بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 70
Nabi yang Seperti Musa dan Nabi yang Seperti Isa Ibnu Maryam di Kalangan Umat Islam & Amanat
Allah Swt. Kepada Bani Adam (Umat
Beragama)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai ayat وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ -- Dan
orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api,
mereka kekal di dalamnya,” ayat itu berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah -- sebagaimana sikap takabbur yang diperagakan iblis
kepada Adam (khalifah Allah) -- akan melihat dengan mata kepala sendiri
penyempurnaan kabar-kabar gaib yang
meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22) sehingga
mereka disebut mublisīna atau mublisūna (orang-orang
yang berputus-asa - QS.30:50; QS.6:45; QS.23:78; QS.43:76) yang akar-katanya
sama dengan kata iblis yakni ablasa
(putus asa, bingung, bersedih hati
dll).
Mereka
yang meniru ketakaburan Iblis akan
merasakan hukuman Ilahi yang dijanjikan kepada mereka karena
menentang utusan-utusan Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki
diri, tidak akan ada ketakutan
menimpa mereka dan tidak pula mereka
akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ -- Dan
orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api,
mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35).
Empat Tugas Besar “Nabi
yang Seperti Musa”
Atas dasar Sunnatullah itu pulalah -- guna melengkapi persamaan antara Bani Isma’il
(umat Islam) dengan Bani Israil -- maka
Allah Swt. telah menubuatkan
pengutusan dua orang Rasul di
kalangan Bani Isma’il, yakni nabi yang seperti Musa a..s – yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11) dan Nabi yang seperti Isa Ibnu Maryam atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:68) atau Al-Masih Mau’ud a.s., yaitu Mirza
Ghulam Ahmad a.s., yang muncul dari kalangan umat Islam kaum ākharīn, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian
keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat 3. Tugas agung dan mulia
itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw.
di tengah-tengah orang-orang Arab buta
huruf itu – yang berada dalam kesesatan yang nyata tersebut -- leluhur Nabi Besar Muhammad saw., Nabi
Ibrahim a.s. telah
memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai
putranya, Nabi Isma’il a.s. beliau
mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:130).
Pada hakikatnya tidak
ada Pembaharu ruhani dapat
benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang
kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita
dan asas-asas ajarannya serta
mengajarkan falsafah, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu, kemudian mengirimkan
pengikut-pengikutnya tersebut ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa-bangsa
lain, karena Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran
adalah Rasul Allah dan Kitab suci
(agama) untuk seluruh umat manusia
(QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para
pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafah ajaran beliau saw. menimbulkan
dalam diri mereka keyakinan iman, dan
contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan
di dalam diri mereka kesucian hati.
Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.
Salman
Al-Farisi r.a. Termasuk “Ahli Bait” & Kesedihan Rasul Akhir Zaman
Makna
ayat selanjutnya وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,
bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw.
tidak ditujukan hanya untuk bangsa
Arab belaka -- yang di tengah-tengah
bangsa itu beliau saw. -- dibangkitkan,
melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab
juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman
beliau saw., melainkan juga kepada keturunan
demi keturunan manusia atau Bani
Adam yang akan datang hingga kiamat.
Atau ayat ini dapat
juga berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. akan dibangkitkan lagi di
antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di
dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. untuk kedua
kali dalam wujud Al-Masih Mau’ud a.s. di
Akhir Zaman, yaitu pada masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun
(QS.32:6).
Abu Hurairah r.a. berkata:
“Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.:“Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata وَّ
اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا
بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum
lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi)
sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau pada
Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya,
seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Al-Masih
Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, -- walau pun memiliki hubungan
darah dengan Nabi Besar Muhammad saw. melalui Sayyidina Hasan bin Ali bin
Abi Thalib r.a. -- adalah dari keturunan Parsi.
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
pada saat ketika tidak ada yang tertinggal
di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya,
yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati
akan lenyap (Baihaqi), sesuai
firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan.” Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi
tiap-tiap nabi dari antara orang-orang
yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk
dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat 31
dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan
kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum
pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir Zaman ini.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa ada sebuah hadits Nabi
Besar Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang
dimaksudkan itu.
Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat
bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 ayat
ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali
Nabi Besar Muhammad saw. dalam
wujud Al-Masih Mau’ud a.s., dan
sudah merupakan Sunatullah beliau pun
akan didustakan oleh umumnya umat beragama di Akhir Zaman ini, terutama oleh umat
Islam, sehingga menambah lengkap persamaan antara umat Islam dengan orang-orang
Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ
مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
Jadi, pernyataan Nabi Besar
Muhammad saw. yang menyatakan bahwa “Salman
al-Farisi termasuk ahli bait” benar-benar mengandung makna yang sangat dalam, artinya bahwa untuk termasuk ke dalam “ahli bait” Nabi Besar Muhammad saw.
adanya hubungan darah bukanlah satu-satunya syarat, sebab Nabi Besar
Muhammad saw. dan istri-istri mulia
beliau saw. merupakan “bapak ruhani dan
ibu-ibu ruhani” orang-orang beriman – tanpa membeda-bedakan ras
(bangsa dan warna kulit) --
firman-Nya:
اَلنَّبِیُّ اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ
وَ اَزۡوَاجُہٗۤ اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ
اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ
اِلَّاۤ اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا اِلٰۤی
اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada
diri mereka sendiri, dan istri-istrinya
adalah ibu-ibu mereka. Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama daripada orang-orang
beriman dan orang-orang yang hijrah,
kecuali jika kamu berbuat
kebaikan terhadap sahabatmu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran. (Al-Ahzab [33]:7).
Firman-Nya lagi:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ
مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪ ﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Seandainya benar bahwa kedudukan anak laki-laki itu lebih
mulia daripada anak perempuan -- sebagaimana adat istiadat jahiliyah bangsa Arab – pasti tidak akan ada seorang
pun putra laki-laki Nabi Besar
Muhammad saw. yang wafat di masa kecil, contohnya putra beliau saw. yang bernama Ibrahim, sehingga beliau saw. dicemoohkan oleh para pemimpun kafir
Quraisy sebagai seorang abtar (yang terputus
keturunannya), namun dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa justru para penentang beliau saw, itulah yang akan terbukti abtar (terputus keturunannya, baik keturunan jasmani mau pun keturunan
ruhani mereka, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّاۤ اَعۡطَیۡنٰکَ
الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah
kebaikan. Maka shalatlah
bagi Rabb (Tuhan) engkau
dan berkorbanlah. اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ -- Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang
tanpa keturunan. (Al-Kautsār [108]:1-4).
Makna Kautsar & Makna Abtar
Kautsar
antara lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar berarti
pula orang yang mempunyai banyak kebaikan dan orang yang banyak dan
sering memberi (Al-Mufradat dan
Tafsir Ibnu Jarir).
Surah ini mengemukakan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai pribadi yang telah dianugerahi Allah Swt. k autsar yakni kebaikan berlimpah-limpah.
Surah ini
diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. pada saat ketika beliau saw. tidak
memiliki apapun dan tidak punya sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau saw.
sangat miskin dan pengakuan beliau
sebagai nabi Allah dipandang dengan
hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.
Bertahun-tahun
lamanya sesudah Surah ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan ditertawakan, dilawan serta ditindas,
dan pada akhirnya beliau saw. terpaksa meninggalkan Mekkah, kota kelahiran
beliau saw., sebagai seorang pelarian, dan telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil
menangkap beliau dalam keadaan hidup atau mati. (QS.8:31; QS.9:40).
Selama beberapa tahun di Medinah pun jiwa Nabi
Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya
dan musuh dengan tidak sabar menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis
(menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang
bakal demikian terjadinya.
Kemudian
menjelang akhir hayat Nabi Besar Muhammad saw. kebaikan
yang berlimpah-limpah dalam segala
corak dan bentuk turun kepada beliau saw. bagaikan air hujan, dan janji yang terkandung dalam Surah ini telah
menjadi sempurna secara harfiah. “Pelarian”
dari Mekkah itu telah menjadi orang yang menentukan
nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra
padang pasir yang tidak dapat membaca
dan menulis itu terbukti menjadi Guru Abadi seluruh umat manusia
(QS.3:32; QS.33:22; QS.4:70-71).
Allah Swt.
telah memberi Nabi Besar Muhammad saw. sebuah Kitab yang merupakan petunjuk
yang tidak mungkin gagal, untuk seluruh
umat manusia dan untuk sepanjang masa
(QS.5:4), dan dengan meresapkan Sifat-sifat
Tuhan ke dalam diri beliau saw., beliau saw. telah mencapai martabat tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat dicapai oleh seorang manusia
(QS.53:1-19), sehingga mendapat gelar Khātaman
Nabiyyīn (Meterai atau mahkota para nabi – QS.33:41).
Nabi Besar
Muhammad saw. dikaruniai sahabat-sahabat
yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara
bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khāliq
datang kepada beliau saw. agar meninggalkan dunia yang fana ini, beliau saw. merasa
puas telah melaksanakan tugas suci
yang diserahkan kepada beliau saw. dengan sepenuhnya dan sesempurna-sempurnanya
(QS.110:1-4).
Pendek
kata, segala macam kebaikan, baik
bersifat kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. dalam
ukuran yang penuh. Oleh sebab itu beliau saw. itulah yang paling pantas disebut
“Nabi paling berhasil dari antara
sekalian nabi” (Encyclopaedia Britannica).
Adalah
sangat bermakna bahwa dalam ayat ini musuh-musuh
Nabi Besar Muhammad saw. telah disebut dengan kata-kata tegas
bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki), sedangkan
menurut kenyataan sejarah sendiri,
semua putra beliau saw. -- baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah
ayat ini turun -- telah wafat dan
beliau saw. tidak meninggalkan seorang pun putra.
Hal
itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya berarti: orang yang tidak
mempunyai keturunan ruhani
(putra-putra ruhani) dan bukan putra-putra
jasmani seperti biasa dikatakan orang. Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Allah Swt. Sendiri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak akan meninggalkan anak laki-laki seorang pun, oleh karena
beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah
ruhani berjuta-juta putra ruhani,
sepanjang masa sampai Akhir Zaman – putra-putra
yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh cinta daripada putra-putra
jasmani ayah mana pun.
Jadi, bukan Nabi Besar Muhammad saw. melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang
mati abtar
(tanpa berketurunan), sebab dengan masuknya putra-putra
mereka ke dalam pangkuan Islam mereka
itu telah menjadi putra-putra ruhani Nabi
Besar Muhammad saw., dan mereka itu merasa
malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah kandung (ayah jasmani) yang melahirkan mereka sendiri.
Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.
& As-Sā’ah (Tanda Kiamat) bagi Bani
Israil dan Bani Isma’il (Bangsa
Arab)
Pendek kata, dalam kenyataannya keturunan
Nabi Besar Muhammad saw. yang berusia panjang serta menjadi leluhur keturunan-keturunan
suci Nabi Besar Muhammad saw. adalah anak
perempuan, yaitu Sayyidah Fathimah
az-Zahra r.a., sehingga Rasul Akhir
Zaman yang dibangkitkan dari
kalangan “ākharīna minhum” yaitu disebut Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.43:58).
Jadi, dari satu segi keadaan Sayyidah
Fathimah az-Zahra r.a. memiliki persamaan dengan Maryam
binti ‘Imran r.a., sehingga
sebagaimana halnya hubungan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dengan Bani Israil
adalah melalui perempuan, demikian pula halnya seluruh ahli bait Nabi Besar
Muhammad saw. yang merupakan keturunan
beliau saw. adalah melalui perempuan
pula yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a., sekali pun beliau bersuamikan Sayyidina Abi bin Abi Thalib r.a., keponakan Nabi Besar Muhammad saw..
Mengapa demikian? Sebab sebagaimana halnya keterkaitan
(hubungan darah) Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dengan Bani Israil hanya
melalui perempuan, yakni ibunda
beliau Maryam r.a., demikian pula keterkaitan
(hubungan darah) Al-Masih Mau’ud a.s.
atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – pun dengan bangsa Arab (Bani Isma’il) pun melalui perempuan,
yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.
binti Muhammad Musthafa saw..
Itulah pula sebabnya pula, sebagaimana Allah Swt. telah menyatakan bahwa pengutusan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.
yang dilahirkan tanpa ayah
dari kalangan Bani Israil sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi Bani Israil, demikian pula halnya dengan pengutusan Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
dibangkitkan dari kalangan umat Islam -- yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – merupakan as-Sā’ah
bagi bangsa
Arab (Bani Isma’il), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ
ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً فِی الۡاَرۡضِ
یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ
لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ
بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا
یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ
لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya, وَ
قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
مَا ضَرَبُوۡہُ
لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ
قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ -- Mereka
tidak menyebutkan hal itu kepada engkau
melainkan perbantahan semata. Bahkan
mereka adalah kaum yang biasa berbantah.
اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan bagi Bani
Israil. وَ لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً فِی الۡاَرۡضِ
یَخۡلُفُوۡنَ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara kamu sebagai penerus
di bumi. ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ
فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai Saat, maka janganlah
ragu-ragu mengenainya dan ikutilah
aku, inilah jalan lurus. وَ لَا
یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ
لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- Dan janganlah syaitan menghalang-halangi kamu,
sesungguhnya ia bagi kamu adalah musuh
yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:58-63).
Shadda
(yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda
(yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan
atau protes (Aqrab-al-Mawarid). Kedatangan Al-Masih
Ibnu Maryam a.s. adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan
dihinakan dan direndahkan serta
akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2 Maret
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar