Senin, 02 Maret 2015

Nabi yang "Seperti Musa" dan Nabi yang "Seperti Isa Ibnu Maryam" di Kalangan Umat Islam & Amanat Allah Swt. Kepada "Bani Adam" (Umat Beragama)




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 70

Nabi yang Seperti Musa dan Nabi yang Seperti Isa Ibnu Maryam  di Kalangan Umat Islam & Amanat Allah Swt. Kepada Bani Adam (Umat Beragama)
  
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  ayat    وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ    --  Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya,” ayat itu berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah  -- sebagaimana sikap takabbur yang diperagakan iblis kepada Adam (khalifah Allah)  --  akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22) sehingga mereka disebut  mublisīna atau mublisūna (orang-orang yang berputus-asa - QS.30:50; QS.6:45; QS.23:78; QS.43:76) yang  akar-katanya sama dengan kata iblis  yakni ablasa (putus asa,  bingung, bersedih hati dll).
         Mereka yang  meniru ketakaburan  Iblis akan merasakan hukuman Ilahi yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt., firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.   یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu,  فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ    --  Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35).

Empat Tugas Besar “Nabi yang Seperti Musa

   Atas dasar Sunnatullah  itu pulalah    -- guna melengkapi persamaan antara Bani Isma’il (umat Islam) dengan Bani Israil -- maka Allah Swt. telah menubuatkan pengutusan dua orang Rasul di kalangan Bani Isma’il, yakni nabi yang seperti Musa a..s – yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  (Ulangan 18:15-19; QS.46:11)  dan  Nabi yang seperti Isa Ibnu Maryam atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:68) atau Al-Masih Mau’ud a.s., yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang muncul dari kalangan umat Islam kaum ākharīn, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾      وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Tugas suci  Nabi Besar Muhammad saw.  meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat 3. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau saw., sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu – yang berada dalam kesesatan yang nyata tersebut  -- leluhur Nabi Besar Muhammad saw., Nabi Ibrahim a.s.  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s.  beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:130).
    Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu ruhani dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafah, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya tersebut ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa-bangsa lain, karena Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran adalah Rasul Allah dan Kitab suci (agama) untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2;  QS.34:29).
    Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw.  berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafah ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.

 Salman Al-Farisi r.a. Termasuk  Ahli Bait” & Kesedihan Rasul Akhir Zaman

    Makna ayat selanjutnya  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, bahwa ajaran Nabi Besar Muhammad saw. tidak ditujukan hanya  untuk  bangsa Arab belaka  -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw.   -- dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw., melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia  atau Bani Adam yang akan datang hingga kiamat.
     Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad  saw. akan dibangkitkan  lagi di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  untuk kedua kali dalam wujud  Al-Masih Mau’ud a.s.  di Akhir Zaman, yaitu pada masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun (QS.32:6).
   Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.:“Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?”Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
   Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah  saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
   Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.   Al-Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, -- walau pun memiliki  hubungan darah dengan Nabi Besar Muhammad saw. melalui Sayyidina Hasan   bin Ali bin Abi Thalib r.a. --  adalah dari keturunan Parsi.
  Hadits Nabi Besar Muhammad  saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi), sesuai firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.”   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
       Ayat  31   dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti   di Akhir Zaman ini.
        Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
      Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud  Al-Masih Mau’ud a.s.,  dan sudah merupakan Sunatullah beliau pun akan didustakan oleh  umumnya umat beragama di Akhir Zaman ini, terutama oleh umat Islam,  sehingga menambah lengkap persamaan antara umat Islam dengan orang-orang Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
        Jadi, pernyataan Nabi Besar Muhammad saw. yang menyatakan bahwa “Salman al-Farisi termasuk ahli bait   benar-benar mengandung makna yang sangat dalam, artinya bahwa untuk  termasuk ke dalam “ahli bait” Nabi Besar Muhammad saw.  adanya hubungan darah  bukanlah satu-satunya syarat, sebab Nabi Besar Muhammad saw. dan istri-istri mulia beliau saw. merupakan “bapak ruhani dan ibu-ibu ruhani  orang-orang beriman – tanpa membeda-bedakan ras   (bangsa dan warna kulit)  -- firman-Nya:
 اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  mereka.  Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang  hijrah,  kecuali jika kamu berbuat kebaikan terhadap sahabatmu,  yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzab [33]:7).
Firman-Nya lagi: 
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪ ﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
          Seandainya benar  bahwa kedudukan anak laki-laki itu lebih mulia daripada anak perempuan  -- sebagaimana adat istiadat jahiliyah bangsa Arab – pasti tidak akan ada seorang pun putra laki-laki Nabi Besar Muhammad saw. yang wafat di masa kecil, contohnya putra beliau saw. yang bernama Ibrahim, sehingga beliau saw. dicemoohkan oleh para pemimpun kafir Quraisy sebagai seorang abtar (yang terputus keturunannya), namun dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa justru para penentang beliau saw, itulah  yang akan terbukti abtar (terputus keturunannya, baik keturunan jasmani mau pun keturunan ruhani mereka, firman-Nya:  
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah  bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah.  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ  -- Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan.  (Al-Kautsār [108]:1-4).

Makna Kautsar & Makna Abtar

   Kautsar antara lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar berarti pula  orang yang mempunyai banyak kebaikan dan orang yang banyak dan sering memberi (Al-Mufradat dan Tafsir Ibnu Jarir). Surah ini mengemukakan  Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai pribadi yang telah dianugerahi Allah Swt. k autsar yakni kebaikan berlimpah-limpah.
   Surah ini diturunkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. pada saat ketika beliau saw.  tidak memiliki apapun dan tidak punya sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau saw. sangat miskin dan pengakuan beliau sebagai nabi Allah dipandang dengan hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.
    Bertahun-tahun lamanya sesudah Surah ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan ditertawakan, dilawan serta ditindas, dan pada akhirnya beliau saw. terpaksa meninggalkan Mekkah, kota kelahiran beliau  saw., sebagai seorang pelarian, dan telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil menangkap beliau dalam keadaan hidup atau mati. (QS.8:31; QS.9:40).
   Selama beberapa tahun di Medinah pun jiwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya dan musuh dengan tidak sabar menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis (menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang bakal demikian terjadinya.
  Kemudian menjelang akhir hayat Nabi Besar Muhammad saw.  kebaikan yang berlimpah-limpah dalam segala corak dan bentuk turun kepada beliau saw. bagaikan air hujan, dan janji yang terkandung dalam Surah ini telah menjadi sempurna secara harfiah.  “Pelarian” dari Mekkah itu telah menjadi orang yang menentukan nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis itu terbukti menjadi Guru Abadi seluruh umat manusia (QS.3:32; QS.33:22; QS.4:70-71).
    Allah Swt. telah memberi Nabi Besar Muhammad saw. sebuah Kitab yang merupakan petunjuk yang tidak mungkin gagal, untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa (QS.5:4), dan dengan meresapkan Sifat-sifat Tuhan ke dalam diri beliau saw., beliau saw. telah mencapai martabat tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat dicapai oleh seorang manusia (QS.53:1-19), sehingga mendapat gelar Khātaman Nabiyyīn (Meterai atau mahkota para nabi – QS.33:41).
 Nabi Besar Muhammad saw. dikaruniai sahabat-sahabat yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khāliq datang kepada beliau saw. agar meninggalkan dunia yang fana ini, beliau saw.   merasa puas telah melaksanakan tugas suci yang diserahkan kepada beliau saw. dengan sepenuhnya dan sesempurna-sempurnanya (QS.110:1-4).
    Pendek kata, segala macam kebaikan, baik bersifat kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.    dalam ukuran yang penuh. Oleh sebab itu beliau saw. itulah yang paling pantas disebut Nabi paling berhasil dari antara sekalian nabi(Encyclopaedia  Britannica).
  Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat ini musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.  telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki), sedangkan menurut kenyataan sejarah sendiri, semua putra  beliau saw. --  baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun -- telah wafat dan beliau saw. tidak meninggalkan seorang pun putra.
    Hal itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya berarti: orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putra-putra ruhani) dan bukan putra-putra  jasmani  seperti biasa dikatakan orang.  Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Allah Swt. Sendiri bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak akan meninggalkan anak laki-laki seorang pun, oleh karena beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah ruhani berjuta-juta putra ruhani, sepanjang masa sampai Akhir Zaman – putra-putra yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh cinta daripada putra-putra jasmani ayah mana pun.
    Jadi, bukan Nabi Besar Muhammad saw.  melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang mati  abtar (tanpa berketurunan), sebab dengan masuknya putra-putra mereka ke dalam pangkuan Islam mereka itu telah menjadi putra-putra ruhani Nabi Besar Muhammad saw., dan mereka itu merasa malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah kandung (ayah jasmani) yang melahirkan mereka sendiri.

Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a. &  As-Sā’ah (Tanda Kiamat) bagi Bani Israil dan Bani Isma’il (Bangsa Arab)

        Pendek kata, dalam kenyataannya  keturunan Nabi Besar Muhammad saw. yang berusia panjang serta menjadi  leluhur keturunan-keturunan suci Nabi Besar Muhammad saw. adalah anak perempuan, yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a., sehingga Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan dari kalangan “ākharīna minhum” yaitu  disebut Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58). 
     Jadi, dari satu segi keadaan  Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.   memiliki persamaan   dengan Maryam binti ‘Imran r.a.,  sehingga sebagaimana halnya hubungan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Bani Israil adalah melalui perempuan, demikian pula halnya seluruh ahli bait  Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan keturunan beliau saw. adalah melalui perempuan pula yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.,  sekali pun beliau  bersuamikan  Sayyidina Abi bin Abi Thalib r.a., keponakan Nabi Besar Muhammad saw..  
      Mengapa demikian? Sebab sebagaimana halnya  keterkaitan (hubungan darah) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Bani Israil hanya melalui perempuan, yakni ibunda beliau Maryam r.a., demikian pula keterkaitan (hubungan darah) Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – pun dengan bangsa Arab (Bani Isma’il) pun  melalui perempuan, yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a. binti Muhammad  Musthafa saw..
         Itulah pula sebabnya  pula, sebagaimana  Allah Swt. telah menyatakan  bahwa pengutusan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.  yang dilahirkan tanpa ayah dari kalangan Bani Israil sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi Bani Israil,  demikian pula halnya dengan pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam   -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.    merupakan as-Sā’ah bagi  bangsa Arab (Bani Isma’il), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾   وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾  وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya,  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ  --  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ  -- Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil.  وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ --  Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi. ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ  -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai  Saat,  maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus.  وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ -- Dan janganlah syaitan menghalang-halangi kamu, sesungguhnya ia bagi kamu adalah musuh yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:58-63).
      Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan atau protes  (Aqrab-al-Mawarid). Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.   adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  2  Maret      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar