بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 76
Janji Pembentukan Khilafat Kenabian Dalam Islam di Akhir Zaman & Sikap Melampaui
Batas Dua Golongan Ahli Kitab Berkenaan
Para Rasul Allah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai “kaum lain” yang dibangkitkan
di kalangan umat Islam di Akhir Zaman itu pulalah perumpamaan mereka yang dikemukakan dalam Injil, firman-Nya:
مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ
اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا
سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫
سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ
فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ
فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ
اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ
فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu
adalah Rasul Allah, وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ -- dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang ka-fir,
tetapi berkasih-sayang di
antara mereka, فَضۡلًا مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ -- engkau
melihat mereka rukuk serta sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ -- ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada
wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ
مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat, ذٰلِکَ
مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ -- dan perumpamaan
mereka dalam Injil adalah laksana
tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi
kokoh, dan berdiri mantap pada
batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ -- supaya Dia
membangkit-kan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
-- Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman dan berbuat
amal saleh di antara mereka ampunan
dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30).
Perumpamaan dan Nubuatan Dalam Taurat dan Injil & Jemaat Muslim
Ahmadiyah
Inilah dua macam ciri khas penting bagi suatu bangsa maju dan jaya yang berusaha meninggalkan
jejak kesuksesan mereka di atas jalur peristiwa sejarah dunia. Di lain
tempat dalam Al-Quran (QS.5:55) orang-orang Muslim
sejati dan baik telah dilukiskan sebagai yang baik hati dan rendah
hati terhadap orang-orang mukmin dan keras
serta tegas terhadap orang-orang kafir.
Kata-kata, “Demikianlah perumpamaan
mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni: “Kelihatanlah
ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit
Ka-des” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab”
dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam
bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came
with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang
dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut.
33:2), Peny).
Ada pun ungkapan dalam Injil وَ مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ
ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ -- “Dan perumpamaan
mereka dalam Injil adalah laksana tanaman,“ dapat ditujukan kepada
perumpamaan lain dalam Bible, yaitu:
“Adalah
seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada
separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis
benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak
tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan
tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah
ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta
membantutkan benih itu. Dan ada pula se-paruh jatuh di tanah yang baik,
sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang
tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius
13:3-8).
Perumpamaan
yang pertama nampaknya dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. dan perumpamaan yang kedua dikenakan kepada
para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s., -- yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- yang seabad yang lalu berangkat dari suatu
permulaan yang sangat kecil dan tidak berarti di Qadian telah ditakdirkan berkembang menjadi suatu organisasi perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju
menyampaikan tabligh Islam ke
seluruh pelosok dunia -- lebih dari 200 negara di dunia -- sehingga,
insya Allah, Islam
akan mengungguli dan menang atas semua agama (QS.61:10) dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan
dan pamornya.
Janji Pembentukan Khilafat
Kenabian di Kalangan Umat Islam di Akhir Zaman
Firman Allah Swt. mengenai janji-Nya dalam ayat:
وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
-- Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman dan berbuat
amal saleh di antara mereka ampunan
dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30), memiliki hubungan
khusus dengan firman-Nya berikut ini berkenaan dengan pembentukan khilafat hakiki di
lingkungan “kaum pengganti” di kalangan umat Islam di Akhir Zaman (QS.62:3-5):
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu niscaya Dia akan menjadikan mereka itu
khalifah di bumi ini sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya
yang telah Dia ridhai bagi mereka,
dan niscaya Dia akan meng-ubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir
sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr [24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat,
maka dalam ayat-ayat 52-55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan
mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah
dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan
dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi yakni khalifah.
Janji itu
diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan
mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan
tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi
Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji
mengenai ditegakkannya khilafat
adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham, karena kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, maka khilafat
beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai
Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
Inilah, di antara banyak keunggulan
yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Di Akhir
Zaman umat manusia telah
menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Al-Masih
Mau’ud a.s. yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.., sebagai kenyataan
benarnya firman Allah Swt. mengenai pewarisan
nikmat-nikmat
ruhani kepada
para pengikut hakiki beliau di Akhir Zaman ini (QS.3:32; QS.33:22),
firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ
حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini فَاُولٰٓئِکَ مَعَ
الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ -- maka
mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
Merupakan Fadhl (Karunia) Allah Swt.
Kata depan ma’a dalam ayat
فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ --
“mereka akan termasuk di
antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka” menunjukkan adanya dua orang
atau lebih, bersama pada suatu tempat
atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Kata itu mengandung arti bantuan, seperti tercantum dalam
QS.9:40 (Al-Mufradat). Kata
itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian fi
artinya “di antara” (QS.3:194; QS.4:
147) maknanya menjadi.
Ayat 70
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — para nabi, para shiddiq, para syuhada (saksi-saksi) dan para shalih (orang-orang saleh) — kini
semuanya dapat dicapai hanya dengan
jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22).
Hal ini
merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang
membicarakan nabi-nabi secara umum
dan mengatakan: “Dan orang-orang yang
beriman kepada Allāh dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan
saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” (QS.57:20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama
maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga, yakni nabi pengikut Nabi Besar Muhammad saw.. yang disebut nabi ummati.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat,
sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat
dicapai.”
Ungkapan fadhl
(karunia) dalam ayat selanjutnya ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- “Itulah
karunia dari Allah, dan cukuplah
Allah Yang Maha Mengetahui” (QS.4:70) berkaitan sangat erat dengan ayat 5
pada Surah Al-Jumu’ah sebelum ini
berkenaan dengan dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang
nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan juga akan
membangkitkan-nya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
Doa dan Nubuatan
Dalam Surah Al-Fatihah
Mereka itulah orang-orang yang Allah Swt. mengenugerahkan nikmat-nikmat ruhani yang dalam Surah Al-Fatihah
disebut dalam bentuk doa:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah [1]:6-7).
Orang beriman sejati tidak akan puas hanya dengan dibimbing ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal shalih tertentu saja. Ia
menempatkan tujuannya jauh lebih
tinggi dan berusaha mencapai kedudukan
saat Allah Swt. mulai
menganugerahkan karunia-karunia istimewa
kepada hamba-hamba-Nya.
Ia melihat kepada contoh-contoh karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada
para hamba pilihan Ilahi, lalu
memperoleh dorongan semangat dari
mereka. Ia bahkan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan
– bukan sekedar “bersama-sama dalam satu ruangan melainkan bersama-sama
dalam martabat” -- di antara “orang-orang yang telah
mendapat nikmat” dan menjadi seorang
dari antara mereka.
Orang-orang yang telah mendapat nikmat
itu telah disebut dalam QS.4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang beriman bermohon kepada Allah Swt. agar menganugerahkan karunia ruhani yang tertinggi kepadanya, dan terserah
kepada Dia untuk menganugerahkan
kepadanya karunia yang dianggap-Nya
pantas dan layak bagi orang beriman
itu menerimanya, itulah makna ayat: فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ -- maka mereka
akan termasuk di antara orang-orang yang Allāh memberi nikmat kepada mereka
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih” (An-Nisa
[4]:70).
Mereka yang menolak “nikmat-nikmat ruhani” yang disediakan
Allah Swt. bagi para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang dimaksud dengan doa:
غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
”Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah [1]:7), yang menurut para ‘ulama
salaf yang dimaksud adalah “orang-orang
Yahudi dan Kristen” karena kedua golongan tersebut memberikan respons yang berlebihan (melampaui batas) terhadap nikmat ruhani tersebut, terutama kenabian.
Sikap Melampaui Batas Golongan
Ahli Kitab
Berikut ini adalah firman Allah Swt. mengenai sikap-sikap melampaui batas kedua golongan Ahli Kitab tersebut, sebagai peringatan
bagi umat Islam:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی
اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu kamu berlaku
takabur, فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ -- Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” بَلۡ
لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ
فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidak,
bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani. (Al-Baqarah
[2]:88-89).
Firman-Nya
lagi:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا -- padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya mereka
menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ -- tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya
(At-Taubah [9]:30-33).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Maret
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar