celakalah kami! Kitab apakah ini? Ia tidak meninggalkan sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar melainkan telah mencatatnya." Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan
mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf
[18]:50).
Kembali kepada kepada pokok pembahasan Surah Ad-Dahr (Al-Insan) -- Surah Al-Quran yang menjadi pokok
pembahasan dalam Blog ini -- Allah Swt. berfirman mengenai proses pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar
Muhammad saw. selama 23 tahun berlangsungnya
Laitul Qadar (Malam Takdir – QS.97:1-6):
نَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡقُرۡاٰنَ تَنۡزِیۡلًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan
Al-Quran kepada engkau dengan berangsung-angsur
(Ad-Dahr [76]:24).
Hikmah
Proses Pewahyuan Al-Quran Secara Bertahap
Sesuai
dengan Sifat Rabbubiyat-Nya (QS.1:2)
Allah Swt. telah mewahyukan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. secara
bertahap dan sedikit-sedikit. Diturunkan-Nya Al-Quran meliputi masa 23 tahun.
Proses bertahap itu bertujuan ganda.
Proses ini membantu orang-orang beriman mempelajari,
menghafalkan, dan meresapkannya serta membentuk kehidupan mereka sesuai dengan ajaran Al-Quran itu (QS.3:32).
Proses bertahap itu
dimaksudkan pula guna memenuhi keperluan-keperluan
yang kian meningkat menurut keadaan-keadaan
lingkungan yang berubah, dan guna menguatkan keimanan dan keyakinan kaum Muslimin, sebab selama
masa-antara itu mereka mendapat kesempatan menyaksikan
penyempurnaan nubuatan-nubuatan
(kabar-kabar gaib) yang dikemukakan terlebih dahulu dalam Al-Quran.
Sehubungan dengan firman
Allah Swt. tersebut, dalam Surah Bani Israil Allah Swt. berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُرۡاٰنًا فَرَقۡنٰہُ لِتَقۡرَاَہٗ
عَلَی النَّاسِ عَلٰی مُکۡثٍ وَّ
نَزَّلۡنٰہُ تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾
Dan Al-Quran Kami telah menurunkannya dengan berangsur-angsur supaya engkau dapat membacakannya perlahan-lahan
kepada manusia, dan Kami telah menurunkannya bagian demi bagian.
(Bani
Israil [17]:107).
Al-Quran harus memenuhi keperluan dua macam golongan manusia: (a) Al-Quran harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sementara yang akan datang dari
mukhatabin (orang-orang yang menjadi tujuan seruannya) pertama-tama, dan
harus pula memenuhi keperluan ruhani
langsung dari orang-orang yang pertama-tama masuk
Islam; dan (b) Al-Quran harus menyediakan petunjuk bagi masalah-masalah
manusia yang besar jumlahnya dan yang beraneka-ragam
itu untuk sepanjang masa.
Ayat yang membahas keberatan-keberatan orang-orang musyrik
Mekkah dan perkembangan ruhani
orang-orang Islam pertama dengan
sendirinya harus diwahyukan terlebih
dahulu, sedangkan ayat-ayat yang
membahas keperluan-keperluan ruhani
manusia yang kekal-abadi diwahyukan
belakangan. Dengan demikian ayat-ayat
Al-Quran diturunkan (diwahyukan) sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur.
Manakala ada suatu keberatan tertentu dikemukakan oleh orang-orang kafir, maka diturunkanlah
ayat yang berisikan jawaban terhadap keberatan itu. Begitu pula, bila orang-orang Islam di masa permulaan memerlukan petunjuk pada saat tertentu,
maka diturunkanlah ayat-ayat yang
bersangkutan dengan itu untuk memenuhi keperluan
pada saat itu.
Hikmah Perbedaan Tahap Pewahyuan dan Penyusunan Al-Quran
Itulah urutan
asli mengenai turunnya
(pewahyuan) ayat-ayat Al-Quran. Tetapi oleh karena keperluan-keperluan sementara bagi mukhatabin beda dengan keperluan-keperluan tetap bagi umat manusia pada umumnya, maka urutan yang dipakai kemudian dalam penyusunan Al-Quran berupa kitab, dengan sendirinya harus berbeda dari urutan yang dipakai di waktu diturunkan (diwahyukan).
Dengan demikian terjawablah celaan orang-orang kafir mengenai pewahyuan
Al-Quran secara bertahap tersebut, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ
جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ
لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ
رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan orang-orang
kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya
seluruhnya sekali-gus? Seperti itulah Kami telah menurunkannya supaya Kami
meneguhkan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan
yang sebaik-baiknya. (Al-Furqān [25]:33).
Ringkasnya, Al-Quran diwahyukan sedikit-sedikit dan pada
waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan
tertentu yang sangat berguna:
(a) Waktu selang antara wahyu berbagai bagian memberikan kesempatan
kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan
sempurnanya beberapa nubuatan yang
terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan,
dengan demikian keimanan mereka
menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan
untuk menjawab keberatan-keberatan
yang dilancarkan oleh orang-orang kafir
dalam waktu selang itu.
(b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu, maka ayat-ayat
yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan. Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23
tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari, dan
menyesuaikan diri.
Seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus
dalam bentuk sebuah kitab yang
lengkap, orang-orang kafir dapat
mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:26). Dengan
demikian turunnya Al-Quran secara bertahap
pada waktu-waktu yang berlainan, pada
kesempatan-kesempatan yang berlainan,
dan di dalam keadaan-keadaan yang
jauh sekali berbeda menjawab keberatan yang mungkin timbul.
Genapnya Nubuatan Dalam
Bible
Al-Quran diturunkan sebagian demi
sebagian agar supaya dapat dihafalkan
di luar kepala dengan mudah, sehingga menjadi salah satu sarana genapnya janji
Allah Swt. untuk menjaga Al-Quran
segala bentuk kerusakan (QS.15:10). Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit atau secara bertahap pun memenuhi juga nubuatan
dalam Bible seperti berikut:
“Maka siapa gerangan diajarkannya
pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? kanak-kanak
yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu diceraikan dari susu
emaknya? Karena adalah hukum bertambah
hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah
syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai kesempurnaan Al-Quran
serta hikmah cara pewahyuannya
seperti itu:
وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ
اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ
اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Dan mereka tidak datang kepada engkau
dengan sesuatu keberatan melainkan Kami melengkapi engkau dengan kebenaran
dan sebaik-baik penjelasan. (Al-Furqan
[25]:34).
Inilah salah satu ciri khas Al-Quran yang membedakannya dari semua kitab wahyu lainnya, yaitu manakala kitab itu membuat suatu pendakwaan mengenai adanya Tuhan, kebenaran Islam, atau tentang berasalnya
dari Tuhan sendiri atau apa pun yang
lainnya bertalian dengan perkara keagamaan,
Al-Quran memberikan dalil-dalil yang
diperlukan untuk membuktikan dan mendukung dakwanya, dan tidak mencari perantara lain untuk membantu atau
menolongnya.
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman mengenai posisi dan misi pewahyuan Al-Quran -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- dalam hubungannya dengan Kitab-kitab
suci yang diwahyukan sebelumnya
yang bersifat sementara serta hanya
untuk kaum tertentu saja:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami
mansukhkan yakni
batalkan atau Kami biarkan terlupa,
maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya
atau yang semisalnya. Apakah kamu
tidak mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu? Tidak
tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah
milik-Nya-lah Kerajaan
seluruh langit dan bumi, dan tidak ada
bagi kamu pelindung dan penolong selain Allah. (Al-Baqarah [2]:107-108).
Hakikat Nasikh dan Mansukh yang
Benar
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari
ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran
telah dimansukhkan (dibatalkan).
Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat
ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran.
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya
telah disinggung mengenai Ahlul Kitab
dan kedengkian mereka terhadap wahyu baru yang
menunjukkan bahwa āyah (ayat-ayat) yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dalam ayat tersebut Allah Swt.
menjelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu
perlu sekali menghapuskan
bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci
itu dan mengganti dengan perintah-perintah
baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah
yang sudah hilang, maka Allah Swt.
menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya
dengan wahyu yang baru dan lebih
baik, dan di samping itu memasukkan
lagi bagian-bagian yang hilang dengan
yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini
dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan
semua Kitab Suci sebelumnya, sebab —
mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula
kepada seluruh umat manusia dari
semua zaman (QS.7:159; QS.21:108;
QS.25:2; QS.34:29). Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas
yang terbatas harus memberikan
tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup
tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh
(Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik),
dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā
(yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang
lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi
sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi
diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah
hilang (Encyclopaedia Biblica).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Maret
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar