بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 71
Persamaan
Sayyidah Fatimah Az-Zahra r.a.
dengan Maryam binti ‘Imran r.a. dan
Hubungannya dengan As-Sā’ah (Tanda
Kiamat) Bagi Bani Israil dan Bani Isma'il .
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai keadaan Sayyidah
Fathimah az-Zahra r.a. memiliki persamaan dengan Maryam
binti ‘Imran r.a., sehingga sebagaimana
halnya hubungan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dengan Bani Israil adalah melalui perempuan, demikian pula halnya seluruh ahli bait Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan keturunan beliau saw. adalah melalui perempuan pula yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a., sekali pun beliau bersuamikan Sayyidina Abi bin Abi Thalib r.a., keponakan Nabi Besar Muhammad saw..
Mengapa demikian? Sebab sebagaimana
halnya keterkaitan (hubungan darah) Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Bani
Israil hanya melalui perempuan,
yakni ibunda beliau Maryam r.a., demikian pula keterkaitan (hubungan darah) Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – pun dengan bangsa Arab (Bani Isma’il) pun melalui perempuan,
yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.
binti Muhammad Musthafa saw..
Kedatangan Al-Masih Merupakan Tanda Saat
(Kiamat) bagi Bani Israil dan Bani Isma’il
Itulah pula sebabnya pula, sebagaimana Allah Swt. telah menyatakan bahwa pengutusan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.
yang dilahirkan tanpa ayah
dari kalangan Bani Israil sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi Bani Israil, demikian pula halnya dengan pengutusan Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
yang dibangkitkan dari kalangan umat
Islam -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. – merupakan
as-Sā’ah bagi bangsa
Arab (Bani Isma’il), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ
ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ
ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya, وَ
قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- dan
mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan
kami lebih baik ataukah dia?"
مَا ضَرَبُوۡہُ
لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ
قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ -- Mereka
tidak menyebutkan hal itu kepada engkau
melainkan perbantahan semata. Bahkan
mereka adalah kaum yang biasa berbantah.
اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan bagi Bani
Israil. وَ لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً فِی الۡاَرۡضِ
یَخۡلُفُوۡنَ -- Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara kamu sebagai penerus
di bumi. ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ
فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai Saat, maka janganlah
ragu-ragu mengenainya dan ikutilah
aku, inilah jalan lurus. وَ لَا
یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ
لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- Dan janganlah syaitan menghalang-halangi kamu,
sesungguhnya ia bagi kamu adalah musuh
yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:58-63).
Shadda
(yashuddu) dalam ayat وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ
مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- “Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya” berarti: ia menghalangi dia dari
sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan atau protes (Aqrab-al-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam
a.s. adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan
dihinakan dan direndahkan serta
akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
Kedatangan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam r.a. dari
Kalangan Umat Islam & Turunnya Para Malaikat
Erat Hubungannya dengan Pengutusan Rasul
Allah
Ayat ini, di samping arti yang diberikan dapat
pula berarti bahwa bila kaum Nabi
Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang
lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Mayam a.s,. – yakni Al-Masih Mau’ud a.s. -- akan dibangkitkan
di antara mereka untuk memperbaharui keimanan dan pemahaman agama mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka bukannya bergembira
atas kabar gembira itu malah mereka berteriak
mengajukan protes, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10)
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa
ayat ini kena untuk Al-Masih yang
dijanjikan, sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Jadi, Surah Az-Zukhruf ayat 58-59 dapat
dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan
kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
untuk kedua kalinya, dalam wujud misal
(orang yang seperti) beliau, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(Yesus Kristus) telah mengartikan pengutusan
Nabi Yahya a.s. bin Zakaria a.s.
sebelum beliau sebagai kedatangan kedua
kali Nabi Elia (Ilyas) a.s. (Maleakhi 4:4-6; Matius 11: 7-19).
Makna ayat وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ -- “Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu sebagai penerus
di bumi”, bahwa para malaikat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh
karena itu Allah Swt. senantiasa mengutus rasul-Nya dari kalangan manusia (QS.22:76) guna menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk
menjadi contoh dan teladan bagi manusia.
Bersama dengan pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia tersebut Allah Swt. mengutus
pula para malaikat untuk membantu perjuangan sucinya -- sebagai salah satu makna sujudnya para malaikat
kepada Adam (khalifah Allah –
QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29-33) -- termasuk
menyampaikan rahasia-rahasia gaib-Nya kepada Rasul
Allah (QS.72:27-29; terutama kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.42:52-54),
firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari
antara manusia, sesungguhnya Allah
Maha Mendengar, Maha Melihat. Dia mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan
(Al-Hājj
[22]:76-77).
Jadi, kepada orang yang mengatakan bahwa
silsilah pengutusan para rasul (nabi) Allah telah berakhir
(tertutup – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8), kepada mereka yang datang bukanlah
malaikat pembawa rahmat (QS.21:102-104; QS.41:31—33; QS.46:14-15),
melainkan malaikat pembawa azab Ilahi (QS.2:211;
QS.25:26-32; QS.41:14-19).
Makna "Saat"
dalam ayat ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ
لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ
بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ --
Tetapi sesungguhnya ia benar-benar
pengetahuan mengenai Saat,
maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan
lurus” (Az-Zukhruf [43]:58-63), dapat
menyatakan waktu berakhirnya syariat Nabi
Musa a.s. dan kata pengganti
hu dalam innahu dapat mengisyaratkan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau kepada Al-Quran.
Ayat ini dapat berarti pula bahwa sesudah pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dilahirkan tanpa ayah, akibat penentangan dan upaya membunuh beliau melalui penyaliban (QS.4:158-159) maka kaum Bani Israil akan kehilangan
karunia kenabian, dan syariat
lain — yaitu syariat Al-Quran — akan menggantikan syariat Nabi Musa a.s..
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai misi pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
وَ لَمَّا
جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ
ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ رَبِّیۡ
وَ رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ
ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ فَاخۡتَلَفَ
الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَیۡنِہِمۡ ۚ
فَوَیۡلٌ لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ
عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ
اِلَّا السَّاعَۃَ اَنۡ
تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ اَلۡاَخِلَّآءُ
یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ
اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Dan tatkala Isa
datang dengan Tanda-tanda yang nyata
ia berkata: "Sungguh aku datang
kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepadamu yang
mengenainya kamu berselisih, maka bertakwalah
kepada Allah dan taatlah kepadaku.
اِنَّ اللّٰہَ
ہُوَ رَبِّیۡ وَ رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ -- "Sesungguhnya Allah
Dia-lah Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus." فَاخۡتَلَفَ
الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَیۡنِہِمۡ ۚ -- Tetapi golongan-golongan
di antara mereka berselisih, فَوَیۡلٌ لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا
مِنۡ عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ -- maka celakalah bagi orang-orang zalim
karena azab hari yang pedih. ہَلۡ
یَنۡظُرُوۡنَ اِلَّا السَّاعَۃَ اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu
selain Saat yang akan datang kepada
mereka secara tiba-tiba dan mereka
tidak menyadari. اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾ -- Kawan-kawan
pada hari itu sebagian akan bermusuhan
dengan sebagian lain, kecuali
orang-orang bertakwa. (Az-Zukhruf [43]:64-68).
Pada
saat derita sengsara, segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan saling
menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh. Di tempat lain Al-Quran memberikan
penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka
diharapkan kepada akibat-akibat buruk perbuatan buruk mereka (QS.70:11-15;
QS.80:35-38).
Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Bani
Isma’il
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan
kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. atau
misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya,
dan tidak ada yang tertinggal di
dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi), sesuai firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan.” Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi
tiap-tiap nabi dari antara orang-orang
yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk
dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat 31
dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan
kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum
pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan
dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa ada sebuah hadits Nabi
Besar Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang
kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan
dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang
inilah saat yang dimaksudkan itu.
Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat
bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 ayat
ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali
Nabi Besar Muhammad saw. dalam
wujud Al-Masih Mau’ud a.s., dan
sudah merupakan Sunatullah beliau pun
akan didustakan oleh umumnya umat beragama di Akhir Zaman ini, terutama oleh umat
Islam, sehingga menambah lengkap persamaan antara umat Islam dengan orang-orang
Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ
مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
Shadda (yashuddu) berarti:
ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid). Jadi, jika dalam kenyataannya dewasa ini suasana
kehidupan di Dunia Muslim
di kawasan Timur Tengah demikian kacau-balau
karena hal tersebut membuktikan benarnya kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. sebagai
as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi umat Islam di kawasan Timur Tengah.
Di Akhir
Zaman ini umumnya umat Islam sari kalangan Bani Isma’il di Timur Tengah benar-benar telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah dicampakkan (QS.25:31), sehingga mereka -- bukan saja telah kembali berada di pinggir
“lubang api” (QS.3:104) -- bahkan telah terjerumus ke dalam “lubang api” neraka duniawi yang sangat mengerikan, karena pihak yang membantai mau pun yang dibantai
adalah sesama mengaku sebagai umat Islam
dan mengatasnamakan Islam, sehingga kehormatan sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) yang sebelumnya disandang mereka di masa kejayaan yang pertama sama sekali tidak tampak lagi di
kalangan mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا
تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ
اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ
اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ
فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ
النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati kecuali kamu
dalam keadaan berserah diri. وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا -- Dan
berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah,
وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ -- dan ingatlah
akan nikmat Allah atasmu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ -- dan kamu
dahulu berada di tepi jurang Api فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- lalu Dia menyelamatkanmu
darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ – Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 Maret
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar