Rabu, 04 Maret 2015

Persamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra r.a. dengan Maryam binti 'Imran r.a. dan Hubungannya dengan "As-Saa'ah" (Tanda Kiamat) Bagi Bani Israil dan Bani Isma'il




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 71

Persamaan Sayyidah Fatimah Az-Zahra r.a. dengan  Maryam binti ‘Imran r.a.  dan Hubungannya dengan As-Sā’ah (Tanda Kiamat)  Bagi Bani Israil dan Bani Isma'il   .
 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  keadaan  Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.   memiliki persamaan   dengan Maryam binti ‘Imran r.a.,  sehingga sebagaimana halnya hubungan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Bani Israil adalah melalui perempuan, demikian pula halnya seluruh ahli bait  Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan keturunan beliau saw. adalah melalui perempuan pula yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a.,  sekali pun beliau  bersuamikan  Sayyidina Abi bin Abi Thalib r.a., keponakan Nabi Besar Muhammad saw..  
      Mengapa demikian? Sebab sebagaimana halnya  keterkaitan (hubungan darah) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan Bani Israil hanya melalui perempuan, yakni ibunda beliau Maryam r.a., demikian pula keterkaitan (hubungan darah) Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – pun dengan bangsa Arab (Bani Isma’il) pun  melalui perempuan, yaitu Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a. binti Muhammad  Musthafa saw..

Kedatangan Al-Masih Merupakan Tanda Saat (Kiamat) bagi Bani Israil dan Bani Isma’il

         Itulah pula sebabnya  pula, sebagaimana  Allah Swt. telah menyatakan  bahwa pengutusan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.  yang dilahirkan tanpa ayah dari kalangan Bani Israil sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi Bani Israil,  demikian pula halnya dengan pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.43:58) yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam   -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.    merupakan as-Sā’ah bagi  bangsa Arab (Bani Isma’il), berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾   وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾  وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya,  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ  --  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ  -- Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil.  وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ --  Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi. ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ  -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai  Saat,  maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus.  وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ -- Dan janganlah syaitan menghalang-halangi kamu, sesungguhnya ia bagi kamu adalah musuh yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:58-63).
      Shadda (yashuddu)  dalam ayat وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  -- “Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnyaberarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan atau protes  (Aqrab-al-Mawarid).   
       Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s.   adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).

Kedatangan  Misal Nabi Isa Ibnu Maryam r.a. dari Kalangan Umat Islam & Turunnya Para Malaikat Erat Hubungannya dengan Pengutusan Rasul Allah

       Ayat ini, di samping arti yang diberikan   dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.   — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Mayam a.s,. – yakni Al-Masih Mau’ud a.s.  --   akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui keimanan dan pemahaman agama mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka  bukannya bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai.  (Ash-Shaf [61]:10)
  Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan,  sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
   Jadi, Surah Az-Zukhruf ayat 58-59  dapat dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya, dalam wujud misal (orang yang seperti) beliau, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) telah mengartikan pengutusan Nabi Yahya a.s. bin Zakaria a.s. sebelum beliau sebagai kedatangan kedua kali  Nabi Elia (Ilyas) a.s.   (Maleakhi 4:4-6; Matius 11: 7-19).
      Makna ayat وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ --  “Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi”,  bahwa para malaikat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh karena itu  Allah Swt.   senantiasa mengutus rasul-Nya dari kalangan manusia (QS.22:76) guna menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.
      Bersama dengan pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia tersebut Allah Swt. mengutus pula para malaikat untuk membantu perjuangan sucinya  -- sebagai salah satu makna sujudnya  para malaikat kepada Adam (khalifah Allah – QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29-33)   -- termasuk menyampaikan rahasia-rahasia gaib-Nya  kepada Rasul Allah (QS.72:27-29; terutama kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.42:52-54), firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.   Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:76-77).
    Jadi, kepada orang yang mengatakan bahwa silsilah pengutusan para rasul (nabi) Allah telah berakhir (tertutup – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8), kepada mereka yang datang bukanlah malaikat pembawa rahmat  (QS.21:102-104; QS.41:31—33; QS.46:14-15), melainkan malaikat pembawa azab Ilahi (QS.2:211; QS.25:26-32; QS.41:14-19).
       Makna  "Saat"  dalam ayat  ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ  -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai  Saat,  maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus”  (Az-Zukhruf [43]:58-63), dapat menyatakan waktu berakhirnya syariat Nabi Musa a.s.   dan kata pengganti hu dalam innahu dapat mengisyaratkan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  atau kepada Al-Quran.
        Ayat ini dapat berarti pula  bahwa sesudah pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dilahirkan tanpa ayah,  akibat penentangan dan upaya membunuh beliau melalui penyaliban (QS.4:158-159)  maka kaum Bani Israil akan kehilangan karunia kenabian,  dan   syariat lain — yaitu  syariat Al-Quran —   akan menggantikan syariat Nabi Musa a.s..
      Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai misi pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
وَ لَمَّا جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ  بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ  لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ  وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ رَبِّیۡ  وَ رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ  مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ فَاخۡتَلَفَ الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ  بَیۡنِہِمۡ ۚ فَوَیۡلٌ  لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Dan  tatkala Isa datang dengan Tanda-tanda yang nyata ia berkata: "Sungguh  aku datang kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepadamu yang mengenainya kamu berselisih, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. اِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ رَبِّیۡ  وَ رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ  مُّسۡتَقِیۡمٌ  --   "Sesungguhnya  Allah Dia-lah Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus."  فَاخۡتَلَفَ الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ  بَیۡنِہِمۡ ۚ --  Tetapi    golongan-golongan di antara mereka berselisih,  فَوَیۡلٌ  لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ    -- maka celakalah bagi  orang-orang zalim karena azab hari yang pedih.  ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ  --   Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu selain Saat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan mereka tidak menyadari. اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾   -- Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan bermusuhan dengan sebagian lain,  kecuali orang-orang bertakwa.  (Az-Zukhruf [43]:64-68). 
         Pada saat derita sengsara, segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan saling menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh. Di tempat lain Al-Quran memberikan penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka diharapkan kepada akibat-akibat buruk perbuatan buruk mereka (QS.70:11-15; QS.80:35-38).

Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Bani Isma’il

   Hadits Nabi Besar Muhammad  saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi), sesuai firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.”   Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
       Ayat  31   dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
        Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
     Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud  Al-Masih Mau’ud a.s.,  dan sudah merupakan Sunatullah beliau pun akan didustakan oleh  umumnya umat beragama di Akhir Zaman ini, terutama oleh umat Islam,  sehingga menambah lengkap persamaan antara umat Islam dengan orang-orang Yahudi dan Nashani seperti “persamaan sepasang sepatu”. firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan   terhadapnya, (Az-Zukhruf [43]:58).
      Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).  Jadi, jika dalam kenyataannya dewasa ini suasana  kehidupan di Dunia Muslim di kawasan Timur Tengah demikian kacau-balau karena hal tersebut membuktikan benarnya kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s.  sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat) bagi umat Islam di kawasan Timur Tengah.
         Di Akhir Zaman ini  umumnya umat Islam  sari kalangan Bani Isma’il di Timur Tengah benar-benar telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah dicampakkan (QS.25:31), sehingga mereka   -- bukan saja telah kembali berada di pinggir “lubang api    (QS.3:104) -- bahkan telah terjerumus ke dalam “lubang apineraka duniawi  yang sangat mengerikan, karena  pihak yang membantai mau pun yang dibantai adalah sesama mengaku sebagai umat Islam dan mengatasnamakan Islam, sehingga kehormatan sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) yang sebelumnya disandang mereka di masa kejayaan yang pertama sama sekali tidak tampak lagi  di kalangan mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا  -- Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali  Allah,  dan janganlah kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ  --  dan  ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain  فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,  وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ -- dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- lalu Dia menyelamatkanmu darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ   Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  4  Maret      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar