بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 72
Kemunculan
Kembali “Zaman Jahiliyah” di Timur
Tengah & Berbagai Bentuk Azab Ilahi yang Meliputi Dunia
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai persamaan antara umat Islam dengan orang-orang
Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ
مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
Shadda (yashuddu) berarti:
ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid). Jadi, jika dalam kenyataannya dewasa ini suasana
kehidupan di Dunia Muslim
di kawasan Timur Tengah demikian kacau-balau
karena hal tersebut membuktikan benarnya kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. sebagai
as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi umat Islam di kawasan Timur Tengah.
Di Akhir
Zaman ini umumnya umat Islam sari kalangan Bani Isma’il di Timur Tengah benar-benar telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah dicampakkan (QS.25:31), sehingga mereka -- bukan saja telah kembali berada di
pinggir “lubang api” (QS.3:104) -- bahkan telah terjerumus ke dalam “lubang api” neraka duniawi yang sangat mengerikan, karena pihak yang membantai mau pun yang dibantai
adalah sesama yang mengaku umat Islam dan dalam melakukan perbuatannya mengatasnamakan ajaran Islam, sehingga kehormatan
sebagai “umat terbaik” (QS.2:144;
QS.3:111) -- yang sebelumnya disandang
mereka di masa kejayaan yang pertama
-- gelar mulia tersebut sama sekali tidak tampak lagi di
kalangan mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ
اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ
اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ
فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ
النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dengan takwa yang
sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا -- Dan
berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah,
وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ -- dan ingatlah
akan nikmat Allah atasmu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ -- dan kamu
dahulu berada di tepi jurang Api فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- lalu Dia menyelamatkanmu
darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ – Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).
Umat Islam Kembali Berada di Tepi “Jurang Api”
Karena kedatangan saat kematian tidak diketahui, orang-orang beriman dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah Swt. hanya bila diri mereka
senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan
diri kepada-Nya. Jadi ungkapan وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- itu mengandung arti bahwa
orang-orang beriman harus senantiasa
tetap patuh kepada Allah Swt.,
sebagaimana yang diperagakan oleh
Nabi Besar Muhammad saw. dalam mengikuti
millat (sikap beragama) Nabi Ibrahim
a.s. (QS.8:162-164).
Habl
dalam ayat وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا -- “Dan berpegangteguhlah
ka-mu sekalian pada tali Allah, dan janganlah
kamu berpecah-belah” berarti: seutas tali atau pengikat yang dengan itu sebuah benda diikat atau dikencangkan;
suatu ikatan, suatu perjanjian atau permufakatan; suatu kewajiban yang
karenanya kita menjadi bertanggung jawab untuk keselamatan seseorang atau suatu
barang; persekutuan dan perlindungan (Lexicon
Lane).
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda: “Kitab Allah itu tali Allah yang telah diulurkan dari langit ke bumi”
(Tafsir Ibnu Jarir, IV,
30). Namun karena Allah Swt. tidak pernah menurunkan syariat atau Kitab suci tanpa disertai pengutusan Rasul-Nya, karena itu pengutusan Rasul Allah pun – baik membawa wahyu
syariat atau pun tidak -- merupakan bagian dari “penguluran Tali Allah dari
langit.”
Sangat
sukar kita mendapatkan suatu kaum yang terpecah-belah
lebih daripada orang-orang Arab
sebelum kedatangan Nabi Besar Muhammad
saw. di tengah mereka, tetapi dalam pada itu sejarah umat manusia tidak dapat
mengemukakan satu contoh pun terciptanya
ikatan persaudaraan penuh cinta yang
menjadikan orang-orang Arab yang sebelumnya bagaikan tulang-belulang berserakan telah bersatu-padu -- bahkan
menjadi “umat terbaik” (QS.1:144;
QS.3:111) -- berkat ajaran
dan teladan luhur lagi mulia Junjungan Agung mereka Nabi Besar
Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja (QS.33:22).
Kata-kata “di
tepi jurang Api” berarti peperangan,
saling membinasakan yang di dalam peperangan itu orang-orang Arab senantiasa terlibat dan menghabiskan kaum pria mereka. Tetapi di Akhir Zaman ini keadaan yang sangat mengerikan tersebut kembali terjadi
-- sekali pun mereka telah memeluk agama Islam – seakan-akan zaman
jahiliyah kembali muncul di kawasan Timur
Tengah.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
keberadaan segolongan di kalangan
umat Islam yang selalu melaksanakan Sunnah
Nabi Besar Muhammad saw.:
وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی
الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ
الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ
اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ
فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ
ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Dan
hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan, menyuruh
kepada yang makruf, melarang dari berbuat munkar, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang berpecah belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang kepada
mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- dan mereka
itulah orang-orang yang baginya
ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ -- Pada hari
ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam.
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ -- Ada pun orang-orang
yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- “Apakah
kamu
kafir sesudah beriman? Karena itu rasakanlah
azab ini disebabkan kekafiran kamu."
وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan ada pun orang-orang yang wajahnya
putih, maka mereka akan berada di
dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya. تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا
لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi,
dan kepada Allah-lah segala urusan
dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:105-110).
Al-khair
dalam ayat وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- “Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senan-tiasa menyeru manusia kepada kebaikan, menyuruh
kepada yang makruf, melarang dari berbuat munkar,
dan mereka itulah orang-orang yang berhasil,” arti al-khair di sini Islam, sebab kebajikan pada umumnya tercakup dalam kata makruf
yang datang segera sesudah itu.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Bila seseorang dari antara kamu melihat
suatu kejahatan, hendaklah melenyapkan kejahatan itu dengan tangannya. Bila ia
tidak dapat melenyapkan dengan tangannya, maka ia hendaknya melarang dengan
lidahnya. Bila ia tidak dapat berbuat hal itu juga, maka hendaknya paling
sedikit membenci di dalam hati, dan itulah iman yang paling lemah” (Muslim).
Golongan
yang Mewarisi Kedudukan Sebagai “Penjaga
Umat” & Allah Swt. Tidak Pernah Berlaku Zalim Kepada Umat
Manusia
Ayat وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang berpecah belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang kepada
mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- dan mereka
itulah orang-orang yang baginya
ada azab yang besar” menunjuk kepada perpecahan dan perselisihan-perselisihan
di tengah-tengah para Ahlul Kitab
untuk menyadarkan kaum Muslimin akan
bahaya ketidak-serasian dan ketidaksepakatan.
Dalam ayat selanjutnya Al-Quran telah
menerangkan warna-warna “putih” dan “hitam” sebagai lambang, masing-masing
untuk “kebahagiaan” dan “kesedihan” (QS.3:107, 108; QS.75:23-25;
QS.80:39-41). Bila seseorang melakukan perbuatan yang karenanya ia mendapat pujian, orang Arab mengatakan mengenai
dia: ibyadhdhaha wajhuhu, yakni “wajah
orang itu menjadi putih”. Dan bila ia melakukan suatu pekerjaan yang patut disesali, maka dikatakan mengenai dia iswadda wajhuhu, yakni “wajahnya
telah menjadi hitam”.
Ungkapan bil-haqq dalam ayat تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا
لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- “Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman atas seluruh
alam”, secara harfiah bil-haqq
berarti “dengan kebenaran” dan diterjemahkan
sebagai “mengandung kebenaran,” dengan demikian berarti: (1) Tanda-tanda atau Ayat-ayat Allah Swt. itu
penuh dengan kebenaran; (2) Tanda-tanda
telah datang secara haq, yakni “kamu
mempunyai hak untuk menerima”; (3) itulah saat
yang paling tepat Ayat-ayat itu
diwahyukan.
Oleh karena itu sebelum Allah Swt. mengutus Rasul-Nya -- baik Rasul
Allah yang membawa syariat mau pun Rasul
Allah yang tidak membawa syariat
– sebagai pembawa kabar gembira dan
sebagai pemberi peringatan -- Allah Swt. tidak akan menimpakan azab Ilahi kepada manusia (QS.6:132;
QS.11:118;QS.17:16; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60): وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا
لِّلۡعٰلَمِیۡنَ --
“karena Allah sekali-kali tidak
menghendaki suatu kezaliman atas seluruh
alam.” وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi,
dan kepada Allah-lah segala urusan
dikembalikan” (Ali ‘Imran [3]:105-110).
Azab Ilahi yang
Mencakup Dunia
Kalau penolakan dan penentangan terhadap para Rasul Allah yang diutus sebelum
Nabi Besar Muhammad saw, mengakibatkan turunnya
azab Ilahi kepada kaum-kaum
yang kepada mereka itu para Rasul
Allah diutus, tetapi penolakan dan penentangan terhadap Nabi
Besar Muhammad saw. dan Al-Quran mengakibatkan terjadinya azab
Ilahi yang bersifat menyeluruh, sebab misi kerasulan Nabi
Besar Muhammad saw. dan juga Al-Quran adalah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ
یَفۡقَہُوۡنَ﴿﴾ وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ
لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾ لِکُلِّ نَبَاٍ
مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab
kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi
golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ --
Lihatlah bagaimana Kami membentangkan
Tanda-tanda supaya mereka mengerti. وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ
الۡحَقُّ -- Dan kaum engkau telah mendustakannya, padahal itu adalah haqq (kebenaran). قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ
-- Katakanlah: ”Aku
sekali-kali bukan penanggungjawab atas kamu.” لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu, dan kamu
segera akan mengetahui. (Al-An’ām [6]:66-68).
“Azab dari
atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan
terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan
sebagainya, dan “siksaan dari bawah”
berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan
sebagainya. Itulah makna ayat قُلۡ ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ -- “Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu.”
Kemudian makna ayat اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi
golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain” mengisyaratkan
atau menubuatkan pada hukuman (azab Ilahi) berupa kekacauan,
perpecahan-perpecahan dan perselisihan
yang kadang-kadang berakhir dalam perang
saudara yang berkepanjangan, sebagaimana yang saat ini terjadi di negara-negara Timur Tengah yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam (Muslim).
Makna al-Haqq (Kebenaran) & Saat Terjadinya Azab Ilahi yang Diperingatkan Rasul Allah
Dalam
ayat وَ کَذَّبَ
بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ -- Dan kaum
engkau telah mendustakannya,
padahal itu adalah haqq (kebenaran)”
sini kata ganti “nya” dalam
kalimat “mendustakannya” menunjuk kepada: (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata “padahal
itu adalah kebenaran” akan berarti bahwa azab Ilahi yang dijanjikan
pasti akan tiba (terjadi).
Makna
ayat selanjutnya قُلۡ لَّسۡتُ
عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ -- Katakanlah: ”Aku sekali-kali bukan
penanggungjawab atas kamu,” bahwa
Nabi Besar Muhammad saw. atas terjadinya berbagai azab Ilahi yang
terjadi tersebut “berlepas-diri” dari
tanggungjawab, sebab pada hakikatnya semua itu terjadi karena umumnya umat
Islam di Akhir Zaman ini -- terutama di kawasan Timur Tengah termasuk di Afganistan
dan Pakistan – mereka telah mendurhakai firman Allah Swt. yang dikemukakan sebelumnya dalam
QS.3:103-106), padahal mereka mendakwakan
sebagai negara-negara yang
berdasarkan ajaran Islam (Al-Quran).
Ayat لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu, dan kamu
segera akan mengetahui” berarti bahwa
Allah Swt. -- sesuai
dengan hikmah-Nya yang tidak dapat
salah itu -- telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib (nubuatan), maka azab
Ilahi yang telah dijanjikan
kepada orang-orang yang menolak kebenaran
akan datang juga pada saatnya yang
tepat.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar