Sabtu, 07 Maret 2015

Kemunculan Kembali "Zaman Jahiliyah" di Timur Tengah & Berbagai Bentuk Azab Ilahi yang Meliputi Dunia




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 72

Kemunculan Kembali “Zaman Jahiliyah” di Timur Tengah  & Berbagai Bentuk Azab Ilahi yang Meliputi Dunia
 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  persamaan antara umat Islam dengan orang-orang Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
      Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).  Jadi, jika dalam kenyataannya dewasa ini suasana  kehidupan di Dunia Muslim di kawasan Timur Tengah demikian kacau-balau karena hal tersebut membuktikan benarnya kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s.  sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi umat Islam di kawasan Timur Tengah.
       Di Akhir Zaman ini  umumnya umat Islam  sari kalangan Bani Isma’il di Timur Tengah benar-benar telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah dicampakkan (QS.25:31), sehingga mereka   -- bukan saja telah kembali berada di pinggir “lubang api    (QS.3:104) -- bahkan telah terjerumus ke dalam “lubang apineraka duniawi  yang sangat mengerikan, karena  pihak yang membantai mau pun yang dibantai adalah  sesama yang mengaku umat Islam dan  dalam melakukan perbuatannya mengatasnamakan ajaran Islam, sehingga kehormatan sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) -- yang sebelumnya disandang mereka di masa kejayaan yang pertama -- gelar mulia tersebut  sama sekali tidak tampak lagi  di kalangan mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا  -- Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali  Allah,  dan janganlah kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ  --  dan  ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain  فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,  وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ -- dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- lalu Dia menyelamatkanmu darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ   Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).

Umat Islam Kembali Berada di Tepi “Jurang Api

       Karena kedatangan saat kematian tidak diketahui, orang-orang beriman dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah  diri kepada Allah Swt. hanya bila diri mereka senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan diri kepada-Nya. Jadi ungkapan  وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ -- itu mengandung arti bahwa orang-orang beriman  harus senantiasa tetap patuh kepada Allah Swt., sebagaimana yang diperagakan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  dalam mengikuti millat (sikap beragama) Nabi Ibrahim a.s. (QS.8:162-164).
        Habl dalam ayat وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا  -- “Dan  berpegangteguhlah ka-mu sekalian pada tali  Allah,  dan janganlah kamu berpecah-belah”   berarti: seutas tali atau pengikat yang dengan itu sebuah benda diikat atau dikencangkan; suatu ikatan, suatu perjanjian atau permufakatan; suatu kewajiban yang karenanya kita menjadi bertanggung jawab untuk keselamatan seseorang atau suatu barang; persekutuan dan perlindungan (Lexicon Lane).
         Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda:  Kitab Allah itu tali Allah yang telah diulurkan dari langit ke bumi” (Tafsir Ibnu Jarir, IV, 30). Namun karena Allah Swt. tidak pernah menurunkan syariat atau Kitab suci  tanpa disertai pengutusan Rasul-Nya, karena itu pengutusan Rasul Allah pun – baik membawa wahyu syariat atau pun tidak -- merupakan bagian dari “penguluran Tali Allah  dari langit.
        Sangat sukar kita mendapatkan suatu kaum yang terpecah-belah lebih daripada orang-orang Arab sebelum  kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.   di tengah mereka, tetapi dalam pada itu sejarah umat manusia tidak dapat mengemukakan satu contoh pun terciptanya ikatan persaudaraan penuh cinta yang menjadikan orang-orang Arab  yang sebelumnya bagaikan tulang-belulang berserakan telah bersatu-padu   -- bahkan menjadi “umat terbaik” (QS.1:144; QS.3:111)   --  berkat ajaran dan teladan luhur lagi mulia Junjungan Agung mereka Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja (QS.33:22).
         Kata-kata “di tepi jurang Api” berarti peperangan, saling membinasakan yang di dalam peperangan itu orang-orang Arab senantiasa terlibat dan menghabiskan kaum pria mereka. Tetapi di Akhir Zaman ini keadaan yang sangat mengerikan tersebut kembali terjadi  --  sekali pun mereka  telah memeluk agama Islam – seakan-akan zaman jahiliyah kembali muncul di kawasan Timur Tengah.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keberadaan segolongan di kalangan umat Islam yang selalu melaksanakan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.:
وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ     یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  menyuruh kepada yang makruf,  melarang dari berbuat munkar, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ   -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  -- dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ    --  Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ  --   Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka:  اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  --  “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ     --  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:105-110).
        Al-khair dalam ayat  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ  -- “Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senan-tiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  menyuruh kepada yang makruf,  melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil,” arti  al-khair di sini Islam, sebab  kebajikan  pada umumnya tercakup dalam kata makruf yang datang segera sesudah itu.
    Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda: “Bila seseorang dari antara kamu melihat suatu kejahatan, hendaklah melenyapkan kejahatan itu dengan tangannya. Bila ia tidak dapat melenyapkan dengan tangannya, maka ia hendaknya melarang dengan lidahnya. Bila ia tidak dapat berbuat hal itu juga, maka hendaknya paling sedikit membenci di dalam hati, dan itulah iman yang paling lemah” (Muslim).

Golongan yang Mewarisi Kedudukan Sebagai  Penjaga Umat” & Allah Swt. Tidak Pernah Berlaku Zalim Kepada Umat Manusia

        Ayat وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ   -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  -- dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar  menunjuk kepada perpecahan dan perselisihan-perselisihan di tengah-tengah para Ahlul Kitab untuk menyadarkan kaum Muslimin akan bahaya ketidak-serasian dan ketidaksepakatan.
      Dalam ayat selanjutnya Al-Quran telah menerangkan warna-warna “putih” dan “hitam” sebagai lambang, masing-masing untuk “kebahagiaan” dan “kesedihan” (QS.3:107, 108; QS.75:23-25; QS.80:39-41). Bila seseorang melakukan perbuatan yang karenanya ia mendapat pujian, orang Arab mengatakan mengenai dia: ibyadhdhaha wajhuhu, yakni “wajah orang itu menjadi putih”. Dan bila ia melakukan suatu pekerjaan yang patut disesali, maka dikatakan  mengenai dia iswadda wajhuhu, yakni  wajahnya telah menjadi hitam”.
        Ungkapan bil-haqq dalam ayat  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --  “Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam”,  secara harfiah bil-haqq berarti “dengan kebenaran” dan diterjemahkan sebagai “mengandung kebenaran, dengan demikian berarti:  (1)  Tanda-tanda atau Ayat-ayat Allah Swt.  itu penuh dengan kebenaran;    (2)  Tanda-tanda telah datang secara haq, yakni “kamu mempunyai hak untuk menerima”; (3)  itulah saat yang paling tepat Ayat-ayat itu diwahyukan.
        Oleh karena itu sebelum Allah Swt.  mengutus Rasul-Nya  -- baik Rasul Allah yang  membawa syariat mau pun Rasul Allah yang tidak membawa syariat – sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan  --   Allah Swt. tidak akan menimpakan azab Ilahi kepada manusia (QS.6:132; QS.11:118;QS.17:16; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60):  وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ   -- “karena Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.” وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ     --  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan” (Ali ‘Imran [3]:105-110).

Azab Ilahi yang Mencakup Dunia

       Kalau penolakan  dan penentangan terhadap  para Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw, mengakibatkan turunnya  azab Ilahi  kepada kaum-kaum yang kepada mereka itu  para Rasul Allah diutus, tetapi penolakan dan penentangan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran mengakibatkan terjadinya azab Ilahi yang bersifat menyeluruh, sebab misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. dan juga Al-Quran adalah untuk seluruh umat  manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ﴿﴾  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾  لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu  اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ  -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ  -- Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti.  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ -- Dan  kaum engkau telah mendustakannya, padahal itu adalah haqq (kebenaran). قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ  -- Katakanlah:  ”Aku sekali-kali bukan  penanggungjawab atas kamu.”  لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ   --  Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,  dan kamu segera akan mengetahui. (Al-An’ām [6]:66-68).
 “Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya, dan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan sebagainya. Itulah makna ayat  قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ   -- “Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu.”
Kemudian makna ayat اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ  -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain  mengisyaratkan atau menubuatkan pada hukuman (azab Ilahi)  berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara yang berkepanjangan, sebagaimana yang saat ini terjadi di negara-negara Timur Tengah  yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam (Muslim).

Makna al-Haqq (Kebenaran) & Saat Terjadinya Azab Ilahi yang Diperingatkan Rasul Allah

  Dalam ayat وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ -- Dan  kaum engkau telah mendustakannya, padahal itu adalah haqq (kebenaran) sini kata ganti “nya” dalam kalimat “mendustakannya” menunjuk kepada: (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata “padahal itu adalah kebenaran” akan berarti bahwa azab  Ilahi yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi).
Makna ayat selanjutnya  قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ  -- Katakanlah:  ”Aku sekali-kali bukan  penanggungjawab atas kamu,”   bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. atas terjadinya berbagai  azab Ilahi yang terjadi tersebut  “berlepas-diri” dari tanggungjawab, sebab pada hakikatnya semua itu terjadi karena umumnya umat Islam di Akhir Zaman ini  -- terutama di kawasan Timur Tengah termasuk di Afganistan dan Pakistan – mereka telah mendurhakai firman Allah Swt.  yang dikemukakan sebelumnya dalam QS.3:103-106), padahal mereka mendakwakan sebagai negara-negara yang berdasarkan ajaran Islam (Al-Quran).
  Ayat  لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ   --  Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,  dan kamu segera akan mengetahui”   berarti bahwa  Allah  Swt.  --      sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak dapat salah itu  --  telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib (nubuatan), maka azab Ilahi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang menolak kebenaran akan datang juga pada saatnya yang tepat.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  8 Maret      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar